Kota London hari itu cerah, hanya terdengar desau angin yang berembus pelan di beberapa sudut kampus. Burung-burung merpati yang seolah dikerahkan untuk memantau langit kota mengepakkan sayapnya, lalu hinggap di atap-atap rumah dengan asyiknya. Awan-awan tampak bersahabat, membentuk dirinya sendiri menyerupai apa pun yang mereka suka, meski langit tidak terlalu membiru. Sebab itulah orang-orang tersenyum melakukan aktivitasnya tanpa mengkhawatirkan cuaca siang itu, tak terkecuali pria Jawa yang bernama Jowanto.
Ia masuk, menyusuri lorong perpustakaan sembari menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari deretan buku fiksi. Tak ada yang buruk dari dirinya, perilakunya baik, wajahnya lumayan tampan, badannya tidak terlalu kurus, hanya saja tingginya tak terlalu ideal jika hidup di daratan Eropa. Tidak pendek, hanya saja, ya, bukan idaman para wanita Eropa.
Sebuah rak buku bertuliskan "Collection of Fiction Books" membuat langkahnya terhenti. Ia lantas mendekati rak tersebut dengan mata berbinar, ia sungguh rindu membaca sebuah novel dengan tenang. Ditariknya satu per satu buku-buku yang berderet di rak itu, perlahan dan pasti, sebab ia tak mau ceroboh merusak fasilitas kampus.
Salah satu judul buku di rak itu membuat dirinya bergeming. "This Earth of Mankind, karya Pramoedya Ananta Toer," gumam Jowan dalam hati. Buku karya anak bangsa terpampang di perpustakaan universitas ternama di London, yakni Imperial College London, seolah seorang kawan lama dari kampung halaman menyapanya di negeri yang begitu jauh.
Jowan tersenyum melihatnya. "Membanggakan," ujarnya.
Belum sampai habis satu paragraf pada halaman pertama novel itu dibacanya, suara seorang wanita terdengar menyapa.
"Hai," suara seorang wanita dari arah belakang menggema di telinganya. Namun ia tak menghiraukan suara itu, pandangannya terpaku, sibuk membaca bab pertama novel di hadapannya.
"Aku sedang mencari buku itu untuk tugas sastraku, boleh aku pinjam buku yang kau pegang?" ujar wanita berambut pirang dengan aksen British yang kental. Ia menatap buku fiksi yang tengah dipegang Jowan.
Lantaran merasa terganggu, Jowan membalikkan badan lalu menatap wanita itu dengan wajah yang semula hendak bermuram durja, namun malah berubah berbinar, sebaliknya dari yang direncanakan. Wanita itu bermata hijau, rambut pirangnya berkucir kuda, hidung mancung, wajah tirus, kulit putih, serta badan langsing dengan setelan kaus putih dan celana jins cokelat, membuat Jowan mematung memandang sosok di hadapannya. Baru kali ini ia melihat bidadari Eropa dari jarak sedekat itu, ternyata tak kalah cantiknya dengan bidadari Jawa, tentu saja.
"Jangan tatap aku seperti itu," gumam wanita itu dengan tatapan risih.
Jowan berdeham. Ia sedikit melempar senyum lalu menyodorkan buku itu ke hadapannya. "Maaf. Semangat mengerjakan tugas," ujar Jowan.
"Terima kasih."
Wanita itu pergi meninggalkan Jowan yang masih bergeming, menatap langkahnya menjauh. "Bidadari Eropa ternyata tidak terbang," gumamnya dengan lekukan senyum di pipi.
Di sepertiga lorong perpustakaan itu, sang bidadari Eropa berbelok arah dengan gesit, hingga rambut panjangnya yang dikucir menjuntai ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak tubuhnya. Jowan yang sudah terjebak dalam khayalannya masih mematung di tengah lorong, dengan senyuman yang tak bisa diduga; kadang melebar, kadang menciut tanpa sebab yang jelas. Matanya masih menangkap bayang-bayang bidadari Eropa yang seolah tengah tersenyum menatapnya, padahal itu hanya imajinasinya belaka.
"Hai, Jowanto!" Jae-yong sekonyong-konyong menepuk pundak Jowan. Pria Jawa itu lantas tersadar dari lamunannya.
"Kau menghalangi jalan ini," ujar Jae-yong.
"Aku baru saja melihat bidadari Eropa," ujar Jowan dengan suara yang dibuat-buat, mirip suara anak-anak. "Kenapa kau mengganggu pandanganku?"
"Hai, orang gila, ayo pergi ke kantin!" Jae-yong menarik lengan Jowan, tak sabar.
"Jae-yong, apakah kau pernah melihat bidadari Eropa?" tanya Jowan yang tengah menikmati semangkuk mi instan di kantin bersama sahabat karibnya, Song Jae-yong. Orang Korea itu sudah bersahabat dengannya sejak hari-hari pertama mereka masuk kuliah. Barangkali karena sama-sama orang Asia, ikatan batin mereka lebih kuat dibanding mahasiswa mancanegara lainnya.
Jae-yong yang mendengar pertanyaan nyeleneh Jowan lantas menatapnya dengan sinis. "Bukankah semua wanita Eropa itu bidadari? Hampir semua wanita Eropa terlihat sempurna di mataku."
"Tidak menurutku," cetus Jowan dengan rona wajah yang masam. Ia lantas beralih memandang semangkuk mi di hadapannya.
"Apakah matamu rabun?"
"Aku tidak suka dengan wanita yang berpakaian terlalu seksi. Selain itu, orang Eropa terlalu banyak tanda lahir di wajahnya, aku tidak suka."
"Ahh, tidak normal!" gumam Jae-yong dengan nada yang sedikit kesal. Ia selalu menilai Jowan sebagai laki-laki yang begitu lugu setiap kali membicarakan wanita.
"Kenapa tidak normal?" Kini Jowan menatap Jae-yong dengan tajam. Ia merasa terhina dengan ucapan itu.
"Semua laki-laki menyukai wanita seksi, kenapa kau tidak suka?"