Whispers of The Lost Princess

Rey Orphan
Chapter #4

Bab 3 — Siapa Pria Asing itu?

Hari itu terasa berbeda bagi Ayundria. Burung-burung yang biasanya riang berkicau di sekitar menara, kini tampak menjauh, hanya tersisa bisikan angin yang menyusup lewat celah jendela batu. Dari tempat tidurnya, ia memeluk lutut, memikirkan mimpi semalam. Mahkota hitam. Tatapan mata yang menusuk. Bisikan "kau milikku" masih bergaung di kepalanya.

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Namun justru hutan di luar menara terasa lain. Daun-daun bergoyang tanpa arah angin. Ranting-ranting berderit seolah berbisik, dan Ayundria merasa seperti sedang diperhatikan.

Ia berjalan ke jendela tinggi menara, menempelkan dahinya ke kaca. Pandangan luas menampakkan Hutan Kesunyian, hijau gelap dan tak berujung. Tapi telinganya menangkap suara samar, hampir tak terdengar. Suara asing yang baru didengarnya didalam hutan.

Suara itu seperti siulan dengan nada naik-turun sederhana, tapi membuat bulu kuduknya meremang. Ayundria membeku, jantungnya berpacu. Selama ini Lyla selalu berkata tidak ada seorang pun yang bisa masuk hutan ini. Tapi suara itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Ia menahan napas. Dan di kejauhan, di antara pepohonan, cahaya biru samar berkelebat.

Ayundria duduk di tepi jendela menara. Matanya menatap jauh, menembus kabut tipis yang menggantung rendah di atas pepohonan Hutan Kesunyian. Malam ini terasa berbeda, lebih sunyi dari biasanya, seakan seluruh hutan sedang menahan napas.

Lalu ia melihatnya. Awalnya hanya seberkas cahaya biru samar, seperti kilatan api kunang-kunang. Tapi kunang-kunang tidak sebesar itu. Cahaya itu bergerak, perlahan, berdenyut seperti detak jantung, sebelum berhenti di bawah naungan pohon oak tua.

Ayundria merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan hati-hati ia mencondongkan tubuh, menempelkan dahi pada kaca dingin jendela menara. Dan di sanalah ia melihat sosok itu.

Seorang pria berdiri tegap, dengan jubah lusuh berwarna biru gelap yang berkibar pelan tertiup angin hutan. Sebatang tongkat panjang tergenggam di tangannya, dan dari ujungnya memancar cahaya biru berdenyut, seolah hidup. Wajahnya terhalang bayangan pepohonan, namun Ayundria bisa merasakan tatapannya.

Ayundria menelan ludah. Napasnya tercekat. Tidak mungkin… tidak ada manusia lain di Hutan Kesunyian. Selama ini hanya aku dan Ibu, pikirnya.

Tangannya refleks meremas kusen jendela, jantungnya berdetak kencang. Seolah menyadari bahwa ia sedang diawasi, pria itu mendongak.

Mata mereka bertemu. Hanya sesaat, tapi cukup membuat Ayundria merasa tubuhnya bergetar hebat. Ada sesuatu di balik tatapan itu—bukan ancaman, tapi juga bukan kenyamanan. Sesuatu yang tak bisa ia pahami, seperti rahasia yang belum seharusnya ia tahu.

Ayundria mundur setengah langkah dari jendela, nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi sebelum ia bisa berpaling, pria itu mengangkat tongkatnya.

Cahaya biru menari, membentuk simbol-simbol aneh di udara. Bentuknya seperti lingkaran yang saling bertaut, lalu pecah menjadi pecahan cahaya.

Kilatan itu menerangi wajahnya sesaat, cukup untuk memperlihatkan garis wajah muda namun letih, dengan sorot mata tajam seperti petir yang tertahan.

Lalu, secepat cahaya itu muncul, semuanya lenyap.

Sosok pria itu menghilang. Bukan berlari. Bukan bersembunyi. Pria itu menghilang begitu saja, seperti hutan menelannya bulat-bulat.

Ayundria terpaku. Tangannya meraba kaca jendela, tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya masih berdetak kencang, matanya menatap kosong kearah pria itu berdiri.

Siapa dia? Bagaimana bisa ada orang lain di sini?

Ayundria masih berdiri di depan jendela, dengan kedua tangannya gemetar. Pandangannya kosong, berusaha mencari sisa cahaya biru itu di antara kabut hutan. Tapi gelap sudah kembali menguasai segalanya, seolah apa yang ia lihat tadi hanyalah ilusi.

“Tidak mungkin hanya ilusi, aku jelas-jelas melihatnya. Aku yakin itu,” gumamnya sambil terus menatap hamparan hutan dibawah sana.

Pintu kamarnya berderit pelan. Ayundria tersentak, buru-buru menutup jendela dan membalikkan badannya. Lyla berdiri di ambang pintu, membawa lentera kecil. Sorot matanya tajam meski wajahnya tetap tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya