Demi Ogma ….
Kamu baca, kan, dialog terakhir dari Aguni itu? Buat apa dia mengatakan soal Ron & Wald yang tidak menggunakan bawang putih? Apa itu karena Bardudu tidak percaya diri, dan merasa kalau tidak menjelaskan soal itu, akan ada plot hole di ceritanya?
Harusnya, langsung saja menceritakan apa hubungannya bisnis di Austria itu, dengan bahasan tentang chloraburumin.
Ah, sudahlah ….
Kita lanjutkan saja ceritanya. Itu pun, kalau kamu masih penasaran siapa pembunuh Narator.
“Ron & Wald, adalah salah satu gerai makanan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan chloraburumin,” ucap Aguni.
“Apa maksud Anda?” timpal Iriya, tergambar ekspresi ngeri di wajahnya. “Bagaimana mungkin, tempat seperti ini bisa memenuhi kebutuhan chloraburumin, kecuali ….”
“Anda jangan berburuk sangka dulu,” potong Aguni. “Semua makanan di sini, adalah makanan normal yang aman dikonsumsi manusia. Tidak ada bahan berbahaya, atau sesuatu yang seharusnya tidak dimakan oleh manusia.”
“Kecuali keadaan yang terjadi di sini ….” Aguni melihat jauh ke depannya, sambil menunjuk ke satu titik. “29 tahun yang lalu, saat seorang gadis kecil merayakan ulang tahunnya yang kedelapan.”
Apa yang baru saja Aguni katakan, jelas membuat Iriya terkejut.
Oke … kita berhenti sejenak.
Setelah ini, kita akan pergi ke kilas balik yang terjadi di Ron & Wald 29 tahun yang lalu. Akan tetapi, sebelum kita ke sana, aku mau menunjukkan se … ah, aku lupa. Kamu hanya bisa melihat rangkaian kata di sini, bukan dalam bentuk visual. Jadi bayangkan saja, apa yang sedang aku pegang di tangan ini, dengan imajinasimu.
Kenapa aku memberitahumu sekarang?
Karena aku sudah menemukan beberapa petunjuk penting, siapa yang membunuh si Narator. Mungkin, kamu sudah menyadari siapa itu, tetapi jangan katakan padaku, siapa itu. Karena bisa saja, dia tahu kalau sudah dicurigai, sehingga nantinya, dia akan merusak rencana yang sedang aku susun. Biarkan saja, dia merasa masih di atas angin.
Jadi begini ….
Aku punya benda bernama fluxtarp. Bayangkan saja, berbentuk seperti obeng kembang sepanjang sepuluh senti. Di bagian mata obeng, terdapat semacam LED yang berkedip-kedip. Lalu di bagian pegangannya, ada 3 tombol yang memiliki fungsi berbeda.
Tombol pertama, berfungsi sebagai editor metanarasi. Yah, seperti tugas asliku, aku bisa memasukkan ‘narasi meta’ ke dalam sebuah cerita, dan karena tombol ini juga, aku bisa berkomunikasi denganmu.
Lalu tombol kedua ….
Eh, tunggu dulu, kenapa tombol ini menyala? Sejak kapan, aku mengaktifkannya? Sepertinya, aku sama sekali tidak memencet tombol ini, tapi kenapa, dalam posisi sedang berfungsi?
Ah, sudahlah ….
Kita lanjutkan saja cerita ini, dan abaikan soal fluxtarp. Nanti kamu juga tahu, apa fungsi dari semua tombol di alat yang aku bawa ini.
Berharap saja, tombol kedua yang tidak sengaja kuaktifkan ini, tidak berpengaruh ke cerita Iriya dan Aguni.
Oke, saatnya kita ke arah kilas balik. Terlalu banyak informasi yang sudah kamu dengar dariku.