Whispers of The Lost Princess

Rey Orphan
Chapter #11

10. Pulau Para Naga

Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum.

Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan.

Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali!”

Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.”

“Hidangan utama?” Ayundria mengerutkan kening.

“Ya. Misalnya…” Bill mendadak berhenti, menatap ke kejauhan dengan wajah serius. Ayundria ikut menegang. Lalu Bill menunjuk, “itu.”

Di antara kabut, seekor rusa raksasa muncul, tubuhnya ramping, tanduknya bercahaya emas, menyebar seperti cabang pohon yang berapi lembut. Langkahnya anggun, dan tiap kali tanduknya berkilau, kawanan kupu-kupu biru beterbangan dari dalam cahaya itu, seperti kelahiran bintang-bintang kecil.

Ayundria menahan napas, terpukau. “Cantik sekali!”

Bill menoleh padanya, ekspresi wajahnya dibuat setengah serius. “Ya, sampai dia bosan dan menyerudukmu. Satu kali tabrakannya bisa merobohkan menara.”

Ayundria menoleh cepat, kaget. “Apa?!”

Bill meletakkan telunjuk di bibir, menahan tawa, lalu terkekeh lepas. “Aku bercanda, sebagian.”

“Bill!” Ayundria memukul lengannya, wajahnya memerah antara malu dan kesal. Tapi hatinya ringan, tawa kecil keluar tanpa bisa ditahan.

Hutan terus memberi mereka kejutan. Dari cabang tinggi, seekor rubah kecil dengan bulu transparan menatap mereka, tubuhnya nyaris seperti terbuat dari air. Saat ia melompat turun, tubuhnya memercik, tapi kemudian menyatu kembali seperti gelombang yang mengambil bentuk hewan. Seekor burung raksasa melintas di atas mereka, bulu-bulunya memantulkan cahaya matahari seperti prisma, membanjiri tanah dengan spektrum warna pelangi.

Ayundria berjalan semakin cepat, matanya berkilauan. Setiap langkah membuatnya merasa lebih bebas, seakan rantai tak terlihat yang selama ini mengikatnya mulai terlepas.

Namun, di tengah keindahan itu, Bill mendadak berhenti. Matanya yang biasanya penuh kelakar kini menyipit, menatap lurus ke arah kabut tebal di depan.

“Di sanalah batasnya,” katanya pelan, kali ini tanpa gurauan.

Ayundria meneguk ludah, mengikuti tatapan Bill. Di kejauhan, kabut berkumpul lebih pekat, membentuk dinding tipis berwarna keabu-abuan. Dari balik kabut, samar terdengar suara, bukan nyanyian burung, bukan desiran angin, melainkan deru berat—dalam, bergetar, seolah dada bumi sendiri sedang bernapas.

Ayundria merasakan bulu kuduknya meremang. “Apa itu?”

Bill menarik napas panjang, lalu menoleh padanya dengan senyum khasnya. “Itu adalah pintu menuju dunia yang selama ini kau mimpikan. Tapi ingat, setiap pintu besar punya penjaga yang besar pula.”

Petir kecil menyambar ujung jarinya, hanya sekejap, lalu lenyap. Ia berjalan lebih dulu, tangannya memberi isyarat pada Ayundria untuk mengikutinya.

Ayundria menatap sekali lagi ke arah hutan yang penuh cahaya dan keindahan, sebelum akhirnya melangkah ke depan—menuju kabut yang bergetar seperti tirai menuju dunia asing.

Dan di balik tirai itu, suara raungan berat terdengar, mengguncang bumi.


***


Kabut tebal yang mereka masuki berdenyut, seperti dinding hidup yang menolak dilewati. Begitu kaki Ayundria melangkah ke dalam, udara langsung berubah—dingin, pekat, dan berbau belerang. Aroma manis bunga dan nyanyian burung dari hutan seolah lenyap ditelan kekosongan.

Langkah Ayundria berat. Ia bisa merasakan tanah di bawah kakinya bukan lagi rerumputan lembut, melainkan bebatuan hitam yang kasar, panas seperti bara. Kabut semakin menipis, dan yang muncul di hadapan mereka membuat Ayundria ternganga.

Lihat selengkapnya