Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk padanya.
Ayundria menelan ludah. “Apa kita bisa mengalahkan monster itu?”
Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja! Kalau tidak bisa, setidaknya kita mati keren, kan?”
Ayundria melotot. “Kau gila!”
“Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!”
Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah.
Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antara bayangan. Setiap ayunan tongkatnya, petir menyambar, memotong tentakel-tentakel itu.
Ayundria, dengan napas masih terburu, mengangkat kedua tangannya. Es berderak, menjalar dari kakinya, membentuk jalan licin memanjang. Ia melompat ke atasnya, meluncur seperti sedang bermain, tubuhnya berputar lincah di udara. Setiap ayunan tangannya melepaskan serpihan es tajam yang menghujani bayangan.
“WOOOHOOO!” Ayundria tertawa histeris, antara panik dan euforia. “Ini gila sekali!”
Bill menoleh sekilas, terkekeh meski sambil menghindar. “Nah, itu semangatnya! Selamat datang di hidupku yang berantakan!”
Raja Bayangan mengamuk. Kedua tangannya menghantam tanah, membuat gelombang bayangan menyebar, menelan cahaya bulan. Bayangan itu mengejar mereka, cepat, liar.
Ayundria melompat, hampir terhantam. Bill mendadak muncul di sampingnya, menyambar lengannya dengan kecepatan kilat. “Lompatanmu jelek, tapi gaya meluncurmu? Sepuluh dari sepuluh!”
Ayundria mendengus, lalu mengacungkan kedua tangannya ke tanah. Es membuncah, membentuk dinding kristal yang menahan hantaman bayangan. Retakannya pecah, tapi cukup memberi waktu bagi Bill untuk menembakkan sambaran petir yang meledak, memecah dinding itu bersamaan dengan bayangan yang menyerbu.
Ledakan biru dan putih memenuhi hutan. Untuk sesaat, cahaya mereka benar-benar menari-nari di tengah kegelapan.
Namun Raja Bayangan hanya bergeming, matanya merah menyala lebih kuat, suaranya bergema seperti ribuan mulut berbisik sekaligus. “Kalian hanyalah serpihan kecil dan aku adalah malam itu sendiri.”
Ayundria terhuyung, lututnya lemas mendengar bisikan itu di dalam kepalanya. Bill menepuk bahunya cepat. “Hei, jangan dengarkan! Fokus pada tarian kita. Dia mungkin malam yang gelap, tapi kita punya badai.”
Bill mengangkat tongkatnya tinggi. Petir melesat ke langit, bergaung di seluruh hutan. Ayundria menggenggam tangannya, merasakan hawa dingin berputar di telapak tangan, lalu mengalir ke udara jadi kepingan salju berkilau.
Dan untuk pertama kalinya, mereka benar-benar bergerak bersama, petir dan es saling bersilangan, cahaya biru keperakan menari-nari, menghadapi gelap yang menelan segalanya.
Petir dan es menari di udara. Bill bergerak liar, seperti badai yang tak terkendali. Tongkatnya berputar, mengalirkan kilat yang melesat bagai naga bercahaya. Di sisinya, Ayundria menciptakan lintasan es, tubuhnya meluncur cepat, membekukan setiap bayangan yang mencoba meraih mereka.
“Ha! Lihat itu, Ayundria!” Bill berteriak sambil tertawa, meski darah menetes di pelipisnya akibat terkena serangan Raja Bayangan. “Kau lebih lincah daripada naga kutub!”
Ayundria, napasnya terengah, tak bisa menahan senyum kecil meski keringat bercucuran. “Dan kau terlalu banyak bicara daripada burung Beo!”
Es berkilau, petir menggelegar—dua kekuatan yang saling bersilang, seolah mereka sedang menari dalam irama perang.
Tapi Raja Bayangan tetap berdiri. Tubuhnya dikelilingi kabut hitam, setiap serangan hanya memercikkan cahaya tanpa luka berarti. Ia bahkan terkekeh, suara beratnya menggetarkan tanah.