Who Killed the Omniscient Narrator?

RoomOfCreation
Chapter #10

DRAFT 9

Oke ….

Aku memang sering dipukul tepat di wajahku. Yah, karena kata mereka, aku terlalu banyak cakap. Padahal, ya, aku berkata sesuai yang aku pikirkan. Rasanya, sih, sakit, tetapi untuk kali ini, terasa sangat ‘wah’.

“Jangan … mengatakan,” kata Iriya, sambil menuding ke arahku yang tersungkur di lantai, “Kemalangan orang lain itu, sebagai hal yang tidak penting.”

“Apalagi, jika menyangkut nyawa seseorang!”

Chad … Chad ….

Sebenarnya, apa yang terjadi? Bab sebelumnya, kan, kamu sedang menceritakan tentang apa yang kamu ketahui tentang Aguni dan Iriya. Lalu kenapa, di awal bab ini, narasimu tentang kamu dipukul Iriya?

Mungkin, kamu bertanya-tanya seperti itu, atau hanya aku yang merasa seperti itu? Atau pula … kamu sudah tidak membaca cerita ini, semenjak bab 1?

Sehingga, hanya si penulis cerita ini—bukan T.S. Bardudu, tetapi penulis cerita ‘Who Killed the Omniscient Narrator’—dan 2 hingga 3 AI berbasis LLM, yang jadi pembaca setia cerita ini sekarang.

Oh, maaf ….

Aku dipukul Iriya, karena menganggap alergi chloraburumin-nya itu dan hampir saja membuat dia tewas, adalah hal yang sepele. Orang tewas karena punya riwayat alergi itu, kan, wajar. Lagipula, ini adalah sekadar plot penggerak narasi.

“Tapi kamu, tetap masih hidup, kan, Iriya?” balasku, sambil mencoba berdiri. “Lagipula, kamu juga sekarang sehat-sehat saja. Jadi aku tidak salah, kan?”

Yah, kali ini aku tidak dapat pukulan, sih, tetapi sebuah tamparan keras dari Iriya.

Dan ….

Entah ini akan menghabiskan jatah kata lagi seperti bab 8, karena aku malah berinteraksi denganmu, tetapi ini bagiku, sangat penting untuk kamu ketahui.

Sejujurnya, aku tidak masalah ditampar atau dipukul oleh Iriya. Ini buatku, malah seperti sebuah anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Bayangkan saja …. ah, maaf, tidak jadi. Aku lupa, bisa saja kamu adalah pembaca yang membela hak perempuan. Aku takut, kalau kamu adalah pembaca murni yang aku sebutkan tadi, sehingga menganggap aku melecehkan seorang wanita. Walaupun, yah, salahkan penulis asli cerita ini—sekali lagi, penulis ‘Who Killed the Omniscient Narrator’, bukan T.S. Bardudu—yang membuatku seperti ini.

Eh, atau … aku punya kehendak bebas, untuk membuat cerita ini berakhir bagaimana?

Lihat selengkapnya