"Cinta itu diam. Seperti lagu lama, yang diam-diam membawa ingatan."
────୨ৎ────
𝐓𝐎𝐊𝐘𝐎, 𝟐𝟎𝟐𝟕.
Kantor sudah sepi saat aku turun dari lift. Hanya beberapa orang yang masih tertinggal —cleaning service yang mulai membersihkan meja dengan gerakan mekanis, seorang engineer muda yang masih menatap monitor dengan tatapan kosong, seolah dia sudah menjadi bagian dari mesin itu sendiri. Lampu neon di langit-langit ruang kerja terasa lebih terang ketika kantor sudah kosong, seolah-olah mereka berusaha mengisi keheningan dengan cahaya.
Hari ini seperti hari-hari lainnya. Rapat dengan atasan soal proyek klien. Rapat diskusi dengan tim kreatif. Email yang terus berdatangan sepanjang hari. Revisi yang terasa berputar dalam lingkaran yang sama. Aku mengubah warna. Mereka bilang tidak cocok. Begitu pula saat aku mengubah bentuk dan menggambar ulang. Tetap belum ada kepuasan yang mereka inginkan. Kopi yang kuseduh pukul satu, baru kulihat lagi pukul empat. Sudah dingin dan berkulit di permukaannya.
Aku mengumpulkan barang-barangku dengan ritual yang sudah familier. Laptop dimasukkan ke tas kulit hitam yang mulai lapuk di sudut-sudutnya. Aku memastikan tidak ada email penting dari klien yang menunggu balasan. Lalu setelah semua beres, kutarik tas ke pundak. Semua gerakan terasa otomatis, seperti seorang musisi yang sudah memainkan melodi yang sama berkali-kali sehingga tangannya bergerak tanpa perlu perintah dari otak.
"Pulang, Aretha?" Nao muncul dari balik kubikel. Wajahnya terlihat layu dengan kelopak mata yang menghitam.
Dia rekan kerjaku selama tiga tahun terakhir, sejak aku mulai bekerja di perusahaan ini. Seorang graphic designer dengan keramahan yang cukup membuat hari-hari panjang di kantor terasa sedikit lebih ringan. Dengan sikapnya yang tenang juga percaya diri, juga kemurahan senyumannya membuat semua orang di kantor menyukainya. Dia adalah tipe senior yang tidak arogan, tipe yang selalu membantu juniornya tanpa membuat mereka merasa inferior. Rekan kerja yang sangat suportif, perhatian, dan cukup loyal pada pekerjaannya.
"Iya," jawabku sembari menarik simpul senyum yang terasa kaku seperti mesin automata. "Kamu nggak pulang?"
Tatapannya tertuju padaku sedikit lebih lama, membaca wajahku bagai mesin pemindai. Kemudian dia tersenyum, sebuah lengkungan hangat yang rasanya dirancang khusus untukku.
"Masih ada pekerjaan yang perlu kuselesaikan sebelum besok," katanya sambil melangkah mendekat. Tatapannya singgah padaku sejenak. "Kamu..." gerak mata yang naik-turun sangat jelas terbaca, "terlihat sangat capek hari ini," lanjutnya.
Namun, sebelum aku sempat menanggapi, dia sudah berbalik dan kembali ke mejanya. "Oh ya," serunya sambil menatap laptopnya, "presentasi proyekmu tadi sangat bagus. Pak Wakayama terlihat puas," ucapnya.
Aku merasa wajahku sedikit menghangat. Presentasi tadi memang sempat membuatku gugup, tetapi Nao tidak perlu mengatakan itu untuk membuatku merasa bahwa usahaku dihargai.
"Terima kasih," jawabku singkat. "Ya walau...masih banyak revisi juga sih," sambungku.
Nao mengangguk, seperti paham bahwa meski terlihat memuaskan, hal itu tidak membuat semuanya sempurna. "Ya... tapi meski begitu, kamu tetap sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa."
"Terima kasih," aku memberinya senyuman, "aku cuma ngelakuin tugasku aja," balasku, lalu bersiap pulang.
Nao kembali mengangguk, yang kemudian disusul dehaman berat. "Kamu jangan lupa makan," katanya dengan nada yang menyiratkan sedikit perhatian. Dia menatapku seolah sedang mengecek keadaanku. "Secangkir kopi tidak cukup untuk energi sehari-hari, Aretha."
Aku berkedip pelan. Bagaimana dia tahu aku hanya minum kopi hari ini? Aku tidak pernah bilang. "Tunggu," kataku sambil mengernyit. "Kok kamu tahu?" tanyaku, penasaran.
Nao hanya mengangkat bahu ringan.
"Setelah ini, aku akan beli sesuatu di convenience store," aku bilang dengan agak defensif tanpa alasan yang jelas.
"Convenience store bukan makan, Aretha," balasnya dengan senyum kecil yang hampir seperti ejekan. "Kalau kamu mau, aku bisa—"
Dia berhenti di tengah kalimat.
Seolah ada sesuatu yang ingin dia lakukan, tapi ditahan sebelum keluar.
"...nggak apa-apa. Kamu pasti mau langsung pulang, ya."