When Fate Brought Us Together

Raffa Akbar
Chapter #24

Bab 24 - Rasa yang Tak Punya Nama

"Udah nggak apa-apa, kan?" tanya Zainal pelan.

Anaya mengangguk kecil sambil merapikan duduknya. "Udah, Pak. Saya udah mendingan."

Zainal memperhatikannya beberapa detik, memastikan wajah pucat itu tidak separah yang ia pikirkan tadi. Setelah yakin Anaya benar-benar baik-baik saja, barulah ia berdiri dari kursinya.

Ia menyelipkan satu tangannya ke saku celana sebelum kembali berkata, "Istirahat aja dulu. Nanti lanjut lagi." Nada suaranya tetap tenang, tetapi terdengar jelas penuh kehangatan.

Anaya mengangguk kecil. Saat Zainal berdiri dari kursinya, Anaya ikut bangkit pelan secara refleks. Namun baru saja kedua kakinya menapak sempurna, tubuhnya sedikit goyah karena pegal yang masih menjalar di betis.

"Eh—"

Zainal dengan sigap menahan lengan Anaya sebelum gadis itu benar-benar kehilangan keseimbangan.

"Pelan-pelan," ujarnya rendah.

Anaya langsung menahan napas kecil. Wajahnya tampak sedikit salah tingkah.

"Maaf, Pak," gumamnya pelan. "Kaki saya masih agak kebas."

Zainal menatapnya sebentar sebelum akhirnya melepas pegangannya perlahan.

"Makanya jangan dipaksa berdiri dulu."

Anaya tersenyum kecil sambil menundukkan pandangan. Sejenak, suasana di sekitar meja kasir itu terasa lebih tenang dari biasanya. Zainal sempat melirik Anaya sekali lagi yang masih berdiri sambil memijat pelan pergelangan kakinya.

"Kamu duduk aja dulu," ujarnya pelan. "Nggak usah buru-buru berdiri."

Anaya mengangguk kecil. "Iya, Pak."

Barulah setelah itu Zainal berjalan meninggalkan meja kasir menuju area dapur, sementara Anaya perlahan kembali duduk di kursinya. Tatapannya jatuh pada gelas kosong di atas meja. Entah kenapa dadanya terasa sedikit hangat.

Di sisi lain, suasana dapur jauh lebih berantakan dibanding area depan restoran. Beberapa piring kotor masih menumpuk di dekat wastafel, sementara suara kipas angin tua terdengar berdecit pelan di sudut ruangan.

Cipto tampak sedang beristirahat seadanya. Dia duduk selonjoran di lantai, bersandar di bawah meja stainless sambil mengipas-ngipas wajah dengan serbet kecil. Begitu melihat Zainal masuk, dia langsung buru-buru berdiri.

"Eh, Pak Zain."

Zainal mengangkat satu tangan kecil, memberi isyarat agar dia bersikap santai.

"Cipto," panggil Zainal kemudian.

"Iya, Pak?"

Zainal menggerakkan tangannya pelan, memberi isyarat agar Cipto mendekat.

"Sini bentar."

Begitu Cipto sudah berdiri di dekatnya, Zainal sedikit menurunkan suara. "Kamu tahu tempat makan di sekitar sini?"

Cipto mengernyit bingung. "Tempat makan yang gimana, Pak?"

"Kayak kaki lima gitu,"

"Oh, banyak sih, Pak," Cipto langsung mengangguk. "Keluar dari sini belok kiri, terus lurus sampai mentok, habis itu belok kiri lagi, terus nyebrang—"

"Stop."

Cipto langsung terdiam.

"Nggak usah dijelasin sepanjang itu," Zainal terkekeh kecil. "Dekat atau jauh dari sini?"

Cipto berpikir sebentar. "Nggak begitu jauh sih, Pak,"

Zainal mengangguk pelan. "Kalau ke sana jam segini masih buka?"

"Masih," Cipto mengangguk mantap. "Biasanya sampai dini hari,"

"Kalau habis beres-beres terus ke sana, masih sempat?"

"Kalau itu mah sempat, Pak."

Zainal kembali mengangguk kecil, seolah baru saja memastikan sesuatu dalam pikirannya.

"Oke."

Zainal berpikir sejenak setelah mendengar jawaban Cipto. Kalau memang masih sempat, berarti tidak ada alasan untuk menundanya.

"Ya udah," putusnya akhirnya. "Kalau gitu kita beres-beres sekarang aja."

Cipto mengangguk meski masih tampak bingung. Sementara itu, Zainal menoleh ke sana kemari seolah mencari seseorang. Tatapannya akhirnya berhenti ke arah pintu dapur saat melihat Baldi baru keluar dari area gudang bersama Lita.

"Bal," panggilnya.

Baldi langsung menoleh.

"Iya?"

"Ke sini bentar."

Baldi berjalan masuk ke dapur, sementara Lita hanya melirik sekilas sebelum memilih melanjutkan langkahnya ke area kasir menghampiri Anaya yang masih duduk beristirahat.

"Ada apaan, Zain?" tanya Baldi begitu sampai.

Zainal tidak langsung menjawab. Ia melirik sekeliling dapur sebentar sebelum berkata,

"Kita beres-beres sekarang aja."

Baldi mengernyit kecil.

"Sekarang?"

"Ya, sekarang. Abis semuanya bersih dan beres, baru kita ke angkringan." Zainal tersenyum tipis.

"Hah? Ke angkringan?"

"Iya. Kita semua makan bareng ke angkringan."

Baldi akhirnya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. Sedangkan Zainal hanya tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara lagi, Baldi langsung bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian.

"Lita! Anaya! Sini dulu."

Lita dan Anaya yang mendengar panggilan itu segera masuk ke dapur.

"Ada apa, Mas?" tanya Lita.

Baldi melirik satu per satu wajah di hadapannya sebelum berkata, "Istirahatnya udah cukup. Kita beres-beres sekarang."

Lita mengernyit. Baldi sengaja diam beberapa saat sebelum akhirnya menunjuk ke arah Zainal dengan dagunya.

"Soalnya Pak Zain mau ngajak kita makan."

Semua langsung menoleh ke arah Zainal.

"Hah?" Lita membulatkan mata.

"Makan?" gumam Anaya. Ia tampak sedikit terkejut.

"Iya." Zainal mengangguk santai. "Jadi kalau mau makan, restorannya diberesin dulu."

Baldi langsung terkekeh. "Tuh, dengar sendiri."

Cipto yang tadinya terlihat lelah langsung berdiri lebih tegak. "Kalau gitu ayo beres-beres sekarang."

Tidak lama berselang, seluruh restoran kembali sibuk. Kursi-kursi mulai diangkat ke atas meja. Lita membereskan area depan bersama Anaya, sementara Baldi dan Cipto mulai merapikan dapur.

Di tengah kesibukan itu, Zainal juga ikut turun tangan. Beberapa kali ia terlihat memindahkan kursi, mengangkat kardus persediaan yang masih tertinggal di sudut ruangan, lalu membantu merapikan area yang belum sempat disentuh siapa pun. Tidak ada yang merasa aneh. Mereka sudah terbiasa melihatnya seperti itu.

Anaya sendiri sedang sibuk mengelap meja dekat jendela ketika tanpa sengaja pandangannya menangkap sosok Zainal di seberang ruangan. Pria itu baru saja menurunkan beberapa kardus dari tangannya sebelum kembali membantu memindahkan yang lain.

Kemeja yang sejak tadi dikenakannya kini sedikit tergulung sampai siku. Beberapa helai rambutnya yang biasanya selalu rapi mulai jatuh ke dahi setelah terus bergerak ke sana kemari membantu membereskan restoran.

Zainal baru saja mengangkat satu kursi ke atas meja ketika Baldi melemparkan sesuatu kepadanya dari arah dapur. Tanpa kesulitan, pria itu menangkapnya dengan satu tangan lalu melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Tidak ada yang luar biasa. Setidaknya seharusnya begitu. Namun entah sejak kapan, pandangan Anaya beberapa kali kembali jatuh ke arah yang sama.

Ia melihat bagaimana Zainal berpindah dari satu meja ke meja lain tanpa banyak bicara. Sesekali membantu menggeser meja, lalu beberapa menit kemudian sudah berada di dekat dapur membantu Cipto membereskan barang-barang. Dan anehnya, justru itu yang membuat Anaya memperhatikannya lebih lama dari biasanya.

Selama ini, Zainal selalu berada di ruang kerja. Duduk di balik meja, memeriksa laporan, menerima telepon, atau mengurus hal-hal lain. Mungkin karena itu, baru malam ini Anaya menyadari sesuatu. Zainal tampak berkharisma. Pikiran itu datang begitu saja hingga membuatnya sendiri sedikit terdiam.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan penampilan pria itu sebelumnya. Tidak pernah memperhatikan bagaimana ia tertawa bersama Baldi, menggulung lengan kemejanya saat bekerja, atau turun tangan sendiri tanpa menjaga jarak dengan pegawai lain.

Seolah selama ini otaknya secara otomatis hanya memberi satu label. Zainal hanya atasan. Hanya itu. Namun malam ini, label itu terasa sedikit bergeser. Dan kesadaran itu membuat Anaya buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke meja yang sedang dibersihkannya.

Namun beberapa saat kemudian, ketika ia berjalan membawa lap menuju meja berikutnya, langkahnya dan langkah Zainal tanpa sengaja bertemu di lorong sempit antara dua deret meja.

Keduanya sama-sama berhenti. Hanya sepersekian detik. Zainal langsung bergeser memberi jalan lebih dulu. Anaya mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih sebelum lewat di sampingnya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat Anaya menangkap samar aroma parfum dan kopi yang menempel pada pria itu. Hal kecil yang seharusnya tidak penting. Namun entah kenapa justru terekam jelas di kepalanya.

Di belakangnya, Zainal sempat menoleh sekilas. Tatapannya mengikuti langkah Anaya beberapa saat sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Tidak ada yang mengatakan apa pun. Tidak ada yang menyadari apa pun. Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Anaya melanjutkan mengelap beberapa meja terakhir di area dekat jendela. Sesekali ia harus berdiri berjinjit untuk merapikan hiasan kecil yang diletakkan di rak dinding.

Di sisi lain restoran, Zainal sedang membantu menyusun pot bunga plastik. Pekerjaan itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan Anaya. Namun entah sejak kapan, pandangannya beberapa kali tanpa sadar mencari sosok gadis itu di antara meja-meja restoran.

Hanya sekilas. Memastikan ia masih di sana. Masih baik-baik saja. Masih bekerja seperti biasa. Setelah menyadari apa yang dilakukannya, Zainal bahkan sempat menggeleng kecil pada dirinya sendiri sebelum kembali merapikan pot berikutnya.

Di sisi lain, Anaya baru saja selesai merapikan satu meja ketika menyadari lap yang biasa digunakannya tidak ada. Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Tadi masih ada. Ke mana, ya?

Belum sempat mencarinya lebih jauh, sebuah lap terlipat rapi tiba-tiba diletakkan di atas meja di dekatnya. Anaya menoleh.

Zainal sudah berjalan menjauh sambil membawa ember di tangannya.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada ucapan apa pun. Seolah itu hal yang biasa. Namun Anaya tahu, bahwa Zainal lah orang yang menaruh lap itu di dekatnya.

Anaya menatap lap tersebut sebentar. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil. "Makasih, Pak," ucapnya pelan. Mungkin terlalu pelan.

Karena Zainal tidak menoleh, atau mungkin ... dia memang mendengarnya dan memilih pura-pura tidak dengar.

Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka hampir selesai. Restoran yang tadi berantakan kini lebih rapi.

Anaya sedang menata ulang buku menu di dekat meja kasir ketika seseorang meletakkan tumpukan buku menu terakhir tepat di samping miliknya.

Ia menoleh. Zainal lagi. Kali ini pandangan mereka bertemu lebih lama dari biasanya. Tidak sampai membuat suasana canggung. Hanya cukup lama untuk saling memahami bahwa mereka berdua sama-sama lelah. Dan entah kenapa, memahami itu terasa menyenangkan.

Zainal mengangguk kecil. Anaya membalas dengan anggukan yang sama. Lalu mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.

Tak butuh waktu lama sampai seluruh area restoran akhirnya kembali rapi. Meja-meja sudah bersih, kursi-kursi tersusun pada tempatnya, dan peralatan dapur yang tadi berserakan kini kembali tertata.

Zainal melirik jam tangannya sebentar sebelum mengambil dompetnya yang tergeletak di atas meja kasir. "Udah selesai semua?"

"Udah, Pak," jawab mereka hampir bersamaan.

"Ya udah."

Semua spontan menoleh ke arahnya. Zainal menyelipkan dompet ke saku celana. "Ayo jalan."

Cipto tampak bingung. "Sekarang, Pak?"

"Iya sekarang." Sudut bibir Zainal terangkat tipis. "Nanti keburu ngantuk. Masih pada kuat, kan?"

Lita langsung tertawa kecil. "Masih, Pak."

Baldi menggeleng sambil terkekeh pelan. "Yaudah, ayo sebelum Pak Zain berubah pikiran."

Lihat selengkapnya