Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat.
Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya.
Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.”
Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain—pada Lyla.
Ibunya berdiri tegak di antara puing dan bayangan, jubahnya berkibar pelan, aura dingin masih menyelimutinya. Namun kali ini, Ayundria melihatnya dengan mata berbeda, bukan hanya sebagai seorang ibu, melainkan sebagai pejuang yang bahkan Raja Bayangan pun tunduk padanya.
Ada sesuatu yang menyesakkan di dada Ayundria. Kekaguman, ketakutan, dan keraguan bercampur menjadi satu.
Sunyi menyelimuti mereka bertiga. Hanya suara dedaunan yang jatuh, sesekali angin dingin yang melintas membawa sisa aroma es dan ozon dari petir.
Ayundria ingin bicara, tapi lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya, ia sadar dunia baru saja memperlihatkan wajah aslinya.
***
Malam itu, menara terasa lebih sunyi daripada biasanya. Api dalam perapian menyala redup, menari pelan di balik jeruji besi, melemparkan bayangan panjang di dinding batu. Bau asap kayu bercampur dengan aroma logam darah dan debu yang terbawa masuk dari luar.
Ayundria duduk di kursi kayu dekat perapian, kedua tangannya masih kaku, sesekali ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah mencari jawaban atas apa yang baru saja ia lakukan.
Bill, dengan wajah penuh goresan tapi tetap menyeringai, duduk santai di meja bundar, melempar kacang kering dari mangkuk ke mulutnya. Kadang meleset, kadang kena—dan setiap kali meleset, ia tertawa sendiri, seperti tak ada hal serius yang baru terjadi.
Lyla berdiri dengan tangan terlipat, punggungnya menempel pada dinding batu. Mata tajamnya mengawasi Bill, lalu turun pada Ayundria. Diam. Tegas. Namun berbeda dari biasanya, kali ini ada sesuatu di balik sikap dinginnya, seperti keraguan.
“Jadi,” Bill memecah keheningan, suaranya bergema di dalam menara, “kita pura-pura tidak melihat pertunjukan indah di luar sana? Es, petir, bayangan—sebuah pesta yang layak diberi nama. Aku sebut itu: Tarian Malam Hutan Kesunyian.”
Ayundria melotot. “Kau pikir itu lelucon? Kita hampir mati tadi!”
Bill mengangkat bahu, tetap tersenyum nakal. “Semua petualangan yang indah punya harga. Dan hei, kau tidak mati, kan? Kau malah bersinar.”
Lyla melangkah maju, suaranya dingin menusuk. “Cukup, Bill!” Ia menatap putrinya, sorot matanya tajam namun bergetar halus. “Ayundria, kau sudah melihat apa yang ada di luar sana. Kau sudah merasakan kekuatanmu sendiri. Inilah yang selama ini kutakutkan.”
Ayundria menggigit bibir, matanya basah. “Jadi selama ini Ibu menyembunyikanku untuk melindungiku?”
Lyla terdiam sejenak. Api perapian berderak, seolah ikut menunggu jawabannya.
Bill bersiul pelan, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Atau mungkin, hmm, kau hanya ingin mengurungnya di menara ini supaya ia tak pernah tahu siapa dirinya? Karena jujur saja, aku tidak yakin Ayundria suka jadi burung dalam sangkar emas, Lyla.”