2 minggu yang lalu ….
Suara hak loafer Iriya, beradu dengan riuhnya ruangan redaksi Vaxt Magazine. Dia berjalan dengan kesal, menuju ke arah ruangan milik Vermicelli Pomelae, sang kepala redaksi.
Ya ….
Integritasnya sebagai seorang redaktur senior di sini, seakan-akan jadi bahan olok-olok, karena dia mendapatkan sebuah tugas dari Pomelae, yang … yah, katakanlah, sebuah tugas remeh-temeh.
Sebuah tugas, yang seharusnya cukup dikerjakan oleh anak-anak magang saja. Bukan orang seperti Iriya.
Iriya menarik napas dalam-dalam, saat dia berhenti tepat di depan pintu ruangan. Mencoba untuk meredakan amarahnya, yang mulai memuncak di ubun-ubun kepala.
Iriya ….
Hey ….
Tunggu dulu ….
Siapa kamu?
Kamu yang ada di sana, dan seharusnya tidak berada di cerita ini. Siapa kamu sebenarnya?
Ayolah ….
Jangan melanjutkan membaca, sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi. Aku tahu, kamu bisa berbicara, tetapi kenapa, kamu tetap diam saja? Tolong, jawab pertanyaanku.
Karena ini adalah adegan kilas ba—
Oh, demi Ogma dan Tuatha Dé Danann yang lainnya, mohon maafkan aku. Aku lupa, kalau kamu adalah si Pembaca. Pantas saja, kamu bisa berada di luar rangkaian kata di cerita ini. Kupikir, kamu adalah narator yang lainnya.
Jadi ….
Sekali lagi maafkan aku, karena tidak langsung mengenalimu. Aku seharusnya memang tidak berada di sini, kalau saja Laurent Yip Sum … eh … maksudku, sang Narator, tidak tewas pagi ini di dalam kamarnya.
Ha … ha … ha … ha ….
Oke, saatnya aku memperkenalkan diri. Banyak yang memanggilku dengan nama Metanarator, tetapi aku, lebih suka kamu memanggilku dengan nama Chad … Chad Muska.
Yah, panggil saja aku dengan Chad, karena setelah ini, kamu juga pasti lupa siapa aku. Lagipula, sebaiknya aku melanjutkan cerita yang sedang kamu baca ini.
Apalagi, jika kamu adalah pembaca dengan rentah fokus dan perhatian yang pendek. Kamu pasti akan bosan, dan langsung meninggalkan cerita ini.