"Coba saya tanya, apa yang terjadi kalau sebuah bank besar tiba-tiba bangkrut?"
Beberapa mahasiswa saling berpandangan. Tak ada yang langsung menjawab.
"Tidak ada yang tahu?"
"Nasabah kehilangan uangnya, Pak?" sahut seseorang dari barisan tengah.
"Sebagian benar. Tapi dampaknya jauh lebih besar dari itu."
Suara dosen menggema pelan di dalam ruang kuliah yang mulai tenang. Spidol di tangannya bergerak cepat menuliskan dua kata di papan tulis. Krisis Keuangan Global.
Pagi itu mata kuliah Ekonomi Makro berlangsung seperti biasa. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi di sisi ruangan, sementara deretan kipas angin tua berputar lambat di langit-langit.
Beberapa mahasiswa sibuk mencatat, sebagian lainnya hanya memperhatikan layar proyektor yang menampilkan grafik pertumbuhan ekonomi dunia. Anaya duduk di baris ketiga dekat jendela. Buku catatannya terbuka lebar di atas meja, penuh dengan tulisan-tulisan kecil yang disusunnya dengan rapi.
"Krisis tahun 2008 mengajarkan satu hal," lanjut dosen. "Ekonomi bukan hanya soal angka di atas kertas. Ketika satu sektor jatuh, sektor lain bisa ikut terdampak."
Anaya mengangkat pena dan kembali menulis. Di sekelilingnya terdengar suara lembaran kertas dibalik dan ketukan pulpen dari mahasiswa yang mulai kehilangan fokus.
Dosen berjalan perlahan di depan kelas. Tatapannya menyapu seluruh ruangan seperti sedang mencari mangsa. "Baik. Kita sudah membahas dampak krisis global terhadap Indonesia."
Suasana yang semula santai mendadak berubah. Beberapa mahasiswa langsung menunduk dan berpura-pura sibuk mencatat, tidak mau menjadi korban dosen killer itu.
"Coba kalian jawab. Kalau perusahaan mulai mengurangi jumlah pekerja karena krisis, apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Daya beli masyarakat turun, Pak," jawab seorang mahasiswa dari barisan depan.
"Benar."
Dosen mengangguk sambil menggambar sebuah lingkaran besar di papan tulis.
"Ketika daya beli turun, penjualan turun. Ketika penjualan turun, produksi berkurang. Ketika produksi berkurang, perusahaan kembali melakukan penghematan." Spidolnya berhenti. "Ini yang disebut efek berantai."
Beliau menoleh ke arah mahasiswa. "Nah, sekarang saya akan bertanya."
Beberapa mahasiswa langsung menegakkan badan.
"Jika Anda menjadi Menteri Keuangan Indonesia saat krisis terjadi, apa kebijakan pertama yang akan Anda ambil untuk menjaga pertumbuhan ekonomi?"
Ruangan mendadak sunyi. Tak seorang pun berani mengangkat tangan. Yang terdengar hanya dengungan kipas angin tua di langit-langit dan suara spidol yang sesekali diketukkan pelan ke telapak tangan dosen. Beberapa mahasiswa saling melirik, berharap ada orang lain yang lebih dulu menjawab.
Dosen tersenyum tipis. "Menarik. Ternyata lebih mudah mengkritik pemerintah daripada menjadi pemerintah."
Tawa kecil yang terdengar justru terasa gugup.
"Baiklah. Karena tidak ada yang bersedia menjawab, saya yang akan memilih."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti di dekat jendela.
"Saudari yang di baris ketiga. Siapa namanya?"
Anaya menghentikan gerakan penanya, lalu mengangkat kepala.
"Nama saya Anaya, Pak."
"Silakan berdiri."
Anaya bangkit dari kursinya. Dosen menatapnya beberapa saat sebelum berkata dengan nada datar,
"Anggap Anda adalah seorang Menteri Keuangan. Apa keputusan pertama yang akan Anda ambil untuk menjaga pertumbuhan ekonomi saat krisis terjadi?"
Anaya terdiam beberapa saat. Jarinya masih menggenggam pena. Ujung pena itu diketukkannya pelan ke permukaan meja satu kali, bukan karena gugup, melainkan karena sedang menyusun urutan pikirannya.
Ruangan terasa semakin sunyi. Beberapa mahasiswa yang tadi masih sibuk mencatat kini mulai mengalihkan perhatian kepadanya.
Anaya mengangkat kepala. "Kalau saya menjadi Menteri Keuangan Indonesia pada saat krisis terjadi, Pak ... langkah pertama yang saya lakukan bukan langsung membuat kebijakan. Menurut saya, sebelum mengambil keputusan, pemerintah harus memahami lebih dulu bagian mana dari perekonomian yang sedang mengalami gangguan paling besar. Karena kalau diagnosisnya keliru, kebijakan yang diambil bisa menghabiskan anggaran, tetapi dampaknya tidak menyelesaikan akar masalah."
Dosen tidak menyela. Tatapannya justru semakin lekat memperhatikan, seakan sedang menilainya secara keseluruhan.
"Krisis bukan sekadar pertumbuhan ekonomi yang melambat. Krisis terjadi ketika hubungan antar sektor ekonomi mulai terganggu. Ketika ketidakpastian meningkat, sektor keuangan biasanya bereaksi lebih dulu. Bank menjadi lebih selektif menyalurkan kredit karena risiko gagal bayar meningkat. Dari sudut pandang perbankan, keputusan itu wajar sebagai bentuk manajemen risiko. Tetapi dari sisi perekonomian, dampaknya mulai menyebar. Perusahaan yang sebenarnya masih memiliki prospek usaha menjadi lebih sulit memperoleh pembiayaan. Akibatnya mereka menunda investasi, mengurangi kapasitas produksi, bahkan mulai melakukan efisiensi biaya agar arus kas tetap terjaga. Ketika perusahaan mulai menekan biaya, kesempatan kerja ikut berkurang. Pendapatan rumah tangga menjadi tidak pasti. Akhirnya masyarakat menahan konsumsi, terutama untuk kebutuhan yang bukan prioritas."
Ia menatap dosen sesaat. "Padahal konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Kalau konsumsi melemah, penjualan perusahaan kembali turun. Produksi kembali dikurangi. Permintaan kredit ikut menurun. Pada akhirnya, pelemahan itu kembali lagi ke sektor keuangan."
Ia menggeleng pelan. "Artinya, satu masalah mulai menciptakan masalah berikutnya. Kalau kondisi seperti itu dibiarkan, yang terjadi bukan lagi perlambatan biasa ... melainkan kontraksi yang terus berulang karena setiap sektor saling memperlemah sektor lainnya."
Anaya menghela napas pelan sebelum melanjutkan. "Karena itu, menurut saya, kebijakan pertama bukan mengejar pertumbuhan ekonomi. Tetapi, menghentikan penyebaran kontraksi. Maka, langkah awal yang saya pilih adalah menjaga stabilitas sistem keuangan. Alasannya bukan karena sektor keuangan lebih penting dibanding sektor lain. Tetapi karena sektor inilah yang mengalirkan pembiayaan ke hampir seluruh aktivitas ekonomi."
Ia berbicara semakin mantap. "Likuiditas perbankan harus tetap terjaga agar bank mampu memenuhi kebutuhan dananya serta tetap menjalankan fungsi intermediasi. Penyaluran kredit juga perlu dipertahankan, terutama kepada sektor produktif yang masih layak dan banyak menyerap tenaga kerja, supaya kegiatan ekonomi tidak berhenti hanya karena kekurangan pembiayaan. Di saat yang sama, perlindungan terhadap simpanan masyarakat juga harus diperkuat agar tidak terjadi penarikan dana secara besar-besaran yang justru dapat memperburuk kondisi sistem keuangan."
Anaya berhenti sebentar, sebelum kembali melanjutkan. "Setelah fondasi itu mulai stabil, barulah kebijakan fiskal dijalankan. Tetapi menurut saya, bukan dengan membelanjakan anggaran sebesar mungkin. Karena kemampuan fiskal negara juga memiliki batas. Anggaran justru harus ditempatkan pada sektor yang memberikan dampak paling luas terhadap aktivitas ekonomi."
Disela-sela itu, Anaya menunjukkan jari telunjuknya sebagai contoh. "Misalnya menjaga konsumsi dasar masyarakat berpendapatan rendah, membantu UMKM yang masih memiliki usaha produktif, serta mempercepat belanja pemerintah yang memang telah direncanakan. Kelompok-kelompok tersebut cenderung langsung membelanjakan kembali pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari. Artinya, uang yang dikeluarkan negara tidak berhenti di satu pihak saja, tetapi kembali berputar menjadi permintaan bagi pelaku usaha lain. Menurut saya, itu lebih efisien dibanding memberikan stimulus yang terlalu luas tetapi tidak tepat sasaran."
Anaya menatap papan tulis kosong di depan kelas. "Satu hal lagi yang menurut saya penting. Sejak awal, pemerintah juga harus memiliki exit strategy. Kebijakan darurat sebaiknya tidak berlangsung tanpa batas waktu. Harus ada indikator yang jelas kapan stimulus mulai dikurangi secara bertahap setelah kondisi ekonomi membaik. Negara memang harus hadir ketika krisis. Tetapi negara juga harus tahu kapan memberi ruang agar aktivitas ekonomi kembali berjalan secara mandiri."
Anaya terdiam sejenak. Baru kemudian ia mengangkat pandangannya kepada dosen.
"Kalau saya sederhanakan, Pak ... saya tidak melihat krisis sebagai satu masalah yang berdiri sendiri. Menurut saya, krisis adalah beberapa sistem yang saling terhubung. Karena itu, tugas pertama pemerintah bukan memaksa ekonomi tumbuh secepat mungkin. Melainkan menghentikan penyebaran kerusakan agar tidak semakin luas. Kalau aliran pembiayaan tetap berjalan, perusahaan masih bisa berproduksi. Kalau perusahaan tetap berproduksi, masyarakat masih memiliki pekerjaan. Kalau masyarakat masih memiliki pendapatan, konsumsi tetap bergerak. Dan ketika konsumsi tetap bergerak, pemulihan ekonomi akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar mengejar angka pertumbuhan."
Dosen tidak langsung berbicara. Tatapannya masih tertuju pada Anaya, lalu kembali ke papan tulis yang dipenuhi coretan itu. Beberapa saat telah berlalu dalam keheningan. Kemudian beliau mengambil satu langkah mendekat.
"Saudari Anaya."
"Iya, Pak?"
"Coba jangan hanya dijelaskan." Beliau menunjuk papan tulis yang masih menyisakan ruang kosong. "Gambarkan bagaimana cara Anda melihat krisis itu. Anggap saya tidak mengerti apa pun. Buat saya memahami cara berpikir Anda."
Beberapa mahasiswa langsung saling berpandangan. Ada yang menutup buku. Ada pula yang buru-buru menyiapkan halaman kosong untuk mencatat.
Anaya mengangguk pelan. "Baik, Pak." Ia menerima spidol yang disodorkan dosen.
Sesaat Anaya berdiri menghadap papan tulis. Tangannya belum bergerak. Tatapannya menyusuri permukaan papan yang putih bersih dari kiri ke kanan, seolah sedang mengukur ruang yang tersedia. Bibirnya terkatup rapat. Di dalam benaknya, susunan gambar itu sudah terbentuk lebih dulu sebelum satu pun garis dibuat.
Barulah ujung spidol menyentuh papan. Dengan satu gerakan perlahan, ia menggambar sebuah lingkaran besar hampir seukuran bola basket tepat di bagian tengah papan. Lingkaran itu sengaja ia letakkan di pusat, menyisakan ruang yang cukup lebar di sisi kiri, kanan, dan bagian bawah.
Di samping lingkaran tersebut, ia menulis cukup besar, Guncangan Ekonomi / Krisis.
"Titik awalnya saya letakkan di sini, Pak."
Ia mengetukkan pelan ujung spidol ke tengah lingkaran. "Karena menurut saya, apa pun penyebab krisisnya, semuanya berawal dari satu guncangan."
Tanpa menghapus lingkaran itu dari pandangannya, ia menarik tiga garis panjang yang menyebar seperti jari-jari roda. Garis pertama condong ke kiri atas, garis kedua ke kanan atas, sedangkan garis ketiga mengarah lurus ke bawah.
"Dalam kondisi normal, sektor-sektor ekonomi saling menopang." Spidolnya berhenti di ujung garis sebelah kiri. Di sana ia menggambar sebuah kotak dengan ukuran sedang, lalu menuliskan, Sektor Keuangan.
Di bawah judul itu, ia membuat tiga cabang kecil yang tersusun vertikal. Bank, Kredit, Likuiditas. Jarak antar cabang dibuat cukup renggang sehingga mudah dibaca dari bangku paling belakang.
"Yang pertama biasanya bereaksi adalah sektor keuangan." Ujung spidol mengetuk tulisan Bank. "Begitu ketidakpastian meningkat, bank akan lebih berhati-hati."
Ia menggeser spidol ke tulisan Kredit, menarik sebuah panah kecil yang mengarah ke bawah.
"Akibatnya, penyaluran kredit mulai melambat."
Tanpa banyak jeda, ia berpindah ke sisi kanan papan. Kotak kedua digambar hampir sejajar dengan kotak pertama sehingga membentuk keseimbangan di kedua sisi lingkaran utama. Di dalamnya ia menulis, Sektor Riil. Di bawahnya kembali muncul tiga cabang. Produksi, Investasi, Tenaga kerja.
"Kalau pembiayaan mulai sulit diperoleh, perusahaan akan mengurangi produksi." Ia menarik garis pendek menuju kata Produksi. Panah berikutnya mengarah ke Investasi. "Alhasil, ekspansi ditunda." Panah terakhir menuju Tenaga Kerja. "Kalau tekanan berlangsung lebih lama, perusahaan mulai melakukan efisiensi tenaga kerja."
Kini hampir separuh papan sudah terisi. Namun Anaya belum berhenti. Ia menurunkan spidol ke bagian bawah lingkaran utama. Sebuah kotak ketiga perlahan terbentuk, posisinya tepat di bawah dua kotak sebelumnya sehingga ketiganya membentuk segitiga.
Di dalam kotak itu ia menulis, Rumah Tangga. Lalu dua cabang kecil di bawahnya. Pendapatan dan Konsumsi.
"Pada tahap ini, masyarakat mulai mengubah perilakunya." Ujung spidol melingkari kata Konsumsi hingga membentuk lingkaran tipis. "Bukan karena mereka tidak ingin membeli. Tetapi karena mereka harus memilih. Mereka mendahulukan kebutuhan pokok. Yang bisa ditunda ... akan ditunda."
Semua mahasiswa mulai mengikuti arah panah yang digambar Anaya. Melihat itu, Anaya kembali menghadap papan. Ia menghubungkan ketiga kotak tadi dengan garis lengkung yang saling menyambung. Garis pertama menghubungkan sektor keuangan ke sektor riil. Garis kedua menuju rumah tangga. Garis terakhir kembali lagi ke sektor keuangan.
Ketiga garis itu membentuk lingkaran besar yang mengelilingi seluruh gambar. Ia lalu menambahkan tanda panah di setiap sambungan sehingga alurnya membentuk putaran yang terus berulang.
"Nah, di sinilah menurut saya inti krisis. Banyak orang melihatnya sebagai tiga masalah yang berbeda. Padahal sebenarnya ..." Ia menggerakkan spidol mengikuti arah panah satu per satu. "...ini satu siklus. Bank memperketat kredit, perusahaan kesulitan memperoleh pembiayaan, produksi menurun, tenaga kerja berkurang, akibatnya pendapatan masyarakat ikut turun."
Ia kembali mengetuk tulisan Konsumsi.
"Konsumsi jadi melemah." Kemudian ujung spidol mengikuti garis yang kembali menuju sektor keuangan. "Penjualan perusahaan kembali turun, risiko meningkat, bank semakin berhati-hati."
Ia menoleh ke arah dosen. "Lalu semuanya kembali ke titik awal."
Di ruang kosong tepat di bawah putaran besar itu, ia menulis dengan huruf yang jauh lebih tebal daripada sebelumnya, Spiral Deflasi.
Ruangan menjadi jauh lebih tenang. Bahkan suara kipas angin tua di langit-langit terdengar jelas. Dosen menatap Anaya selama beberapa detik.
"Jawaban yang lebih baik. Tetapi tetap belum sempurna."
Beberapa mahasiswa langsung tersenyum. Kalimat itu terdengar sangat khas dirinya.
"Karena seorang ekonom tidak boleh hanya memikirkan cara menyelamatkan ekonomi hari ini. Ia juga harus memikirkan siapa yang akan membayar harganya lima atau sepuluh tahun kemudian."
Anaya mengangguk pelan. "Ya, Pak."
"Silakan duduk."
Anaya kembali ke kursinya sementara dosen mengambil spidol dan menuliskan satu kalimat besar di papan tulis. SETIAP KEBIJAKAN MEMILIKI BIAYA.
"Jika kalian ingin menjadi ekonom," katanya sambil meletakkan spidol, "berhentilah mencari jawaban yang sempurna. Tugas kalian adalah mencari pilihan yang risikonya paling kecil."
Tak seorang pun berbicara. Dosen membiarkan keheningan itu menggantung beberapa saat sebelum kembali mengambil map hitam di atas meja.
"Sekarang catat tugas. Individu."
Suara keluhan pelan langsung terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beliau sama sekali tidak menggubrisnya.
"Saya ingin kalian mencari satu kebijakan ekonomi pemerintah. Terserah kebijakan apa. Kenaikan harga BBM, subsidi, pajak, impor, ekspor, bantuan sosial, atau kebijakan lain yang menurut kalian menarik."
Suara pulpen mulai memenuhi ruangan.
"Setelah itu, anggap diri kalian sebagai pihak yang dirugikan oleh kebijakan tersebut. Lalu tuliskan kritik kalian. Setelah selesai, ganti posisi. Kali ini anggap kalian adalah pembuat kebijakan yang sama. Kalian harus membantah kritik yang kalian tulis sendiri." Beliau mengangkat telunjuknya.
Mahasiswa mulai mengernyit.
"Terakhir ... sebagai ekonom yang netral, simpulkan apakah kebijakan itu layak dipertahankan, diubah, atau dicabut." Beliau berhenti tepat di tengah kelas. "Namun dengan satu syarat. Kalian tidak boleh menyimpulkan bahwa kebijakan tersebut sempurna."
Beberapa mahasiswa menghela napas.
"Karena kebijakan yang sempurna hanya ada di kepala orang yang tidak mau berpikir."
Suasana kelas kembali hening.
"Saya tidak peduli kalian setuju atau tidak dengan kebijakan yang kalian pilih. Saya ingin melihat apakah kalian mampu mengalahkan argumen kalian sendiri. Minimal lima belas halaman. Referensi akademik minimal sepuluh."
Suasana kelas semakin menjadi lesu.
"Saya tidak akan membaca kesimpulan lebih dulu." Beliau mengambil tasnya. "Saya akan membaca cara kalian berpikir. Saya beri kalian waktu satu Minggu untuk menyelesaikannya."
Dosen melangkah menuju pintu.
"Oh, satu lagi." Beliau menoleh tanpa mengubah ekspresi. "Kalau saya menemukan dua tugas dengan pola berpikir yang sama, saya anggap keduanya saling menyalin."
Ruangan yang tadinya sunyi berubah dipenuhi erangan putus asa. Sementara Anaya hanya memandangi lembar kosong di buku catatannya, menyadari bahwa pertama kalinya sejak kuliah dimulai, tugas yang diberikan bukan meminta jawaban ... melainkan memaksanya berdebat dengan pikirannya sendiri. Dan rasanya seperti ia ingin teriak di sana.
***
Mahasiswa mulai beranjak dari kursinya satu per satu sambil membereskan buku dan laptop. Suara gesekan kursi memenuhi ruangan. Anaya memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu melangkah keluar kelas bersama mahasiswa lainnya. Lorong kampus yang semula lengang mendadak dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan dari berbagai arah.
"Gilaaa ... lima belas halaman, individu lagi."