Hutan Kesunyian bergemuruh. Suara cabang patah, lolongan panjang, dan dentuman langkah berat mengguncang tanah. Dari kabut hijau pekat yang menggantung di antara pepohonan raksasa, ratusan sosok hitam bermata merah menyala bermunculan. Tubuh mereka seperti asap yang dipadatkan, mencakar tanah dengan kuku panjang yang berkilau.
Ayundria terdiam di belakang Bill, jantungnya berpacu tak karuan. Udara terasa dingin, menusuk tulang.
Bill, sebaliknya, berdiri tegak di depan, bahunya terguncang kecil, bukan karena takut, melainkan karena ia tertawa. “Ha! Sudah ratusan tahun aku tak disambut meriah begini.” Ia menepuk-nepuk tongkatnya ke tanah, membuat kilat kecil meletup keluar. “Ayundria, kau lihat? Mereka datang dengan rombongan penuh hormat, hanya untukku.”
Ayundria memandangnya tak percaya. “Kau masih bisa bercanda? Mereka—mereka itu…”
“Monster?” Bill menoleh cepat, mata birunya berkilat liar. “Oh, sayang kecilku, mereka hanyalah bayangan. Dan aku sudah menari dengan bayangan sejak sebelum nenek moyang mereka belajar berjalan.”
Sebelum Ayundria sempat menanggapi, tanah bergetar lebih keras. Dari balik kabut, sesuatu yang jauh lebih besar muncul—seekor makhluk setinggi menara itu sendiri. Tubuhnya terbuat dari kabut pekat bercampur akar hitam yang melilit, kepalanya bertanduk tiga, dan di tengah dadanya bersemayam cahaya hijau berdenyut seperti jantung raksasa.
Ayundria terhuyung mundur. “Apa itu?”
Bill tersenyum tipis, suaranya menurun penuh kekaguman. “Itu Raja Bayangan. Sang penguasa hutan yang bahkan, aku sendiri tak yakin Lyla bisa melawannya.”
Raja Bayangan mengangkat tangannya, dan seketika puluhan monster kecil melompat maju. Mereka mengaum, mencakar, berlari lurus ke arah Ayundria dan Bill.
Bill menjilat bibirnya, lalu menoleh sekilas ke Ayundria dengan senyum yang terlalu lebar untuk situasi segenting ini. “Jangan berkedip. Kau harus menyaksikan pertunjukan hebat dariku.”
Tongkatnya terangkat tinggi, dan langit seakan pecah. Kilatan petir berwarna biru keperakan melesat turun, menghantam tanah di depan mereka. Suara ledakannya membuat pepohonan berderak, tanah terbelah, dan puluhan monster yang menyerang hancur menjadi kabut.
Bill menoleh ke Ayundria lagi, matanya berkilat nakal. “Bagaimana? Tidak buruk untuk pemanasan, kan?”
Ayundria membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. Ketakutannya bercampur dengan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.
Namun Raja Bayangan tak tinggal diam. Dari tubuhnya yang raksasa, puluhan tentakel hitam melesat, berusaha meraih Bill. Dan Bill hanya tertawa lepas. “Inilah saatnya tarian yang sebenarnya dimulai!”
***
Petir terakhir mereda, meninggalkan tanah hangus dan kabut putih yang menguap ke udara. Ayundria terengah, jantungnya masih berpacu. Ia baru saja menyaksikan kehebatan Bill, yang membuatnya yakin tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa mengalahkan penyihir itu.
Tapi kesan itu hanya bertahan beberapa detik.
Dari bayangan pohon-pohon raksasa, tentakel hitam Raja Bayangan melesat cepat, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Mereka melingkar seperti ular, bergerak dalam keheningan mematikan. Bill sempat menepis beberapa dengan kilatan petir, tapi terlalu banyak.
Salah satu tentakel menghantam tanah di dekatnya, membuat Bill terpental ke belakang. Tongkatnya terlepas, jatuh beberapa langkah jauhnya. Tubuhnya terikat dalam lilitan hitam yang menyesap cahaya, menjerat tangannya ke samping.
“Bill!” Ayundria menjerit, berlari setengah langkah sebelum terhenti.
Bill mendongak, wajahnya tegang namun senyum liarnya masih belum hilang. “Hei, jangan panik. Ini cuma pelukan hangat dari monster jelek itu. Kau tahu, aku pernah dipeluk naga betina birahi yang jauh lebih menakutkan.”
Ayundria tak bisa percaya ia masih bercanda, padahal tentakel itu makin mengencang, menekan tubuh Bill. Raja Bayangan menggeram, suara bergemuruh yang membuat daun-daun berguguran.
“Pergilah, Ayundria!” teriak Bill, kali ini suaranya lebih serius. “Aku bisa mengatasinya. Tapi kalau kau tetap diam di sana, kita berdua yang akan jadi makanannya!”