Whispers of The Lost Princess

Rey Orphan
Chapter #13

Bab 12 — Pertujukan Alam Liar

Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh.

“Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar.

Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia.

“Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!”

Ayundria berkedip. “Apa?”

Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan rambut seindah senja membekukan lawan dalam sekali teriak. Oh, dunia ini memang kejam!”

Ayundria tidak tahu harus tertawa atau panik. “Kau baik-baik saja, bukan?”


Bill langsung bangkit duduk, seolah tenaganya kembali 100%. “Tentu saja! Aku ini Bill si Petir! Kau kira hanya karena satu cabang bayangan, aku akan mati? Hah! Aku pernah dijilat naga berapi, dan lihat, rambutku masih tetap keren!”

Ia menyibakkan rambut peraknya ke belakang dengan gaya berlebihan, lalu tersandung kakinya sendiri, jatuh terduduk di es licin.

Ayundria tak tahan lagi, ia tertawa keras sampai air matanya keluar. Seluruh ketegangan di dadanya pecah bersama tawa itu.

Namun Bill masih terduduk ditanah, mendongak serius, matanya berkilat. “Tapi ingat, Ayundria. Kau baru saja membuka pintu yang tak bisa ditutup lagi. Kekuatanmu itu nyata. Dan sekarang, semua orang yang haus akan kekuatan bisa merasakannya.”

Suasana mendadak berat lagi. Ayundria terdiam, menatap tangannya yang masih bergetar, seolah es masih mengalir di balik kulitnya.

Bill berdiri, menepuk debu di celananya, lalu dengan nada seenaknya kembali bersuara, “Tapi kabar baiknya, kau punya guru paling tampan, karismatik, dan agak gila, yang siap membuatmu menjadi legenda. Dan sebagai muridku, kau harus tahu satu hal penting.”

Ayundria menoleh, penasaran. “Apa?”

Bill menunjuk wajahnya dengan bangga. “Kau harus belajar bagaimana tetap terlihat keren meski sedang babak belur.”

Ayundria mendengus, lalu tertawa lagi, kali ini dengan hati lebih ringan. Di antara es, darah, dan bayangan yang membeku, ia benar-benar merasa untuk pertama kalinya, bahwa ia tidak sendirian.


***


Api unggun menyala kecil di tengah hutan. Lidah-lidah api menari, memantulkan cahaya oranye ke wajah Ayundria yang masih pucat, sementara Bill sibuk menusuk sesuatu dengan ranting panjang.

“Apa yang sedang kau masak?” tanya Ayundria dengan hati-hati.

Bill mengangkat sesuatu yang hitam legam, berasap, nyaris tak berbentuk. “Daging kelinci. Atau setidaknya dulunya kelinci. Sekarang mungkin lebih mirip batu bara.”

Lihat selengkapnya