White Lie Syndrome

CameliaRey
Chapter #2

Bab 1: Juliet (1996)

“Juliet,” kata ibuku sambil menata rambut kakakku, yang entah sudah berapa lama. “Bisa tolong ambilkan ikat rambut? Di sana—di kotak warna merah muda.” 


Aku berhenti memainkan boneka barbie-ku, lalu melihat ibu yang sedang sibuk dengan kakak. Hari ini rambut kakak terlihat cantik sekali, seperti model rambut boneka Jepang yang pernah kulihat di televisi. Gambarnya sering bersemut, lebih sering dari hari biasanya. Jadi aku harus menunggu ayah naik ke atap, memiringkan antena pelan-pelan, sementara aku berdiri di ruang tengah dan berteriak, “Sudah! Sudah jelas!” walau sebenarnya masih agak buram.


Rambut kakak dibelah lurus di tengah, lalu dikepang tebal di sisi kanan dan kiri mengikuti garis kepala, kedua kepang itu disatukan dan digulung rapi menjadi sanggul rendah di tengkuk. Manis sekali. 


Aku berdiri, menuju kotak warna merah muda yang dimaksud ibu. Ketika kaitnya kubuka, tutupnya terdorong ke atas terbuka begitu cepat. Isinya tumpah, melompat ke mana-mana. Ikat rambut kakak banyak sekali, hingga kotak itu rasanya tidak bisa lagi menahan isinya. Ikat rambut karakter boneka, berbulu dan yang polos, dengan mutiara dan juga kristal.


Aku terkekeh pelan karena kaget. Rasanya jadi ingat confetti ayah yang ditarik talinya waktu ulang tahun kakak. Begitu suara keras terdengar, kertas warna-warni dan glitter berhamburan di mana-mana. Rasanya, semua hal yang indah di rumah ini selalu untuk kakak.


“Ayo, cepat, Ju.” Ibu mulai tidak sabar. “Bawa ikat rambutnya ke sini.”


Segera saja aku berlutut, kupunguti ikat rambut yang berserakan di mana-mana sambil menghitungnya. Di bawah meja, di atas boneka, di bawah lututku, lalu tanganku berhenti ketika hendak kupungut satu yang tergeletak di depan cermin. Kupandangi pantulan diriku di sana. Ikatan rambutku tampak asal-asalan, rambut di dahi dan bagian telinga terlihat mencuat. Jadi kugenggam beberapa ikat rambut, dan berjalan menuju ibu. 


“Ibu,” kataku. “Aku juga mau rambutku diikat kayak kakak, dong.” Kuangsurkan ikat rambut itu ke pangkuan ibu. 


“Aduh, nggak usah.” Ia memungut satu dan segera mengikat rambut kakak. “Rambut Juliet, kan, tipis. Nggak bisa kalau dibuat macam-macam kayak rambut kak Vivie. Nanti jelek jadinya.”

Lihat selengkapnya