When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #23

Bab 23 - Kupu-kupu Senja

"Kamu sekarang semester berapa, Nay?" tanya Ilham tiba-tiba.

Anaya yang sejak tadi memainkan ujung paper bag di pangkuannya menoleh pelan.

"Semester lima,"

Ilham mengangguk kecil. "Gimana kuliah ekonominya? Seru, kan?"

Anaya langsung mengembuskan napas panjang dramatis hingga membuat Ilham tertawa kecil.

"Seru apanya," keluhnya pelan. "Tugasnya banyak banget. Belum dosennya killer semua. Kepala rasanya mumet terus."

"Berarti kamu masih suka begadang dong?"

Anaya mendelik kecil. "Kadang-kadang."

"Kadang-kadang atau sering?" goda Ilham.

"Kakak kok jadi cerewet sih?" Anaya terkekeh pelan.

"Ya gimana," balas Ilham santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi teras. "Dulu aja kamu gampang sakit kalau kurang tidur."

Anaya sedikit terdiam mendengar itu. Dia tidak menyangka, hal-hal kecil tentang dirinya yang bahkan sudah lama ia lupakan, ternyata masih diingat jelas oleh Ilham.

"Kakak sendiri gimana kerjaannya?" tanya Anaya, berusaha mengalihkan rasa aneh di dadanya. "Aku dengar dari Aldo, kalau Kakak kerja jadi auditor."

Ilham tertawa kecil. Dugaan itu tak jauh-jauh dari Ferdi. Pasti adiknya yang bercerita pada Aldo di sekolah.

"Capek sih," jawabnya santai. "Kadang pulang malam terus. Apalagi kalau lagi audit laporan."

"Terus Kakak betah nggak jadi auditor?"

"Betah nggak betah ya harus dijalanin," katanya santai. "Kalau nggak dijalanin, nanti aku nggak punya kerjaan. Mau makan apa kalau nganggur?"

Anaya tersenyum kecil mendengarnya. Setelah itu, suasana kembali hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan dari ujung gang dan embusan angin sore yang terdengar samar di antara mereka. Hingga akhirnya, Ilham melirik paper bag yang sejak tadi masih dipeluk Anaya.

"Oh iya, cardigannya jangan lupa dipakai." ujar Ilham pelan sambil melirik paper bag di pelukan Anaya.

Ia sedikit mendekat. Suaranya merendah pelan, seperti bisikan. "Biar nggak gampang kedinginan."

"Aku nggak selemah itu kali."

"Aku tahu." Ilham tersenyum tipis. "Tapi aku kan nggak selalu bisa langsung ke sini kalau kamu sakit. Seenggaknya aku bisa mencegah itu buat kamu."

Anaya terdiam. Jemarinya tanpa sadar semakin erat memeluk paper bag di pangkuannya, sementara dadanya kembali dipenuhi debar yang sulit dijelaskan.

"Kakak tuh ..." gumamnya pelan, bingung harus menanggapi bagaimana.

"Apa?"

"Nggak jadi." Anaya buru-buru menggeleng.

Dan tepat saat itulah, perhatian Ilham teralihkan pada sosok yang berjalan mendekat dari rumah seberang. Ilham yang menyadari ibunya datang segera berdiri dari duduknya. Anaya ikut bangkit kemudian dan melangkah pelan menyusul di belakangnya. Mereka keluar melewati pagar rumah.

"Bu ..." panggil Ilham heran.

Di sisi lain, Anaya menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk sapaan sopan kepada perempuan yang jauh lebih tua darinya.

"Bu," sapa Anaya pelan.

Mega hanya membalas dengan anggukan kecil. Wajahnya tetap datar tanpa senyum.

Ilham yang belum menyadari perubahan ekspresi ibunya langsung bertanya. "Ada apa, Bu? Kenapa Ibu kemari?"

Mega menatap putranya sebelum akhirnya menjawab tenang, "Ilham, anterin Ibu ke pasar."

Ilham tampak bingung. "Pasar? Sore-sore begini?"

"Ibu mau beli beras sama ikan," jawab Mega singkat. "Kamu mau, kan, anterin Ibu?"

Ilham terdiam sejenak. Jelas ia tidak mungkin menolak permintaan ibunya sendiri. Namun di sisi lain, ia juga belum benar-benar ingin mengakhiri waktu singkat bersama Anaya setelah tiga tahun tak bertemu. Pada akhirnya, ia hanya mengembuskan napas pelan sebelum menoleh ke arah Anaya.

"Kayaknya aku harus pergi dulu," katanya dengan nada sedikit menyesal. "Nanti kapan-kapan kita lanjut ngobrol lagi."

Anaya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. "Iya, Kak. Hati-hati."

Ilham membalas senyum itu kecil sebelum akhirnya berjalan lebih dulu menuju rumahnya. Mega menyusul di belakang. Namun sebelum benar-benar pergi, langkah perempuan itu sempat terhenti. Ia menoleh ke arah Anaya. Tatapannya kali ini jauh lebih tajam daripada sebelumnya.

"Saya nggak suka lihat kamu dekat-dekat sama anak saya."

Kalimat itu diucapkan pelan. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat senyum di wajah Anaya perlahan memudar. Mega tak menunggu jawaban apa pun. Ia langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah itu.

Tak lama kemudian, suara motor terdengar menyala dari rumah seberang. Ilham keluar sambil mengenakan helm di kepalanya, sementara Mega sudah duduk di jok belakang sambil memegang dompet kecilnya.

Sebelum motor itu melaju keluar gang, Ilham sempat menoleh ke arah Anaya. Ia tersenyum kecil. Senyum hangat yang sejak tadi terus membuat hati Anaya sulit tenang.

Kemudian, motor itu pun melaju pergi meninggalkan gang tersebut.

***

Setelah motor Ilham menghilang di ujung gang, Anaya akhirnya masuk kembali ke dalam rumah. Ia meletakkan paper bag pemberian Ilham di atas meja ruang tengah sebelum berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Tenggorokannya terasa kering sejak tadi, entah karena terlalu banyak diam atau karena jantungnya belum juga tenang setelah percakapan sore itu.

Baru saja Anaya meneguk air dari gelasnya, pintu depan terdengar terbuka. Nenek Yanti pulang. Perempuan tua itu melangkah masuk sambil membawa kantong belanja di tangannya. Pandangannya langsung jatuh pada Anaya yang berdiri di dapur, lalu beralih pada paper bag yang tergeletak di atas meja.

Anaya segera menaruh gelasnya dan menghampiri neneknya. "Nek." Ia menunduk hormat, mencium punggung tangan perempuan tua itu.

Nenek Yanti menatap cucunya sejenak sebelum kembali melirik paper bag di meja ruang tengah.

"Nay," panggilnya pelan. "Itu paper bag punya siapa?"

Anaya mengikuti arah pandang neneknya. "Oh itu?" jawabnya santai. "Punya aku, Nek. Dari Kak Ilham."

Nenek Yanti tampak diam sesaat.

"Ilham?" ulangnya pelan, seolah memastikan. "Ilham yang mana?"

"Ilham yang depan rumah, Nek,"

"Ooh ..." gumam Yanti pelan. "Dia udah pulang dari Bandung?"

"Udah. Baru tadi datang ke sini."

Lihat selengkapnya