Who Killed the Omniscient Narrator?

RoomOfCreation
Chapter #6

DRAFT 5

Oh, hai ….

Ternyata kamu masih ada di sini.

Apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan, saat membaca cerita buatan Bardudu ini? Seperti ceritanya melompat-lompat ke sana kemari, kan?

Coba kamu ingat-ingat lagi.

Dari Aguni yang menceritakan tentang kejadian Maximilian Azi Dahaka di tahun 1934, lalu melompat ke plot di mana Iriya membaca dokumen tentang Homo sapio hematophagus, dan berakhir di plot twist, kalau hampir di seluruh Ron & Wald adalah bangsa Vampire.

Sama ….

Aku juga bingung sebenarnya, menarasikan cerita ini. Apalagi, aku juga sama sekali belum menemukan … hmmyah, yang jadi remah-remah roti ke petunjuk siapa pelaku pembunuhan. Ini seperti—sekadar info, sekarang dia beralih jadi penulis erotika—Bardudu sengaja memanjangkan plot, agar di tiap bab, terdapat cliffhanger atau plot twist.

Ah, sudahlah ….

Kita lanjutkan saja, cerita ini. Aku harus menyelesaikannya, agar bisa tidur dengan tenang. Akan tetapi, aku akan memperingatkanmu dulu, soal narasi ke depannya. Lagipula di bagian ini, siap-siap saja ada kejadian head hopping, dan jelas bisa membuatmu pusing. Serta nada narasi yang ….

Sangat datar ….

“Mitos tentang vampir yang lemah terhadap cahaya matahari, bawang putih, dan perak,” ucap Aguni, “Itu memang benar adanya.”

“Sedangkan soal air suci atau salib yang bisa memusnahkan vampir, itu hanyalah dongeng.” Aguni menggigit burger, sebelum berkata lagi. “Kecuali dua hal tersebut, mengandung ekstrak bawang putih atau perak.”

“Anda pasti bercanda,” timpal Iriya.

Iriya sebenarnya tidak percaya dengan perkataan Aguni. Walaupun terlintas dalam pikiran dia, sebuah ketakutan tentang mitos vampir yang menghisap darah manusia.

“Tidak,” balas Aguni, “Yang saya baru saja katakan itu, adalah hal yang sebenarnya.”

“Dan … apa yang saya ceritakan tadi, serta apa yang Anda baca di fail, semuanya berhubungan satu sama lainnya.”

Iriya menyeruput kopi yang mulai dingin. Dia berharap, rasa pahit dari gosongnya biji kopi kualitas rendahan yang sedang dia minum ini, membuat dia bisa berpikir jernih.

“Jadi apa hubungannya?” tanya Iriya dengan nada rendah.

Yah, itu yang bisa dikatakan Iriya, saat ini. Aku pun hanya bisa bertanya seperti itu, kalau jadi dia.

“Ketiga belas wangsa Dahaka,” jawab Aguni, “Memiliki tugas masing-masing, untuk melindungi bangsa Vampire. Itu tugas kami sejak dulu.”

Lihat selengkapnya