Whispers of The Lost Princess

Rey
Chapter #2

Bab 1 — Memimpikan Dunia Luar

Di tengah hutan yang tak pernah dikenal oleh para pengelana, berdiri sebuah menara batu menjulang, kelabu dan anggun, seakan menyatu dengan pepohonan yang mengelilinginya. Menara itu tidak tampak menyeramkan, tapi juga tidak sepenuhnya ramah. Menara itu seperti bagian dari hutan itu sendiri, diliputi kabut tipis yang tak pernah benar-benar hilang.

Hutan Kesunyian—begitu hutan itu dikenal dalam bisikan-bisikan tua—bukan sekadar hutan biasa. Pepohonannya menjulang terlalu tinggi, daunnya berkilau kehijauan dalam gelap, dan sesekali tampak cahaya samar menari di antara batang-batang besar, seperti bintang yang salah tempat. Burung jarang terdengar di sana, dan bila ada angin bertiup, suaranya terdengar seperti bisikan.

Menara itu menjulang dari dasar bukit kecil, batu-batunya dilapisi lumut dan bunga liar yang berwarna ungu pucat. Dari kejauhan, tampak seperti peninggalan zaman kuno, namun di dalamnya, ada kehidupan sederhana.

Di balik jendela bundar paling atas, seorang gadis dengan rambut panjang menjuntai ke lantai duduk bersandar, menatap keluar dengan mata penuh cahaya keingintahuan.

Ayundria.

Rambutnya berkilau bagai benang emas, jatuh begitu panjang hingga menyapu lantai. Ia sering memandang hutan di sekeliling menara itu, seakan berharap ada sesuatu di balik kabut dan pepohonan yang enggan menceritakan rahasia mereka.

Bagi Ayundria, menara itu adalah rumah, sekaligus penjara.

Namun, hari itu, hutan terasa berbeda. Kabutnya lebih pekat, dan udara membawa aroma asing yang tak pernah ia cium sebelumnya. Ia menyipitkan mata, mencoba mencari tahu, tapi Hutan Kesunyian selalu pandai menyembunyikan rahasianya.

“Ayundria.”

Suara lembut, tapi tegas terdengar dari balik pintu kayu bundar yang melengkung sempurna, seorang perempuan masuk, membawa nampan berisi roti hangat dan sup harum.

Lyla. Rambutnya hitam, panjang dan sedikit beruban, terikat rapi di belakang kepala. Matanya menyimpan keteduhan, tapi juga sesuatu yang sulit ditebak, seperti sebuah rahasia yang ia simpan erat. Tangannya cekatan, namun gerakannya selalu berhati-hati, seolah setiap langkahnya harus diperhitungkan.

Ayundria menoleh, senyumnya cerah. “Ibu, hutan hari ini tampak berbeda. Kabutnya lebih tebal, seakan ada sesuatu di baliknya.”

Lyla meletakkan nampan itu di meja bundar kayu. Tatapannya singgah sebentar ke luar jendela sebelum ia kembali menatap Ayundria. “Hutan selalu berubah. Itulah sifatnya. Jangan terlalu lama menatapnya, Ayundria. Kau bisa tersesat bahkan hanya dengan pandangan.”

“Tersesat?” Ayundria tertawa kecil. “Aku bahkan belum pernah melangkah keluar dari sini.”

Lyla mendekat, merapikan helai rambut Ayundria yang berkilau di bawah cahaya sore. “Dan itu sebabnya kau aman. Dunia luar penuh bahaya yang tak bisa kau bayangkan.”

Ayundria menunduk sejenak, lalu berkata lirih, “Tapi aku ingin tahu, Ibu. Aku ingin melihat apa yang ada di balik hutan ini.”

Ada keheningan singkat. Tatapan Lyla melembut, tapi ada ketegangan yang tersirat dalam sorot matanya. “Ada saatnya, Ayundria. Tapi belum sekarang.”


***


Malam di Hutan Kesunyian berbeda dengan malam di tempat lain. Gelapnya begitu pekat, seolah menelan seluruh cahaya. Suara burung malam, gesekan ranting, dan bisikan angin kerap bercampur, membentuk harmoni yang aneh, antara menenangkan sekaligus menakutkan.

Ayundria duduk di ambang jendela bundar menara, kedua kakinya menggantung, rambut emas panjangnya mengalir turun sampai menyentuh lantai. Bulan yang samar-samar terselip di balik kabut menyorot wajahnya, membuat matanya yang berwarna biru muda tampak berkilau.

Ia menatap jauh ke arah hutan, matanya penuh tanda tanya. Bagi Ayundria, dunia hanya selebar jendela menara ini. Ia tahu pepohonan, burung, hujan, dan kabut. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana rasanya berjalan di jalanan kota, mendengar suara pasar, atau mencicipi makanan selain yang dimasak ibunya.

Lihat selengkapnya