Seperti biasanya, suasana perpustakaan kala itu sunyi senyap, sunyi yang datang bukan sebagai kekosongan melainkan sebagai sesuatu yang sengaja dipelihara, dijaga oleh dinding-dinding tinggi berbau kertas tua dan debu yang enggan mengendap. Sejak musim dingin berakhir bulan lalu, entah kenapa minat pembaca untuk berkunjung ke perpustakaan itu agak menurun, seolah hangatnya udara di luar telah menarik pulang segala alasan orang untuk bersembunyi di antara rak-rak buku. Memang di dalam ruangan tak boleh bergaduh, mana ada perpustakaan yang ramai macam Pasar Pon, dengan teriakan pedagang dan tawar-menawar yang berdesakan di udara? Tak ada, dan memang tak semestinya ada. Tapi setidaknya suara langkah orang berjalan mencari buku, gesekan sol sepatu di lantai keramik, masih bisa terdengar samar-samar; namun kembali lagi, semuanya terasa sunyi senyap, kecuali jika penjaga perpustakaan itu sedang berbaik hati memutarkan lagu instrumental yang lebih pantas disebut mantra pembawa tidur. Merujuk pada musim dingin yang baru saja lewat, pada dasarnya ada pula orang-orang yang datang ke perpustakaan bukan untuk membaca, melainkan sekadar menghangatkan badan, menumpang kehangatan yang disediakan gedung itu seperti pengungsi menumpang di bawah atap siapa saja yang mau menerima.
Namun ruang perpustakaan itu, hari itu, memang benar-benar sepi, sesepi kuburan yang ditinggal peziarah. Barangkali hanya ada tiga makhluk kasat mata yang bernapas di situ: penjaga perpustakaan yang duduk diam di mejanya, lalu Jowan dan Jae-yong yang tengah berkeliling, menyisir tiap sudut rak dengan mata yang mulai lelah, mencari sebuah buku tentang bisnis kuliner mancanegara untuk kebutuhan tugas makalah yang tenggatnya sudah mengintai; sisanya, konon, adalah penjaga-penjaga perpustakaan tak kasat mata lainnya, yang kabarnya hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya indra keenam, indigo, orang-orang yang matanya mampu menembus apa yang tak semestinya dilihat.
Dua pria itu tak kunjung menemukan buku yang mereka cari, padahal mereka sudah mengitari perpustakaan itu lebih dari sepuluh kali, sepuluh putaran yang membuat kaki mereka pegal dan harapan mereka menipis. Jowan dan Jae-yong bisa dihitung payah dalam urusan mencari buku, jika saja mereka mau disandingkan dengan para penghuni perpustakaan kelas kakap, para pembaca sejati yang hafal setiap rak seperti hafal jalan pulang ke rumah sendiri.
"Mungkin semuanya sudah dipinjam oleh teman sekelas kita. Kita kurang gerak cepat," ujar Jowan, suaranya terdengar pasrah, seperti orang yang sudah menyerah sebelum benar-benar kalah.
Jae-yong mendengus kesal mendengar anggapan Jowan itu, mendengus seperti kerbau yang baru saja dicambuk. Ia terduduk di tengah lorong perpustakaan karena begitu lelahnya mengelilingi ruangan itu tanpa hasil. "Aku lelah," katanya, singkat, tapi kelelahan itu terasa jauh lebih panjang dari kata-katanya sendiri.
"Gimana kalau kita beli saja?" tanya Jowan, kini ia duduk menghadap Jae-yong, seolah menawarkan sebuah solusi yang sesungguhnya juga meragukan dirinya sendiri.
"Pakai uangmu?" balas Jae-yong, cepat, seperti pisau yang langsung menyayat tanpa aba-aba.
Jowan mengangkat satu alisnya, merasa terintimidasi oleh pertanyaan Jae-yong yang tajam itu. "Kita iuran," jawabnya, mencoba bertahan.
"Sudah kubilang, aku baru saja dipecat dari restoran, aku tak punya uang," gumam Jae-yong dengan nada kesal, nada yang menyimpan lebih banyak kekecewaan pada nasib ketimbang pada Jowan.
Kini giliran Jowan yang mendengus kesal, mendengus yang sama getirnya. Ia berhenti memandang Jae-yong yang tak pernah tersenyum sedikit pun sejak tadi membicarakan bidadari Eropa di kantin, wajah itu keruh seperti langit sebelum hujan. Ia merasa muak menatap wajah Jae-yong yang begitu, lantas berdiri lagi dan melanjutkan pencariannya, seolah gerak kaki bisa mengusir jengkelnya. Sedangkan Jae-yong masih terduduk di lorong perpustakaan itu, sibuk bermain ponsel, membiarkan dunia luar berjalan tanpa dirinya.
Jowan terus berkeliling hingga ke sudut-sudut perpustakaan yang paling jauh dari lampu utama, sudut-sudut yang temaram dan jarang disentuh. Rak-rak buku di sana pun tak lepas dari pengamatannya yang jeli, matanya menyisir punggung-punggung buku satu demi satu.
Namun seseorang telah mengalihkan pandangannya sepenuhnya; Bidadari Eropa. Betapa beruntungnya, atau barangkali memang Tuhan sengaja menggiring Jowan ke jalan persimpangan perpustakaan itu, ke titik pertemuan yang seolah sudah ditakdirkan sejak ia melangkah masuk pagi itu. Wanita berambut pirang itu tengah duduk sendiri, membaca buku di sudut meja, dengan cahaya jendela jatuh lembut di atas rambutnya. Namun tanpa diduga, ia menatap ke arah Jowan, dan melemparkan sebuah senyuman indah, senyuman yang seolah sengaja disiapkan untuk menaklukkan siapa pun yang menerimanya.
Mendadak jantung Jowan berdegup kencang, berdegup hingga meledak, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung debarannya sendiri. Senyuman itu menghipnotis pikirannya, menuntun akalnya pergi entah ke mana. Ia membalas senyuman Bidadari Eropa itu dengan lambaian tangan serta senyuman yang terkesan memaksa, senyuman canggung yang lebih mirip topeng ketimbang ekspresi yang tulus. Sejenak ia lupa sepenuhnya dengan buku kuliner mancanegara yang tadi begitu ia cari-cari, seolah buku itu tak pernah ada.
Senyuman itu terus berbinar dari wajah wanita itu, tak juga padam. Jowan lantas tergerak untuk menghampirinya, tergerak seperti serangga yang tertarik pada cahaya, sebab ia sungguh tercandu dengan senyuman itu. Ia ingin melihatnya lebih dekat, ingin memastikan bahwa yang ia lihat dari jauh tadi bukan sekadar tipuan mata.
"Hai," ujar Jowan, duduk di samping wanita Eropa itu dengan sedikit kikuk. Sejujurnya ia bukanlah buaya darat yang pandai merayu, ia hanyalah seorang cupu yang tercandu pada sebuah senyuman, atau barangkali sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang belum sanggup ia namai sendiri.
"Hai, kau lagi?" balas wanita itu. Gigi wanita itu begitu rapi dan mengkilau, berbaris seperti mutiara yang disusun rapi. Senyumannya jauh lebih indah lagi bila dilihat dari dekat, lebih indah dari yang sanggup dibayangkan Jowan dari jarak beberapa meter tadi.