When The Sky Remembers

Febby Yonika
Chapter #5

Rasi IV : Orbit yang Rapuh

"Setiap orbit punya batas gravitasinya sendiri. Dan malam itu, aku baru sadar bahwa gravitasi antara aku dan dirinya tidak pernah cukup kuat untuk menahan kami tetap bersama."

────୨ৎ────

Hari-hari kami selanjutnya terasa seperti ritual baru. Setiap hari setelah jam sekolah berakhir, aku selalu menuju ruang seni. Dan di sana, aku menunggu. Menunggu sampai ia muncul di ambang pintu dengan tas yang tersampir di bahu dan senyum kecil yang entah kenapa selalu berhasil membuat hari terasa lebih ringan.

Ia mulai mengajarkan aku piano dengan kesabaran yang tidak aku tahu dari mana asalnya. Tangannya membimbing tanganku, menunjukkan posisi jari-jari yang benar dan cara mendengarkan setiap not yang keluar.

"Dengarkan," katanya suatu hari, sambil memegang tanganku di atas kunci piano. "Suara itu. Itu adalah C mayor. Dengarkan bagaimana resonansinya."

Aku mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa musik bukan hanya tentang memainkan nada yang benar. Musik adalah tentang mendengarkan dengan seluruh tubuh kita.

Ia perlahan mengajarkanku chord-chord dasar dan melodi sederhana. Setiap kali aku membuat kesalahan, ia tidak mengejekku. Ia hanya menunjukkan lagi, dan lagi, dengan tenang, seperti kesalahan itu adalah bagian alami dari proses belajar.

Sampai perlahan namun pasti, aku mulai menemukan rasa percaya diriku dalam menekan tuts-tuts piano itu. Meski masih hanya sekadar nada dasar nan sederhana, tapi rasanya seperti ada sesuatu dalam diriku mulai terhubung dengan dirinya.

"Wow, kamu bisa ya," katanya suatu sore. Suaranya tenang dan lugas, tapi ada sesuatu dalam nada itu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. "Ternyata kamu ada passion juga."

Aku tidak tahu apa maksudnya dengan "passion" itu, tapi aku tersenyum.

Suatu malam, ketika kami sedang duduk di lantai setelah bermain, ia tiba-tiba menunjuk ke arah jendela.

"Lihat itu," katanya pelan. "Bintang Vega. Bisa kamu lihat di sudut sana?"

Aku melihat ke arah yang ia tunjuk. Langit malam di atas sekolah tidak begitu gelap—cahaya kota Bandung mengusir sebagian besar bintang—tapi ada beberapa yang masih terlihat.

"Hmm, tidak terlalu jelas sih," jawabku.

"Ada," katanya dengan yakin.

Aku menatap langit dengan lebih saksama. Sebelum ia menarik napas dan mulai melanjutkan. "Bintang itu adalah bagian dari konstelasi Lyra. Dalam mitologi Yunani, Lyra adalah kecapi milik Orpheus. Katanya, musik yang dimainkan dari kecapi itu begitu indah luar biasa sampai bisa memikat siapa pun yang mendengarnya."

Suaranya terdengar lebih pelan, terdengar seperti ada keseriusan di dalamnya. Seolah yang sedang kamu bicarakan bukan sekadar gugusan cahaya di langit malam, melainkan sesuatu yang jauh lebih berarti.

"Jadi bintang-bintang punya cerita?" tanyaku.

"Semua punya cerita," katanya, dengan pandangan masih tertuju pada langit. "Tentang kematian, tentang keindahan, tentang cinta yang tidak bisa diekspresikan dengan benar."

Ia berbicara tentang konstelasi, tentang kisah yang terikat pada mereka, tentang bagaimana cahaya dari bintang-bintang itu adalah cahaya dari masa lalu yang sudah mati jutaan tahun lalu. Suaranya saat bercerita memiliki rasa yang sama dengan saat ia bermain piano.

"Aku ingin suatu hari bisa lihat semua bintang dengan jelas," katanya. "Tanpa cahaya kota yang mengganggu. Hanya aku, kamu, dan semua cerita yang tertulis di langit."

Ada sesuatu dalam caranya mengatakan semua itu. Sesuatu yang terasa seperti doa, seperti impian yang sangat dalam.

"Aku?" tanyaku heran. "Kenapa aku?"

Tatapan itu beralih padaku. Lalu ia tersenyum.

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan.

Namun entah kenapa, senyum itu terasa seperti sebuah jawaban yang belum siap ia ucapkan. Aku ingin bertanya lebih jauh. Ingin tahu mengapa bintang-bintang begitu penting bagi dirinya. Ingin tahu mengapa dalam impian yang baru saja ia ceritakan, ada tempat untukku di sana.

Tapi aku tidak melakukannya.

Ada sesuatu dalam keheningan di antara kita yang terasa terlalu rapuh untuk disentuh. Jadi aku hanya duduk di sampingnya, memandang langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang malam itu, dan membiarkan pertanyaan itu tetap tinggal di dalam hatiku.

────୨ৎ────

Hari-hari berlanjut hingga kelas tiga SMA. Aku mulai hapal dengan kebiasaan-kebiasaan kecilnya. Duduk sejenak, memandang keluar jendela, setiap kali sesuatu yang rumit melintas di kepalanya. Jari-jemarinya menyisir rambut ke belakang saat chord yang sulit belum juga ketemu. Bibir bawahnya tergigit pelan ketika fokusnya benar-benar penuh.

Dan senyumnya selalu dimulai dari mata, bukan dari mulut. Selalu ada kilatan kecil di sudut matanya sebelum senyum itu benar-benar muncul. Dan entah kenapa, ia tidak pernah terburu-buru. Ia selalu memberi jeda pada setiap hal yang akan ia lakukan.

Lama-kelamaan, aku juga belajar memahami caranya bertindak.

Saat ia frustrasi karena tak kunjung menemukan nada yang tepat, atau kesal karena sesuatu meleset dari harapannya, yang biasa kulakukan hanya diam. Tidak memberi saran. Tidak mencoba membantu. Aku hanya memberinya ruang, menunggu sampai ia menemukan jawabannya sendiri. Atau pada akhirnya balik meminta pendapat dan saranku, baru aku akan bicara.

Tapi begitu senyum itu muncul, aku selalu tahu lebih dulu. Segera kuhampiri, kutepuk pundaknya pelan. Sebab tanpa banyak kata pun, kami sudah saling mengerti.

Lain waktu, saat ia tekun membaca buku astronomi, aku akan duduk setia di sampingnya. Sebab tak lama kemudian ia pasti mengajakku menyelami kisah di balik bintang-bintang yang sedang atau telah ia pelajari. Dan aku selalu mendengarkan dengan senang hati.

Bagiku, binar matanya saat bercerita tentang rasi bintang jauh lebih indah daripada langit malam itu sendiri.

"Kamu tahu?" ujarku, memecah keheningan. Sambil menatapnya yang baru saja menutup buku astronomi tebal itu. "Lama-kelamaan, sepertinya aku mulai terbiasa dengan kebiasaanmu."

Ia menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan senyum tipis yang mendadak muncul. "Oh ya? Kebiasaanku tentang hal apa?"

Lihat selengkapnya