“Ada satu hal,” ucap Iriya, “Yang ingin saya tanyakan ke Anda, sebelum saya masuk ke pertanyaan inti.”
“Apa itu, Iriya?” Aguni menyugar rambutnya. “Tanyakan saja.”
“Kenapa ….” Iriya menghela napas panjang, menjaga sikap profesionalitasnya, yang mulai terpengaruh oleh karisma Aguni. “Anda memilih saya, untuk mewawancarai Anda?”
“Oh, itu,” timpal Aguni dengan santai, “Ceritanya cukup panjang.”
“Silakan,” balas Iriya, “Waktu saya cukup panjang untuk Anda hari ini.”
“Asalkan, jangan ada omong kosong, yang menyita waktu saya hari ini,” tambahnya.
Aguni terkikik-kikik, mendengarkan perkataan Iriya barusan.
“Baiklah,” kata Aguni, “Ini semua bermula di tahun 1934, tepatnya di tanggal 12 Februari ….”
Ah, ini dia yang aku tunggu-tunggu. Kilas balik ke 91 tahun yang lalu, dan akan membawa kita ke arah remahan roti kedua, sebagai petunjuk, siapakah pelaku pembunuhan sang Narator.
Jadi, siapkan popcorn dan minuman ringanmu, sekarang.
***
Di pagi hari, terjadilah ketegangan di kota Linz, Austria. Saat itu, polisi melakukan penggerebekan di Hotel Schiff, yang dikatakan sebagai markas besar Partai Demokrat Austria—atau disebut dengan nama SDAPÖ—karena diduga menjadi tempat penyimpanan senjata.
Ketegangan memuncak, saat Richard Bernaschek yang menjabat komandan lokal Republikanischer Schutzbund—Liga Perlindungan Republik, memerintahkan untuk menembakkan senjata api, sebagai bentuk perlindungan diri.
Tepat saat letusan senjata api tersebut berbunyi, terdengar suara tangisan bayi laki-laki yang baru saja lahir di kamar nomor 43. Kamar dengan cahaya temaram yang dibuat sedemikian mungkin, agar cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam.
Itu, adalah tangisan dari putra pertama Maximilian Azi Dahaka. Salah satu dari keturunan bangsawan Dahaka, yang berasal dari Republik Kastarol.
Sebuah negara baru, yang merdeka di tahun 1919, pasca berakhirnya Perang Besar.
Maximilian sendiri, adalah salah satu orang yang mendukung ideologi dari SDAPÖ. Bagi dia, apa yang diperjuangkan SDAPÖ, adalah hal terbaik bagi tanah kelahiran ibunya ini.
Maximilian kini menatap ke arah istrinya—Elvira, yang terlihat bahagia melihat wajah manis putra mereka.
“Genosse Dahaka,” ucap seorang pria berseragam militer Schutzbund, yang terburu-buru masuk ke dalam kamar. Terlihat tag nama Volker di dada kirinya.
“Keadaan di luar, makin tidak kondusif. Sepertinya, keberadaan Anda sudah diketahui musuh.”
Elvira yang kini memeluk bayinya, terlihat khawatir.
“Apa yang dilakukan Bernaschek, Volker?” kata Maximilian sambil memasang wajah serius. “Kenapa dia menembakkan senjata, padahal pusat sama sekali belum memberikan perintah.”
“Komandan Bernaschek,” jawab Volker, “Terpaksa mengambil keputusan ini, Genosse. Sepertinya, komunikasi dengan pusat, mengalami gangguan.”