"Aku ingin kamu menemukan semua bintang yang kamu cari."
────୨ৎ────
Keesokan harinya, Akasha akhirnya kembali ke ruang seni. Namun, rasa canggung masih menyelimuti suasana kebersamaan kami. Kejadian kemarin membuat hatiku cukup malu, dan entah hal itu seperti di luar kendaliku.
Di sore hari, sepulang sekolah. Aku mengekor di belakangnya saat kami melangkah keluar dari ruang seni. Sebenarnya, aku berniat membiarkan Akasha pulang tanpa banyak bicara, seperti yang biasa terjadi pada minggu-minggu ini. Aku hanya bisa bertanya-tanya: apa yang dipikirkan Akasha tentang sikapku kemarin?
Rasanya seperti aku ingin menghilang saking malunya. Bahkan aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa aku bersikap seperti itu kemarin.
Lalu, langkah kaki itu tiba-tiba berhenti. Di tengah koridor sekolah yang sunyi, ia berbalik menghadapku. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia kembali menatap mataku sebelum akhirnya bersuara.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu," katanya. Suara yang terasa dipaksa untuk tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.
Apakah kamu masih marah kepadaku?
Apakah kamu merasa ilfil padaku karena sikapku kemarin?
"Apa?" tanyaku.
"Bukan di sini," katanya. "Mau ke taman?"
Taman kecil itu lagi. Tempat yang seolah telah menjadi milik kami berdua, tanpa pernah secara resmi kami deklarasikan demikian.
Kami duduk di bangku yang sama seperti saat itu, ketika ia menunjukkan padaku buku-buku astronomi. Langit sudah mulai mengeluarkan cahaya jingga dari matahari terbenam di ufuk barat.
"Aku akan pergi," ucapnya dengan nada bergetar, yang tak bisa ia sembunyikan.
Aku menunggu, berharap ada kelanjutan setelahnya. Namun cara ia mengatakannya terdengar seperti sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.
"Tiga bulan lagi" lanjutnya. "Ke Jepang. Untuk melanjutkan study-ku." Aku mengalihkan pandangan ke depan, seolah-olah mencoba menjauh dari percakapan ini. "Aku sudah diterima di salah satu universitas di sana."
"Jurusan musik?" tanyaku pelan.
"Bukan," katanya sambil menatapku sendu. "Aku rasa kamu tidak tahu."
Suara itu begitu lembut, sehingga begitu menyesakkan. Aku berpura-pura tidak tahu tentang rencananya, aku bersikap seolah aku baru pertama kali mendengar darinya.
Ia mengambil napas panjang, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang telah lama ingin diucapkan.
"Aku akan masuk ke universitas yang punya program khusus untuk astronomi," katanya.
Tatapan matanya tertuju ke langit yang mulai berubah warna. "Itu adalah impianku, Aretha. Bukan hanya tentang belajar. Bukan hanya pindah ke negara lain. Tentang Astronomi. Mempelajari bintang-bintang, memahami alam semesta, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah mengganggu pikiranku sejak lama."