When The Sky Remembers

Febby Yonika
Chapter #8

Rasi VII : Musim Yang Kita Simpan

"Kamu pergi membawa seluruh mimpimu tentang semesta, namun kamu lupa membawa serta musim yang pernah kita lalui bersama."

────୨ৎ────

Hari-hari terakhir sebelum Akasha pergi berlalu dengan sangat cepat.

Kami masih menjalani hari-hari seperti biasa. Pergi ke ruang seni, duduk di tempat yang sama, memainkan peran yang sama. Aku rasa memang hanya itu yang perlu dilakukan untuk berkomunikasi di antara kami berdua.

Tangannya di piano dan jari-jariku pada gambar di sketchbook, saling bercerita tentang segala hal yang tidak bisa kami ucapkan. Harmoni yang kami ciptakan terasa seperti perpisahan yang dibungkus dengan keindahan.

Aku melangkah mendekatinya, menatap sepasang tangan yang ada di hadapanku. Jemari panjang yang menari dengan begitu indah di atas tuts-tuts piano, menciptakan melodi-melodi yang selalu berhasil menenangkan jiwaku yang bising. Jemari yang sama, yang sebentar lagi akan menggenggam lembar-lembar masa depan di tempat yang teramat jauh.

Aku meremas ujung lengan kardigan perlahan, mencoba mengusir rasa dingin yang mendadak menjalar di ujung jariku, lalu mendongak menatap matanya.

"Kash... apakah kamu akan terus bermain piano?" tanyaku dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, takut merusak suasana hangat yang tercipta di ruangan ini. "Meskipun nanti... kamu sudah sangat sibuk dengan dunia langitmu?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku, membawa serta ketakutan terdalam yang diam-diam masih kusimpan rapat. Aku takut dunia barunya yang begitu luas, tinggi, dan megah kelak akan menghapus seluruh jejak melodi yang pernah kami bagi di ruangan yang sempit ini. Aku takut, begitu ia mengepakkan sayap menuju cakrawala, piano tidak lagi menjadi tempatnya pulang, dan begitu pula denganku.

Ia menghentikan gerakan jemarinya, lalu memutar tubuh menghadapku sepenuhnya. Sepasang mata yang melunak, memancarkan binar hangat yang seketika mencairkan kekhawatiranku. Ia mengulas senyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa begitu tulus dan menenangkan.

"Aku nggak akan pernah melupakan piano, Tha," ucapnya lembut. Nadanya begitu meyakinkan.

Ia mengangkat kedua tangannya, memandang jemarinya sendiri sejenak sebelum kembali menatapku. "Bagaimanapun juga, aku menyukainya. Piano, gitar, atau alat musik apa pun... mereka itu seperti bahasa kedua bagiku. Aku tidak akan mungkin melupakan bagian dari diriku sendiri."

Jawabannya yang tenang itu perlahan meredakan debar cemas di dadaku. Di bawah siraman cahaya senja yang keemasan di ruangan ini, aku sadar bahwa sejauh apa pun ia terbang nanti, melodi yang pernah kami bagi akan selalu menjadi jangkar yang mengikatnya pada bumi. Pada ruang seni ini. Dan... kuharap, pada diriku juga.

────୨ৎ────

Pada hari terakhir, kami kembali ke ruang seni itu, tanpa banyak kata. Seperti kebiasaan lama yang masih bertahan meski maknanya sudah berubah. Di tempat yang sama seperti hari pertama aku tanpa sengaja melihatnya, mendengar melodi indah yang ia ciptakan hari itu. Tanpa sadar aku mulai masuk ke dunianya. Bukan hanya tentang piano, tapi juga tentang gugusan bintang yang ia titipkan pada langitku.

Akhirnya, aku juga bisa bermain beberapa nada piano. Sesekali aku memainkannya, meski tidak sempurna, tapi Akasha selalu mengapresianya.

Cahaya sore yang keemasan merayap masuk melalui celah jendela, seperti seorang tamu yang sudah lama kami harapkan kedatangannya.

"Aku akan merindukanmu," kataku, memecah keheningan di antara kami berdua.

Ia tidak langsung membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengambil tanganku dan memegang erat. Seperti mencoba untuk mengompres waktu, untuk menyimpan setiap detik dalam genggaman.

"Lihat bintang-bintang untukku," katanya pelan, hampir berupa bisikan. "Bahkan jika kamu tidak mengerti ceritanya. Bahkan jika kamu tidak percaya pada maknanya... lihat saja mereka. Karena di sana, di antara cahaya itu, akan ada bagian dariku yang selalu ingin kamu lihat." Binar halus merebak di matanya, memantulkan pendar bintang yang baru saja ia bicarakan.

Ada sesuatu yang mendesak di tenggorokanku, menuntut untuk diucapkan. Aku ingin mengatakan bahwa aku akan belajar memahaminya. Bahwa aku akan mempelajari setiap konstelasi, setiap bintang, dan semua hal yang ia cintai. Aku ingin berusaha untuk melihat dunia melalui cara ia memandangnya.

Tapi ia sudah berdiri dalam cahaya sore yang memudar. Ia memberiku sebuah nota kecil yang terlipat rapih.

"Bacanya nanti saja," ujarnya.

Aku menerima dan menggenggamnya tanpa benar-benar yakin harus bagaimana memperlakukan benda sekecil itu yang mendadak terasa begitu berat di telapak tanganku.

"Jadi besok, kamu beneran berangkat?" tanyaku, meski jawaban sudah jelas ada di depan mata.

"Sampai jumpa, Aretha," ucapnya, dan suara itu terdengar seperti jawaban akhir dari sesuatu yang sangat indah.

Aku tidak menimbalinya dengan kata yang sama. Karena entah kenapa, aku sudah tahu bahwa 'sampai jumpa' tidak akan segera tiba. Aku hanya berbisik, "Selamat tinggal, Akasha."

Mataku terpaku pada punggungnya saat ia melangkah keluar menembus pintu ruang seni. Ia berjalan melintasi debu-debu sore yang berpendar, membawa serta melodi yang tidak pernah selesai.

────୨ৎ────

Minggu-minggu setelah kepergiannya, aku sering duduk di ruang seni sendirian.

Lihat selengkapnya