Who Killed the Omniscient Narrator?

RoomOfCreation
Chapter #8

DRAFT 7

Pernahkah kamu, sedang mengingat-ingat sesuatu yang penting, tetapi kamu tidak ingat namanya apa?

Atau ….

Pernahkah kamu, tiba-tiba saja ingin buang air besar, padahal kamu sudah berpakaian rapi untuk pergi ke acara penting?

Yah, ini yang aku rasakan sekarang, karena 2 tokoh fiksi di hadapanku ini, tiba-tiba bisa melihat wujudku.

Pantas saja, dari tadi pagi, saat aku akhirnya menarasikan cerita ini ke kamu, ada perasaan mengganjal, seperti ada potongan daging terselip di sela-sela gigi, dan … kamu bisa menyentuhnya dengan lidah, tetapi tidak ketemu-ketemu, saat ingin mengambil itu dengan tusuk gigi, ataupun dengan jarimu sendiri.

Ah, mungkin ini juga salahku, yang tidak sengaja menekan tombol fluxtarp nomor dua.

Oke, saatnya aku menghadapi mereka berdua—terlebih lagi Iriya yang sepertinya, siap menelanku bulat-bulat—tanpa harus merusak struktur narasi.

Yah, hanya saja ….

Kamu mungkin akan merasakan narasi yang berbeda, karena setelah ini, akulah yang benar-benar bercerita. Bukan sekadar sebagai narator dari Bardudu laknat satu itu.

“Jadi ….” Aku tersenyum selebar mungkin, agar tidak terlihat canggung di hadapan mereka. “Bagaimana bisa, kalian melihat aku? Aku seharusnya tak terlihat seperti ini.”

Aku memastikan keadaan sekitar, apakah ada tokoh lain selain mereka yang ikutan ‘tersangkut’, dan jadi sadar dengan keberadaanku.

Yah, untungnya saja, ruang dan waktu di cerita ini, sekarang berhenti. Itu tandanya, hanya Iriya dan Aguni saja, yang bisa bergerak.

Mungkin ….

Ah, tidak juga, sih. Karena kini semua orang di Ron & Wald, mulai bergerak lagi. Sepertinya, aku sekarang masuk ke dalam cerita.

“Bagaimana mungkin,” kata … eh, bagusnya, pakai ‘kata’ atau ‘ucap’, yaah, ‘kata Aguni’ saja. “Seseorang dengan penampilan mencolok seperti Anda, tidak kami sadari, keberadaannya?”

“Rambut keriting berwarna kuning, jaket hijau menyala, dan …,” kata Aguni lagi sambil melihatku dari ujung kepala hingga kaki.

“Celana yang panjang sebelah.”

Ini sebenarnya keren, kalau kamu mau tahu.

Aku sudah lama, ingin bisa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh fiktif seperti mereka. Yah, sayang ada ‘Standar Operasional Perusahaan’, yang membuatku tidak bisa dengan mudah melakukan hal ini. Hal yang aku pikir-pikir jadi ironi, karena seperti tidak ada gunanya aku mendapatkan gelar ‘Narator Metafiksi’ atau ‘Metanarator’, sedangkan yang bisa aku ajak interaksi, hanyalah kamu saja, Pembaca.

Lihat selengkapnya