"Langit mengingat lebih banyak daripada yang mampu dilupakan manusia."
────୨ৎ────
Makan malamku adalah roti dan selai peanut butter sisa minggu ini. Ya, pada akhirnya aku melanggar janjiku sendiri untuk membeli makanan yang jauh lebih substansial. Nyatanya, aku terlalu malas dan memilih pasrah pada selembar karbohidrat kering serta selai yang hampir kedaluwarsa ini.
Aku makan sambil berdiri di depan jendela dapur, menatap cahaya kota yang semakin terang seiring langit yang makin gelap. Lagu itu masih bergema di kepala, meski sudah berlalu lebih dari satu jam.
Aku mencoba untuk tidak membiarkan lagu itu menguasai pikiranku. Aku mencoba untuk fokus pada roti, pada selai, pada sensasi biasa dari makanan yang kumakan ribuan kali sebelumnya.
Tapi pikiranku tidak mendengarkan.
Setelah makan, aku mandi. Air hangat yang seharusnya menenangkan, justru membuatku lebih sadar akan tubuhku sendiri, seolah aku tiba-tiba dipaksa hadir di dalam diriku. Aku keluar dengan tubuh setengah basah, membungkus diri dengan handuk abu-abu yang sudah mulai lusuh.
Aku seharusnya tidur. Besok ada deadline untuk proyek Pak Wakayama, dan aku butuh istirahat yang cukup. Aku masuk ke kamar. Segera kupakai piyamaku untuk kemudian aku beristirahat agar besok bisa bangun lebih cepat. Namun, udara di kamar itu tiba-tiba terasa berbeda. Seperti ada jejak seseorang yang baru saja pergi beberapa saat lalu, seolah masih tertinggal di antara ruang-ruang kosong.
Dan tanpa alasan yang logis, tanpa pemicu yang jelas, memoriku kembali teringat.
Kotak.
Kotak itu.
Kotak yang seharusnya sudah aku lupakan bertahun-tahun lalu.
Aku berdiri di tengah kamar. Air masih menetes dari rambutku ke lantai. Satu-satu, seperti hitungan waktu yang tidak sabar. Aku menatap ke bawah tempat tidurku, dan entah bagaimana, aku sudah tahu itu masih ada di sana.
Apakah ini cara lagu itu bekerja padaku? Apakah lagu itu adalah kunci yang membuka ruang-ruang dalam diriku yang selama ini kubekukan rapat, satu per satu, tanpa izin?
Aku turun ke lantai. Sambil aku membungkuk, setengah merangkak untuk melihat ke bawah tempat tidur. Gelap di bawah sana. Tempat semua hal yang tidak ingin diingat biasanya bersembunyi. Tempat di mana tidak ada yang bisa melihat atau mempertanyakan keberadaannya.
Aku melihat sudut kotak kayu cokelat yang kecil, tertutup oleh debu dan waktu.
Tanganku bergerak lebih dulu daripada pikiranku, menjangkau ke dalam kegelapan, menarik kotak itu keluar perlahan. Kotak itu lebih ringan daripada yang aku ingat, atau mungkin aku lebih kuat sekarang. Kotak itu keluar dari bayang-bayang dengan gerakan yang halus dan perlahan, seperti benda yang muncul dari air.
Aku duduk di lantai, dengan rambut yang belum sempat kukeringkan, memegang kotak itu di pangkuanku. Kayu cokelatnya masih hangat, lebih hangat daripada tubuhku, atau mungkin itu cuma imajinasiku.
Aku tidak langsung membukanya.
Aku hanya duduk di sana, menatap kotak itu untuk beberapa saat, bertanya-tanya bagaimana aku bisa hidup selama tujuh tahun tanpa membuka kotak ini sekalipun. Bagaimana aku bisa berpura-pura bahwa apa yang ada di dalamnya tidak ada, bahwa memorinya tidak ada, bahwa… dirimu tidak ada?