Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan jalanan di luar. Cahaya lampu kota sesekali menyusup melalui kaca jendela, menyapu wajah Zainal yang tetap fokus pada kemudi. Tangannya mantap menggenggam setir, sementara pandangannya lurus ke depan, seolah hiruk-pikuk di luar hanyalah bayangan yang lewat tanpa perlu diperhatikan.
Di kursi penumpang, Anaya duduk diam. Sesekali matanya mengikuti deretan kendaraan yang melintas di luar jendela sebelum kembali menatap ke depan.
Keheningan yang mengisi ruang di antara mereka tidak terasa canggung. Justru sebaliknya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, sesuatu yang membuat perjalanan malam itu terasa lebih nyaman dari yang seharusnya. Hingga akhirnya Anaya menoleh sedikit.
"Pak Zain," panggilnya pelan.
Zainal melirik sekilas tanpa benar-benar mengalihkan perhatiannya dari jalan.
"Makasih ya, Pak. Tadi sudah ditraktir makan."
"Sama-sama." Zainal mengangguk ringan.
Mobil terus melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang. Beberapa saat berlalu sebelum Zainal kembali membuka percakapan.
"Enak satenya?"
Anaya mengangguk. "Enak, Pak. Bumbunya pas. Gurihnya juga nggak berlebihan."
Mendengar itu, ekspresi Zainal sedikit melunak. "Beneran?" tanyanya sambil melirik sekilas. "Bagus kalau begitu. Saya sempat khawatir rasanya nggak cocok. Soalnya, saya jarang makan di angkringan."
Anaya tersenyum kecil. "Memangnya Pak Zain biasa makan di mana?"
"Di rumah. Saya biasa masak sendiri."
Mobil melambat ketika lampu lalu lintas berubah merah. Untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, Zainal menoleh lebih lama ke arahnya.
"Kamu bisa masak, Anaya?"
Nada suaranya terdengar lebih hangat. Tidak terlalu kentara, tetapi cukup membuat pertanyaan itu terasa berbeda.
Anaya mengangguk. "Lumayan bisa, Pak."
Alis Zainal sedikit terangkat. "Bisa masak apa saja?"
Anaya tertawa kecil. "Masakan sederhana saja, Pak."
"Berarti sering masak?"
"Iya. Dari dulu memang sering masak."
Lampu lalu lintas kembali hijau. Mobil bergerak mengikuti arus kendaraan di depan. Dari radio terdengar alunan musik pelan yang nyaris tenggelam oleh percakapan mereka.
"Kalau Pak Zain sendiri?" tanya Anaya setelah beberapa saat. "Bisa masak apa saja?"
"Saya?" Zainal tersenyum tipis.
"Iya."
"Saya bisa masak apa saja."
Anaya langsung menoleh. "Yang serius, Pak?"
Terdengar tawa pelan dari Zainal. "Serius." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Masakan Nusantara bisa, Western apalagi."
Anaya terlihat semakin penasaran. "Bapak masak apa kalau Western?"
"Masakan Italia."
"Italia?"
"Iya."
Anaya menatapnya sesaat. "Berarti Pak Zain bisa bikin pasta?"
"Bisa."
"Pizza?"
"Bisa."
"Lasagna?"
Kali ini Zainal menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu lagi ngetes saya?"
Anaya langsung salah tingkah. "Nggak, Pak. Cuma pengen tahu saja."
Tawa kecil yang keluar darinya terdengar canggung sekaligus jujur. Zainal kembali mengarahkan pandangannya ke jalan.
"Bisa. Lasagna juga bisa."
"Oh. Lasagna ..."
Anaya mengangguk pelan. Ia mengulang kata itu seperti gumaman, seakan sedang membayangkan makanan yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita atau gambar. Namun rupanya Zainal mendengarnya. Pria itu melirik sekilas ke arahnya.
"Kamu mau saya buatin lasagna?"
Anaya langsung menoleh. "Hah?"
"Saya tanya, kamu mau saya buatin lasagna?"
Kedua mata Anaya sedikit membulat. "Bapak mau buatin saya lasagna?" Nada tidak percayanya begitu jelas hingga membuat Zainal menahan senyum.
"Kalau kamu mau."
Jawabannya sederhana. Tidak terdengar seperti basa-basi. Justru karena disampaikan dengan santai, tawaran itu terasa lebih sungguh-sungguh.
Anaya sempat terdiam. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Tidak banyak orang yang pernah menawarkan hal seperti itu kepadanya, apalagi dengan nada senatural seseorang yang sedang menawarkan segelas air minum.
"Makasih, Pak," ujarnya akhirnya. "Tapi nggak usah repot-repot."
"Merepotkan dari mana?" balas Zainal santai. "Saya juga masak buat diri sendiri. Kalau cuma nambah satu porsi, sama sekali nggak masalah." Ia lalu mengangkat bahu tipis. "Tapi kalau kamu memang enggak mau, ya sudah. Saya nggak akan maksa."
Keheningan kembali mengisi mobil. Lampu-lampu jalan bergantian melintas di balik kaca jendela, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di dalam kabin. Beberapa saat kemudian, Zainal kembali membuka percakapan.
"Oh ya, Anaya. Kamu sudah punya nomor saya belum?"
Anaya menoleh. "Belum, Pak."
Zainal tampak sedikit heran. "Masa? Baldi nggak pernah kasih ke kamu?"
Anaya menggeleng. "Enggak, Pak."
"Kamu juga nggak pernah minta?"
"Enggak."
"Kalau begitu simpan nomor saya."
Anaya terdiam sesaat.
"Nanti kalau ada apa-apa, misalnya kamu berhalangan hadir, ada urusan mendadak, atau keadaan darurat, kamu bisa langsung hubungi saya."
Anaya mengangguk, tetapi tetap merasa sedikit heran. Selama ini, urusan pekerjaan biasanya selalu melalui Baldi. Mungkin karena ekspresinya terlalu mudah dibaca, Zainal melirik sekilas ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Zainal.
"Nggak, Pak. Saya cuma mikir, biasanya kalau ada apa-apa saya hubungi Mas Baldi."
Zainal mengangguk. "Kamu bisa tetap hubungi Baldi seperti biasanya. Tapi ada kalanya saya menyuruh dia mengurus hal lain. Saya nggak mau kalau ada keadaan mendesak lalu kamu nggak tahu harus menghubungi siapa."
Ia berhenti sejenak. "Lagipula, saya yang bertanggung jawab atas kalian. Jadi nggak ada salahnya simpan nomor saya, kan?"
"E-enggak sih Pak."
Mobil terus melaju membelah jalanan malam.
"Kamu bawa telepon?"
Anaya mengangguk. "Bawa, Pak."
"Catat nomor saya."
Anaya merogoh tas di pangkuannya lalu mengeluarkan ponsel. Zainal mulai menyebutkan deretan angka satu per satu. Anaya mencatatnya dengan saksama, sesekali meminta pria itu mengulang untuk memastikan tidak ada angka yang terlewat. Kontak itu akhirnya tersimpan.
"Sudah, Pak."