Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra.
“Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.”
Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.”
Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.”
Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.”
Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya transparan, siripnya memancarkan warna biru lembut, dan mereka berenang di udara seakan-akan udara ini samudra tak terlihat. Jejak bintang kecil tertinggal di belakang siripnya, membubung lalu pecah jadi debu cahaya.
Ayundria menjulurkan tangannya ke depan. Seekor ikan berhenti, menempel di ujung jarinya. Tubuhnya bergetar halus, lalu berpendar lebih terang seolah mengakui keberadaan gadis itu.
Air mata hampir menetes di pipi Ayundria. “Mereka, menyentuhku.”
Bill menatap pemandangan itu, lalu bersuara dramatis sambil mengangkat tangannya ke langit. “Lihatlah! Seorang putri menyalakan lampu jalan untuk kawanan ikan terbang! Sungguh pemandangan yang cocok dituliskan dalam balada… kalau saja aku pandai menulis.”
Ayundria mendengus sambil tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak bisa serius.”
“Oh, aku serius,” Bill mengedip. “Hanya saja serius itu membosankan.”
Belum sempat ia menertawakan dirinya lagi, Ayundria mendongak dan dunia seperti membuka rahasia barunya. Di hadapan mereka, sebuah air terjun raksasa mengalir ke atas, dari dasar lembah menuju langit. Ribuan liter air memanjat udara, berputar bagai pilar kristal, lalu pecah menjadi hujan bintang cair. Tetesannya jatuh perlahan, tiap tetes berkilau, membentuk pelangi samar meski malam sudah turun.
Ayundria menutup mulutnya dengan kedua tangan, terisak karena tak sanggup menahan rasa takjub. “Aku tidak pernah tahu dunia luar bisa seindah ini.”
Bill berdiri di sampingnya, bersandar santai pada tongkatnya, lalu menoleh dengan wajah nakal. “Kau tahu, dulu waktu aku pertama kali melihat ini, aku langsung melompat ke air terjun itu.”
Ayundria menoleh kaget. “Apa? Kau melompat?”
“Yap. Dan hasilnya—” Bill memukul dadanya bangga. “hampir mati tenggelam di tengah udara. Jangan ditiru, kecuali kau ingin paru-parumu dipenuhi bintang cair.”
Ayundria menatapnya tidak percaya, lalu meledak tertawa. “Kau benar-benar gila, Bill.”
Bill ikut tertawa, suaranya liar, menggema di udara. Tapi begitu tawanya mereda, ia menatap pemandangan itu dengan wajah lebih tenang. “Kau tahu, Ayundria, dunia ini memang gila. Cantik, berbahaya, menakjubkan, semua sekaligus. Dan bagian terbaiknya…” Ia menoleh menatapnya lurus. “sekarang kau akhirnya bisa melihatnya sendiri.”
Ayundria terdiam, hatinya bergemuruh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar hidup.
***
Mereka berhenti di sebuah padang rumput luas yang diterangi cahaya bulan. Rerumputan di sana setinggi lutut, masing-masing ujungnya berpendar lembut, seolah-olah setiap helai menyimpan potongan kecil bintang. Di kejauhan, air terjun terbalik masih bergemuruh, menjadi latar suara yang megah.
Bill menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu bertepuk tangan. “Baik, nona kecil. Waktunya belajar. Dunia luar ini tidak cuma tentang ikan terbang dan air terjun aneh. Kalau kau tidak tahu cara menggunakan kekuatanmu, kau akan jadi makanan malam pertama monster yang lewat.”
Ayundria menelan ludah, menegang. “Makanan monster?”
“Ya. Dulu aku juga begitu. Bedanya, aku jadi sarapan,” Bill nyengir lebar.
Ayundria memukul lengannya. “Itu tidak lucu!”
“Tentu saja lucu. Kau harus belajar menertawakan maut, Ayundria. Kalau tidak, kau akan cepat tua. Percayalah padaku, aku sudah hidup dua ratus tahun dan masih tampan.”
Ayundria menghela napas, setengah frustrasi, setengah terhibur. “Baiklah. Jadi apa yang harus kulakukan?”
Bill melangkah mundur, mengangkat tangan. “Konsentrasilah. Rasakan aliran kekuatan di tubuhmu. Bayangkan es itu seperti napasmu. Tarik dan lepaskan.”
Ayundria memejamkan mata, menarik napas dalam. Tangannya bergetar. Udara di sekitarnya mulai mendingin. Rumput-rumput di sekelilingnya dilapisi embun beku, dan kristal-kristal es kecil berputar di udara.