Whispers of The Lost Princess

Rey Orphan
Chapter #6

Bab 5 — Rindu Pada Dunia Luar

Sejak malam itu, kata-kata Bill bergaung di kepala Ayundria.

Carilah langit di luar hutan ini.

Ia duduk di ambang jendela menara, menatap langit pagi yang ditutupi kabut tebal Hutan Kesunyian. Suara burung-burung asing terdengar samar, tapi langit di atas sana selalu sama—biru pucat yang tak pernah berubah.

Ayundria menghela napas. Jari-jarinya menyentuh kaca jendela, seolah mencoba meraih sesuatu yang lebih jauh. “Dunia luar…” bisiknya. “Apakah benar-benar ada sesuatu di balik hutan ini?”

Hari-hari berlalu, tapi rasa penasaran itu tak pernah padam. Justru semakin kuat. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan: arah angin yang membawa aroma asing, suara samar seperti nyanyian di kejauhan, bahkan bayangan cahaya merah senja yang kadang menembus celah pepohonan.

“Kalau semua orang yang masuk ke hutan ini tak pernah kembali…” gumamnya pelan, “bagaimana bisa Bill sampai di sini?”

Pertanyaan itu menusuk batinnya, mengusik setiap kali ia mencoba melupakan.

Lyla, yang biasanya peka terhadap perubahan anak itu, kini makin sering menatapnya lama-lama, seolah ingin membaca pikirannya. “Ayundria,” katanya suatu sore, “kau terlihat gelisah. Apa yang ada di pikiranmu?”

Ayundria menelan ludah. “Tidak… tidak ada, Bu.”

Tapi senyumnya yang dipaksakan tak mampu menyembunyikan sorot matanya yang penuh rasa ingin tahu.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh. Bukan hanya rasa penasaran—tapi kerinduan yang ia sendiri tak bisa jelaskan.

Kerinduan pada dunia yang bahkan belum pernah ia lihat.

Sore itu, Ayundria duduk di ruang utama menara, mencoba membaca buku-buku tua yang selalu diberikan Lyla untuk mengisi harinya. Tapi kalimat-kalimat di halaman tak lagi tertangkap jelas di kepalanya. Setiap huruf seperti menari, membentuk kata lain: langit, dunia luar, dan Bill.

“Kenapa kau tidak serius membaca bukumu?” suara Lyla memecah lamunannya.

Ayundria terlonjak, buru-buru menutup buku itu. “Aku... aku hanya lelah, Bu.”

Lyla menatapnya dengan sorot tajam, lalu duduk di kursi seberangnya. Keheningan jatuh, hanya suara api di perapian yang terdengar berderak pelan.

“Ayundria,” kata Lyla akhirnya, nada suaranya datar tapi tegas. “Sejak pria itu muncul, kau berubah.”

Ayundria membeku. Jantungnya berdegup kencang. “Aku hanya penasaran, Bu,” jawabnya, suara kecil. “Bagaimana dia bisa sampai ke sini, padahal kau bilang tak ada yang bisa keluar-masuk Hutan Kesunyian?”

Lyla tak langsung menjawab. Tangannya terlipat di pangkuan, wajahnya bagai patung yang dingin. Hanya matanya yang bergerak, menatap tajam seakan hendak mengukur isi hati Ayundria.

“Beberapa hal lebih baik tidak kau ketahui,” ucap Lyla akhirnya.

“Tapi—”

“Tidak ada tapi.” Nada Lyla kini tegas, bagai cambuk. “Dunia luar tidak seperti yang kau bayangkan. Itu tempat penuh kebohongan, pengkhianatan, dan bahaya yang tak bisa kau bayangkan. Kau aman di sini, Ayundria. Bersamaku.”

Ayundria menggigit bibirnya, berusaha menahan perasaan yang meletup di dadanya. “Tapi aku tidak ingin hanya aman. Aku ingin tahu. Aku ingin melihat…” suaranya melemah, “aku ingin hidup seperti orang lain.”

Lyla berdiri mendadak, kursinya berderit keras. Bayangan tubuhnya menjulang, wajahnya muram. “Cukup!”

Ayundria menunduk, air mata menumpuk di pelupuk matanya. Tapi di dalam hatinya, api kecil telah menyala. Kata-kata Lyla, alih-alih memadamkan rasa ingin tahunya, justru membuatnya semakin berkobar.


***

Lihat selengkapnya