When The Sky Remembers

Febby Yonika
Chapter #4

Rasi III : Waktu yang Kita Pinjam dari Langit

"Saat itu aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, namamu akan menjadi bagian dari langit yang paling sering kuingat."

────୨ৎ────

𝐁𝐀𝐍𝐃𝐔𝐍𝐆, 𝟐𝟎𝟏𝟓.

Ruang seni sekolah adalah tempat yang jarang dikunjungi orang. Cat tembok sudah mulai mengelupas, sarang laba-laba yang menggantung di beberapa sudut ruangan itu. Beberapa alat musik yang sedikit berdebu karena jarang digunakan, beberapa lukisan tua yang terpajang di dinding, ada juga beberapa hasil karya seni dari siswa-siswi yang mengerjakan tugas kesenian mereka. Dan yang paling mencuri perhatianku adalah sebuah piano tua yang sepertinya masih cukup baik untuk dimainkan.

Aku pertama kali masuk ke ruang itu pada bulan Agustus. Awal tahun ajaran baru, awal kelas dua SMA. Aku sengaja mencari ruangan yang jarang orang mengunjunginya. Aku sering ke sini pada saat istirahat, terutama saat siang hari. Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus merasa aneh. Aku bisa mendengarkan musik dari earphone tanpa ada yang bertanya mengapa aku tidak bermain dengan orang lain. Aku bisa duduk di sudut ruangan dan melukis di sketchbook tanpa ada yang mencela, atau mengatakan aku "wibu" hanya karena aku senang menggambar animasi, meski tidak semudah itu juga untuk melabeli seseorang dengan sebutan seperti itu.

Sampai suatu hari, ada yang mengubah semuanya.

Aku datang ke ruang seni seperti biasanya, pada saat istirahat siang hari. Aku berencana untuk duduk di sudut ruangan, mendengarkan lagu favoritku, dan mungkin menggambar sedikit. Tapi, begitu aku membuka pintu, aku mendengar melodi yang lembut.

Seseorang sudah ada di sana. Orang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Atau, mungkin aku yang tidak menyadari keberadaannya.

Ia sedang duduk di depan piano. Rambut hitamnya terlihat lembut, jatuh secara alami hampir menutupi sebagian dahinya. Jari-jemarinya bergerak tenang, menari dengan piawai di atas tuts hitam dan putih.

Aku tidak ingin mengganggu. Tapi kakiku membawaku mendekat. Aku memperhatikannya dari jarak beberapa meter darinya.

Permainannya terhenti, lalu ia menoleh ke arahku. Matanya yang gelap tampak bercahaya, menyimpan sebuah ruang sunyi yang mampu menampung banyak hal. Gurat wajah yang tampak lebih tegas dan berkarakter, memancarkan ketenangan yang diam-diam menyelimuti seluruh penampilannya.

Ia tersenyum canggung, seolah ragu tentang keberadaannya.

"Aku ganggu?" tanyanya. "Kalau kamu mau pakai ruangan ini, aku bisa pergi."

"Tidak," jawabku cepat. "Aku mau mendengarnya lagi." Aku pun terdiam menatapnya, seolah sama-sama canggung dalam menghadapi momen itu.

Ia hanya mengangguk pelan, lalu membenarkan posisi duduknya kembali dan mulai bermain lagi. Aku duduk di kursi dekat pintu sambil menggenggam sketchbook yang rencananya ingin kuisi siang itu. Tanpa sadar, aku mulai mencoret beberapa bagian dari buku sketsa yang sedari tadi kubawa.

Nada-nada pianonya masih memenuhi ruangan, sementara jemariku mulai menari di atas kertas. Penaku bergerak, menggoreskan coretan yang tanpa kusadari menjelma menjadi sketsa wajahnya.

Waktu berlalu tanpa terasa, hingga bel masuk berbunyi. Aku segera membereskan semua alat lukisku, lalu pergi meninggalkannya di sana tanpa sepatah kata pun, dan tanpa berpamitan. Ia sempat memanggilku, tapi langkahku sudah terlanjur membawaku pergi, tanpa kusadari.

"Kamu ke ruang seni lagi?" Suara itu berasal dari Nura, teman sebangkuku sejak SMP yang kebetulan dipertemukan kembali denganku di sekolah ini.

"Coba lihat, kamu gambar apa kali ini?" Tangannya langsung meraih sketchbook yang beberapa detik lalu kuletakkan begitu saja di atas meja.

"Eh? Ini siapa?" tanyanya saat melihat lukisan terakhirku, sebuah sketsa seorang anak laki-laki.

Aku langsung merebutnya kembali. "Bukan apa-apa." Ada perasaan malu menyusup saat mengetahui ada orang lain yang melihat gambar yang bahkan tak kusengaja kulukis.

Nura menatapku sejenak, alisnya terangkat dan tersenyum. "Kenapa buru-buru gitu?"

"Enggak kenapa-kenapa," jawabku cepat. Aku menutup sketchbook itu rapat-rapat, lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Eh... aku kaya kenal siapa yang kamu gambar."

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "Apa sih? aku cuma iseng, bukan siapa-siapa itu" ucapku akhirnya, meski aku tahu Nura tak sepenuhnya percaya.

"Iseng, ya?" Nura masih terus menggodaku. Entah apa yang harus kujelaskan, karena aku pun sebenarnya tak sengaja menggambar dirinya.

Cahaya sore merayap masuk melalui jendela kelas, pelajaran hari ini pun berakhir seperti biasa. Tidak ada hal yang istimewa hari itu, namun pertemuan dengannya terasa seperti awal dari semuanya.

Sebelum pulang, aku kembali ke ruang seni itu. Dengan sketchbook yang kugenggam di dadaku, aku berjalan pelan menuju ruangan itu. Dan betapa terkejutnya aku mengetahui bahwa dirinya ternyata sudah lebih dulu berada di sana.

Pelan-pelan aku masuk dan duduk di kursi dekat pintu, posisi yang sama dengan terakhir kali aku meninggalkannya. Perlahan aku kembali membuka lembaran kertas itu, menatap ulang lukisan yang kubuat terakhir kali.

"Mengapa aku melukis dirinya?" batinku.

Namun belum sempat aku kembali pada realitas, suara itu mengejutkanku. "Kamu ngapain?" tanyanya dengan tatapan yang tiba-tiba terkunci pada kertasku.

Tanpa menunggu aba-aba, tangannya bergerak tangkas merampas buku sketsa dari jemariku. Detik berikutnya, ia terdiam. Matanya menyusuri setiap lengkung garis pensil yang baru kubuat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang tak mampu ia sembunyikan.

Ia menatapku dengan binar mata yang kini dipenuhi rasa takjub. "Keren," ucapnya.

Aku menggeleng kecil. "Nggak juga, kok. Aku cuma bisa beberapa sketsa sederhana. Lagipula, aku masih belajar." Senyumku itu terasa canggung, namun tetap kuberikan.

"Ini aku?" tanyanya pelan, masih enggan mengalihkan pandangan dari lembar kertas itu. "Ini pertama kalinya ada yang melukisku."

Tapi tepat setelah kalimat itu selesai, senyumnya perlahan meredup. Bahunya sedikit turun, dan ia mengembuskan napas panjang yang sangat tipis, berusaha untuk tersenyum. "Terima kasih, ya," ucapnya sembari mengembalikan buku sketsa itu padaku.

"Akasha. Akasha Arel Vardhana." Ia memperkenalkan diri tanpa diminta sambil mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya. "Aretha."

"A-re-tha..." ulangnya pelan, seolah mencicipi bunyi namaku. "Nama yang bagus. Nama lengkapmu siapa?"

"Aretha Kaelyn Aruna Wijaya," jawabku.

Lihat selengkapnya