When The Sky Remembers

Febby Yonika
Chapter #6

Rasi V : Jarak yang Kita Rebut Kembali

"Bagimu, bintang-bintang adalah bagian dari siapa dirimu. Butuh waktu bagiku untuk berhenti menganggapnya sekadar cahaya di langit."

────୨ৎ────

Hari itu, ketika cahaya matahari terakhir mulai menghilang dari langit, kami berjalan pulang seperti biasa.

Jalanan di sekitar sekolah sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Toko-toko mulai menyalakan lampu, dan suara kendaraan sesekali melintas di kejauhan. Tidak ada tujuan khusus. Kami hanya berjalan mengikuti arah yang sama, membiarkan percakapan datang dan pergi, mengalir sesuka hati.

Di tengah perjalanan, kami mampir ke sebuah taman kecil yang berada di sudut persimpangan. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa bangku kayu tua, ayunan yang berdecit pelan saat tertiup angin, dan pohon-pohon yang sesekali melepaskan daun-daunnya ke tanah.

Kami duduk di bangku yang menghadap ke langit terbuka.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Sampai akhirnya, aku bertanya, "Aku penasaran, kenapa kamu selalu terdiam ketika mau melakukan sesuatu? Sebelum main piano juga aku sering melihatmu begitu."

"Hmm ...." Dia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab santai, "Aku tidak tahu. Rasanya kalau aku langsung bermain, musiknya tidak akan keluar dengan benar. Harus ada ... jeda dulu, biar aku bisa mendengarkan apa yang ingin dikatakan hatiku."

Aku mengangguk. Meski tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku berusaha untuk memahaminya. Terkadang perkataannya tidak selalu kupahami. Namun entah kenapa, meski begitu aku selalu percaya bahwa perkataannya selalu memiliki makna.

Ia membuka tas, berhenti sejenak, lalu mengeluarkan buku-buku tentang astronomi yang dipinjam dari perpustakaan. Menunjukkan padaku peta lengkap semua konstelasi.

"Aku ingin mempelajari semua ini sebelum—" katanya, kemudian berhenti. Seperti ada sesuatu yang belum ingin ia bicarakan.

"Sebelum apa?" tanyaku.

"Sebelum invasi alien," jawabnya asal.

Aku berkedip heran. "Hah? Apa?"

"Invasi a-li-en." Ia mengulang kembali kalimat itu dengan penegasan kata.

Aku menatap datar. "Kamu serius?"

Dia terkekeh usil, hampir tertawa. "Kamu percaya?"

Aku meraih buku yang ada di pangkuannya dan memukul lengannya pelan. "Ih, nyebelin."

"Kamu yang bertanya."

"Dan kamu yang menjawab seperti orang aneh," kesalku.

Ia tertawa kali ini. "Aku pikir kamu akan langsung percaya."

"Akasha, aku mungkin gampang penasaran, tapi aku tidak sebodoh itu."

"Hooo... masih bisa diperdebatkan," katanya sambil tersenyum jahil.

Aku melotot. Dan senyumannya semakin melebar, jelas ia menikmati reaksiku.

Akasha menghela napas pendek. "Aku tarik kembali. Kamu tidak bodoh."

Aku terkekeh. "Nah," seruku singkat.

"Kamu hanya terlalu mudah tertipu."

Aku langsung mengangkat buku yang masih ada di tanganku, berniat memukulnya kembali. Belum sempat aku melakukannya, ia sudah lebih dulu merebutnya dari tanganku.

"Tuh, kan?" katanya puas.

Aku mengerang pelan, menutup wajah dengan tangan.

"Kenapa kamu mau berteman denganku?" Tanyanya tiba-tiba. Ia menatapku sebentar. Tidak lama. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyebalkan.

"Kamu suka aku." Tatapannya mengunci mataku. Kami saling menatap untuk beberapa saat, membuat udara di sekitarku mendadak berat.

Lalu, ikatan tatapan itu ia putus. Kepala mendongak, dan ia tertawa lebih dulu. "Bercanda."

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Dan aku membenci kenyataan bahwa ia mungkin tidak menyadarinya sama sekali.

────୨ৎ────

Suatu hari, ketika ia sedang menjelaskan tentang konstelasi Orion —mulai dari mitologinya, sang bintang paling terang Betelgeuse, hingga bagaimana rasi itu bergerak melintasi langit sepanjang tahun— aku hanya duduk membisu di sampingnya seperti biasa.

Kalimat demi kalimat keluar dari bibirnya, tapi suara itu perlahan menyusut menjadi dengung samar di telingaku. Aku mendengarkan, tapi tidak benar-benar mengikuti semuanya. Bayangan tentang selembar surat yang tidak sengaja kulihat malam itu mendadak kembali berputar di kepala. Dan skenario terburuk pun mulai berputar: bagaimana jika kamu benar-benar pergi?

"Di negara empat musim, Orion itu sering disebut rasi bintang musim dingin karena paling jelas kelihatan saat itu. Tapi kalau di Indonesia beda cerita. Munculnya Orion sekitar bulan Oktober atau November justru jadi penanda kalau musim hujan mau datang. Masyarakat tradisional kita mengenalnya sebagai Bintang Waluku alias alat bajak sawah. Jadi, itu kayak petunjuk alam buat para petani kalau sudah waktunya turun ke sawah dan mulai menanam padi. Selain itu, aku suka banget sama rasi ini karena perpaduan warnanya kontras dan menurutku indah banget," jelasnya, lalu terkekeh pelit karena sadar baru saja mengoceh terlalu panjang.

Tapi jujur, saat itu pikiranku sama sekali tidak ada di sana. Aku mendadak kehilangan ketertarikan pada semua cerita bintangnya. Aku hanya terdiam, tenggelam dalam lamunan yang kosong. Dan semua penjelasannya tentang bintang mendadak menguap begitu saja.

"Aretha?" tanyanya, membuyarkan lamunanku.

"Hah?" Aku mengerjap panik.

"Aku ngomong apa barusan?"

"Tentang... Orion?." Jawabku ragu.

Ia menghela napas pelan. "Aku sudah selesai."

Rasa dingin menjalar di tengkukku. Aku bahkan tidak mendengarkan separuh dari apa yang baru saja ia katakan.

"Maaf, aku—"

Lihat selengkapnya