Chad … Chad ….
Aku baru saja membaca ulang, dari bab 5 hingga 7. Ada sebuah plothole, yang aku temukan di sini. Katamu, kamu belum menemukan petunjuk, saat berada di bab 5, tetapi saat di bab 6, kok, kamu tahu-tahu, sudah menemukannya?
Mungkin seperti itu, pertanyaan yang muncul, saat kamu masuk ke bab ini. Kalau kamu bertanya seperti itu, aku akan jawab dengan 3 kata.
Ya, aku berbohong.
Karena sebenarnya, aku sudah menemukan petunjuk tersebut, bukan dari narasi cerita. Akan tetapi, dari benda-benda yang aku lihat, saat aku menarasikan cerita ini untukmu. Yah, ini kelemahan dari sebuah cerita yang berformat tulisan, sih. Kamu sebagai pembaca, sangat bergantung dengan kekuatan imajinasimu.
Itu pun, kalau kamu bisa berimajinasi.
Tidak … tidak …..
Aku hanya bercanda soal kamu yang tak punya imajinasi. Ini sebenarnya—seperti yang aku bilang tadi—kelemahan dari sebuah cerita dalam bentuk tulisan saja. Berbeda dengan komik atau graphic novel yang kamu bisa mendapatkan petunjuk dari gambar yang ada. Cerita seperti yang kamu baca ini, seluruh petunjuk hanya bisa ditemukan, jika kamu diberi tahu lewat narasi.
Yah, kalau kamu di posisiku, yang kamu lihat bukan sekadar susunan huruf, angka, dan tanda baca. Kamu juga akan melihat visualisasi, seakan-akan kamu juga berada di cerita tersebut. Banyak hal yang bisa kamu lihat, dan tidak ada dalam narasi. Alias, tidak ada narasi yang memberitahukanmu dengan … showing.
Ah, show don’t tell!
Teknik yang awalnya aku suka, tetapi lama-lama, meh … teknik overrated yang seakan-akan dianggap sebagai dewa dalam kepenulisan.
Kamu kebanyakan telling, mana show-nya?
Belajar dulu sana, soal show don’t tell, baru nulis.
Naskahmu kurang dalam hal show don’t tell! Benar-benar tidak layak, untuk masuk ke penerbit kami.
Banyak baca novel, biar tahu apa itu show don't tell, ya.