Langit sore di Hutan Kesunyian mendadak bergemuruh. Petir menyambar, bukan ke tanah, melainkan melintas seperti ular cahaya di antara pepohonan raksasa. Ayundria yang tengah menatap keluar jendela menara terperanjat—bukan hanya karena kilat itu, tapi karena di dalam nyala biru keperakan itu, ia melihat sosok berlarian di atas dahan-dahan pohon tinggi, seolah petir itu sendiri menuntun jalannya.
Sosok itu melompat, mendarat dengan ringan di halaman menara, dikelilingi kilatan kecil yang masih menari di udara. Ayundria menahan napas, matanya membesar.
Untuk pertama kalinya, Ayundria melihat wajah pria itu dengan jelas. Rambutnya perak pucat, mata biru berkilau seperti langit badai. Jubah panjangnya berkibar, dan tongkat kayu dengan inti kristal hitam-biru tergenggam di tangannya.
“Jadi ini menara yang katanya tak bisa ditembus.” Suaranya dalam, sedikit sinis, tapi ada nada kagum di baliknya.
Ayundria mundur setengah langkah. “Siapa kau?”
Pria itu tersenyum samar, menunduk hormat dengan gaya khas seorang pengelana. “Namaku Bill. Hanya seorang petualang yang tersesat di hutan.”
Petir kecil berkilat di ujung jarinya saat ia menjentikkan tangan, lalu menghilang begitu saja. Ayundria tertegun.
Bill menatapnya penuh selidik, lalu bergumam seolah pada dirinya sendiri, “Jadi benar, kau ada di sini.”
Sebelum Ayundria sempat bertanya apa maksudnya, suara pintu batu berat dari dalam menara berderak terbuka. Lyla muncul, wajahnya dingin bagai es, tatapan matanya menusuk Bill.
“Bill.” Namanya dilontarkan seperti kutukan.
Ayundria tersentak, ini pertama kalinya ia mendengar ibunya menyebut nama orang asing dengan nada sedingin itu.
Bill hanya tersenyum tipis, meski sorot matanya tegang. “Sudah lama tak jumpa, Lyla.”
Ayundria menoleh bingung dari satu ke yang lain, merasakan ketegangan pekat di udara. “Kalian saling mengenal?”
Lyla mendekat, berdiri di antara Ayundria dan Bill. “Masuk, Ayundria. Orang ini bukan tamu yang pantas untukmu.”
Bill terkekeh lirih, tapi matanya tetap menatap Ayundria. “Atau mungkin justru akulah orang yang kau tunggu selama ini.”
Langit kembali bergetar, seolah menyahut kata-katanya.
***
Pintu batu berat menutup kencang, seakan menyegel udara di dalam ruangan. Ayundria berdiri canggung di sisi ibunya, matanya terpaku pada sosok pria asing yang kini berdiri di ruang utama. Kilatan petir tipis masih menari di sekitar ujung jubahnya, membuatnya tampak seperti baru saja keluar dari badai.
Bill menepuk-nepuk bahunya, seolah mencoba mengibas sisa listrik yang menempel. “Ah, selalu ada masalah kalau masuk rumah orang lewat petir. Rambut bisa berdiri, baju gosong, bahkan kadang-kadang… sepatu hilang sebelah.” Ia menoleh ke kakinya, lalu mendesah lega. “Syukurlah, kali ini lengkap.”
Ayundria menahan tawa, tapi segera menutup mulutnya begitu menyadari tatapan Lyla yang sedingin es.
Bill melangkah ringan, seolah ruangan itu miliknya. Ia berputar, meneliti rak-rak penuh buku tua, botol ramuan, ukiran kuno di dinding. “Hmm, tidak berubah sama sekali. Masih bau ramuan cacing tanah campur jamur busuk. Nostalgia masa lalu.”
Lyla mendesis pelan, “Keluar, Bill.”
“Keluar?” Bill terkekeh, mengangkat alisnya. “Baru saja aku masuk, kau langsung mengusirku? Kau ini tuan rumah yang paling tidak ramah seantero daratan, Lyla. Atau masih marah karena aku pernah—” ia berhenti, lalu melirik Ayundria dengan senyum nakal. “Eh, itu rahasia orang dewasa.”
“Bill!” Suara Lyla meledak dingin, membuat udara di sekitarnya terasa beku.
Ayundria makin bingung. Antara takut, penasaran, dan geli mendengar cara bicara Bill yang enteng meski jelas sedang diancam.
Bill menoleh ke Ayundria, mengedipkan sebelah mata. “Jangan khawatir. Aku bukan pencuri, bukan perampok, dan jelas bukan tabib yang gagal. Aku hanya petualang yang suka kebetulan tersesat di tempat-tempat menarik.”
Ayundria memberanikan diri bertanya, “Kau sudah pernah ke sini?”