“Dahaka …,” ucap Aguni dengan wajah serius, “Seperti yang publik ketahui, terbagi menjadi 13 wangsa.”
“Kami menguasai seluruh sektor perekonomian yang ada di Kastarol, bahkan saat negara ini, masih berbentuk kekaisaran,” lanjutnya, “Kami jugalah, yang secara off the record, mengubah sistem negara ini.”
“Karena satu hal …. Kepentingan eksistensi kami.”
Aguni berhenti berbicara, saat Ramien datang membawa pesanan mereka. Dia lalu tersenyum dan mengatakan terima kasih ke Ramien.
“Eksistensi?” Iriya penasaran dengan perkataan Aguni tadi. “Apa yang Anda maksud dengan eksistensi?”
“Sebelum saya menjawabnya,” balas Aguni, “Ada satu pertanyaan yang Anda harus jawab.”
“Apakah Anda, tahu apa itu Homo sapio hematophagus?”
***
Oke ….
Jangan salahkan aku, jika kamu baru saja melihat tanda scene break. Itu sesuai dengan draf dari cerita ini. Bardudu yang membuat adegan berpindah ke kilas balik, yang kamu baca di bab pertama.
Tepat saat Iriya membaca fail yang diberikan oleh Pomelae.
“Homo sapio hematophagus?” baca Iriya pada salah satu dokumen di fail tersebut.
“Homo sapiens, bukan satu-satunya bentuk evolusi manusia modern yang ada,” lanjutnya. “Ada satu spesies lagi, yang pertama kali diusulkan namanya secara formal oleh ahli paleogenetika dari Britania Raya, Prof. Dr. Eugene Cowell Bundy, M.S., D.S., pada tahun 2009, berdasarkan analisis filogenetik data genom dari populasi Eurasia.”
“Bukti fosil yang menetapkan spesies ini .…” Iriya melihat ke arah Pomelae, sebelum melanjutkan membaca. “Ditemukan pada tahun yang sama, ketika arkeolog Rajesh Kumar menggali sebagian tengkorak dan rahang bawah … TN-2009-F … di dekat Madurai, Tamil Nadu.”
“Penanggalan radiokarbon pada fosil tersebut, diperkirakan berusia 210.000 tahun,” baca Iriya. “Bundy dan timnya, lalu menetapkan TN-2009-F sebagai holotype, dengan nama spesies yang merujuk pada catatan sejarah lintas budaya, mengenai entitas yang dikenal dengan banyak nama.”
“Shtriga, vrykolakas, pontinanak, chupacabra, badmaraag, aswang, talamaur, tlahuelpuchi, dan lain-lain ….”
Iriya mengernyitkan dahinya, karena mengenal beberapa nama yang baru saja dia baca.
“Homo sapio hematophagus, diklasifikasikan ke dalam genus Homo, dengan nenek moyang bersama terakhir dengan H. sapiens dan H. neanderthalensis sekitar 543.000 tahun yang lalu.”
Iriya makin merasa aneh membaca dokumen tersebut, dan merasa seperti tulisan yang dibuat-buat sekadar bahan referensi pembuatan cerita fiksi ilmiah.