Langit malam mendadak disobek oleh cahaya hijau pekat. Bukan sekadar cahaya, tapi retakan seperti luka raksasa di angkasa, dari mana kegelapan merembes, menetes ke bumi bagaikan racun.
Ayundria terhuyung, matanya tak bisa lepas dari fenomena itu. Suara bergemuruh terdengar, bukan seperti guntur, melainkan seperti ratapan panjang, seakan ribuan roh tersiksa berteriak bersamaan.
Bill menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan lepaskan. Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan aku!” Petir biru berloncatan di tubuhnya, seolah instingnya sudah bersiap sebelum bahaya benar-benar muncul.
Pepohonan raksasa Hutan Kesunyian ikut bereaksi. Daun-daunnya menggugurkan diri seperti hujan deras, dahan-dahannya berderak menjerit. Dari dalam kegelapan hutan, muncul makhluk-makhluk aneh, bayangan dengan bentuk samar, tubuhnya menyerupai serangga, tapi kepalanya berongga dan kosong. Mata mereka berkilat hijau, bergerak seperti kabut hidup.
Ayundria mundur, tubuhnya gemetar. “Apa… apa itu?”
Bill menatap tajam. “Itu sebabnya tak ada yang keluar hidup-hidup dari Hutan Kesunyian. Mereka disebut Penjaga Bayangan, pasukan yang dikirim untuk menelan cahaya apa pun yang tersesat di sini.”
Salah satu makhluk melolong, suaranya menusuk telinga. Ayundria menutup telinganya, tapi suara itu menembus langsung ke dalam pikirannya, membuat kepalanya terasa pecah.
Bill melangkah maju, petir di tubuhnya membentuk kilatan yang siap dilepaskan. “Tetap di belakangku, Ayundria. Malam ini kau akan lihat bagaimana seorang petualang yang hidup dua ratus tahun melawan kegelapan.”
Kilatan petir biru menyambar tanah, menerangi wajah Bill yang setengah bayangan, setengah cahaya. Di balik rasa takutnya, Ayundria merasakan sesuatu yang lain—kegembiraan liar yang membara di dalam sorot mata Bill.
Bayangan-bayangan itu maju, tubuh mereka bergetar seperti kabut pekat yang mengambil wujud serangga mengerikan. Sepasang mata hijau menyala menatap Ayundria, seolah ingin menelannya bulat-bulat.
Bill mendengus. “Ah, wajah-wajah seram lagi. Seumur hidup, aku selalu berharap musuhku lebih tampan dari ini. Tapi yah, apa boleh buat.”
Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Seketika, petir biru melompat dari langit, menghantam tongkat itu dengan dentuman dahsyat. Getarannya membuat tanah bergetar, pohon-pohon terbelah, udara terasa penuh listrik.
“Ayundria, lihat baik-baik!” serunya sambil melirik gadis itu dengan senyum nakal. “Beginilah caranya seorang pria yang baik hati memasak serangga.”
Seketika, ia mengayunkan tongkat. Dari ujungnya, meluncur kilatan petir berbentuk naga, menyambar tiga bayangan sekaligus. Makhluk-makhluk itu menjerit, tubuhnya berasap sebelum lenyap jadi kabut hitam.
Ayundria menatap takjub, tapi juga ngeri. “Kau… kau menyebut itu memasak?!”
Bill terkekeh, melompat ke depan dengan kecepatan kilat. Setiap langkahnya membuat tanah retak, meninggalkan jejak api biru. Ia berputar cepat, mengayunkan tongkatnya dengan gaya berlebihan seperti penari. “Hei, kalau hidupmu dipenuhi kegelapan, kau harus belajar menertawakan semuanya! Bahkan saat kau hampir dimakan serangga bayangan!”
Tiba-tiba, salah satu bayangan melesat dari samping, cakarnya terhunus ke arah leher Bill. Dengan refleks secepat cahaya, Bill membungkuk rendah, lalu muncul di belakang makhluk itu.
“Ups, hampir saja! Kau hampir membuat rambut perakku kusut dan itu adalah dosa besar.”
Bumm!
Petir meledak dari telapak tangannya, menghancurkan bayangan itu jadi abu hitam.
Ayundria menutup mulutnya, setengah ngeri setengah ingin tertawa. Sosok Bill benar-benar aneh, antara penyelamat dan orang gila.
Namun, jumlah bayangan semakin banyak. Puluhan, lalu ratusan muncul dari balik kabut hutan. Langit hijau pekat bergetar, seolah retakan di udara semakin lebar.
Bill berdiri tegak, tongkatnya berkilau penuh listrik. Senyum liarnya tak pudar sedikit pun. “Bagus,” katanya dengan nada gembira yang membuat Ayundria merinding. “Aku benci pertarungan singkat. Mari kita menari sampai fajar, kalian monster busuk!”
Bayangan-bayangan itu datang bagai banjir gelap, bergerak cepat, mengitari Bill dari segala arah. Tongkatnya terus memercikkan kilatan petir, tubuhnya melompat lincah, suaranya masih terdengar riang.
“Ayundria! Kau harus akui, ini lebih seru daripada menatap menara setiap hari, kan?” katanya sambil meledakkan tiga makhluk sekaligus.
Ayundria membuka mulut hendak menjawab, tapi sebelum kata-kata keluar—sesuatu melompat dari kabut, jauh lebih besar dari yang lain. Bayangan itu berwujud seperti seekor serigala raksasa dengan mata hijau menyala dan mulut penuh gigi asap tajam.