Whispers of The Lost Princess

Rey Orphan
Chapter #3

Bab 2 — Mimpi Mahkota Hitam

Gelap.

Ayundria berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding, seolah dunia hanya berisi langit hitam yang tidak berujung. Udara terasa berat menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.

Di hadapannya, muncul singgasana tinggi dari batu hitam berkilau, menjulang seperti tebing. Dan di atasnya duduk seorang wanita.

Wajah wanita itu samar, seperti tertutup kabut. Tapi Ayundria bisa melihat jelas mahkota hitam di kepalanya, bercabang seperti duri-duri tajam, seolah tumbuh langsung dari tengkoraknya.

Mata wanita itu bersinar merah redup. Tatapannya menembus Ayundria, menusuk ke dalam jiwanya.

Suara dingin mengalun, bergema dari segala arah. “Kau milikku…”

Ayundria ingin berteriak, tapi bibirnya terkunci. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap ketika wanita itu mengangkat tangannya. Dari jari-jarinya, merembes kabut hitam pekat yang menjalar ke lantai.

Kabut itu merayap menuju kaki Ayundria. Dinginnya menusuk tulang. Suara itu semakin keras, memecah kehampaan.

“Tak peduli sejauh mana kau berlari, darahmu akan kembali padaku.”

Ayundria berusaha mundur, tapi tanah di bawah kakinya retak, seperti kaca rapuh. Di balik retakan itu, ia melihat lautan api dan ribuan bayangan meronta.

Wanita bermahkota hitam itu tersenyum samar, dan dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di hadapan Ayundria. Nafasnya terasa dingin di wajah.

 “Bangunlah, anakku…”

Ayundria terperanjat. Kabut hitam melilit lehernya. Dan ia terjaga.

Nafasnya terengah, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kamar menara itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan dari jendela.

“Tidak, itu hanya mimpi,” bisiknya pelan. Tapi jantungnya berdebar keras, seolah ada sesuatu yang masih mengikuti dari mimpinya.

Pintu kamar berderit pelan. Ibunya masuk membawa lampu minyak kecil yang menerangi sebagian ruangan. Wajahnya teduh seperti biasa, tapi matanya langsung menangkap kegelisahan Ayundria yang duduk pucat di atas ranjang.

“Ayundria,” suaranya lembut, tapi ada nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan. “Kau bermimpi buruk lagi?”

Ayundria mengangguk cepat, tangannya masih gemetar. “Ada seorang wanita, dia memakai mahkota hitam dan dia bilang aku anaknya.”

Mata Lyla sempat membesar. Sekilas lampu minyak di tangannya bergetar, nyaris padam. Tapi ia segera menguasai diri, duduk di samping Ayundria sambil meraih tangan putrinya. “Itu hanya mimpi, sayang. Tidak nyata,” katanya mencoba menenangkan, meski nada suaranya sedikit kaku.

“Tapi itu terasa sangat nyata, Ibu. Dia menatapku, aku bisa merasakan dinginnya, seperti dia benar-benar ada di sini.” Ayundria menggenggam tangan Lyla lebih erat. “Siapa dia, Ibu?”

Lyla terdiam. Matanya menolak bertemu pandangan Ayundria. “Kau terlalu banyak membaca dongeng lama yang kutinggalkan di rak buku. Imajinasi kadang bisa menakutkan.”

Ayundria ingin percaya, tapi sesuatu dalam sorot mata ibunya terasa berbeda. Seperti ada kebenaran yang coba ditutupinya.

Suara malam merambat masuk dari jendela. Hutan Kesunyian di luar menara begitu sunyi, hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan. Dan entah mengapa, bagi Ayundria, sunyi itu justru terasa semakin berat.

Lyla mengelus rambut panjang Ayundria, seolah mengalihkan perhatian. “Tidurlah lagi. Aku akan berada di sini sampai kau tenang.”

Namun ketika Ayundria akhirnya perlahan memejamkan mata, Lyla menatap keluar jendela. Cahaya bulan menyinari wajahnya, dan bayangan kecemasan yang dalam melintas di matanya.

Lihat selengkapnya