“Writer's block?” Aguni mengernyitkan dahinya, setelah mendengarkan penjelasanku.
Aku mengangguk, sambil melirik ke arah Iriya yang kini terduduk lemas, menyadari bahwa dirinya, hanyalah tokoh fiksi dalam sebuah tokoh fiksi roman picisan, berkedok cerita sci-fi.
“Oke, aku ulangi soal ini,” kataku. “Writer's block … bagi para penulis, adalah masa di mana mereka tidak bisa poduktif dalam hal menulis. Beberapa karena memang sedang mengalami anxiety, karena mereka menulis tanpa outline, atau juga karena penulis lebih menyukai prokrastinasi.”
“Hal itu, membuat beberapa penulis enggan untuk melanjutkan tulisannya.”
“Itu kalau di dunia kepenulisan. Sedangkan di duniaku, itu hal yang berbeda.” Aku berjalan ke arah Iriya, berjongkok di hadapannya, kemudian memberikan sesuatu dari dalam kantung jaketku. “Makan ini, Iriya. Karena cokelat itu katanya, bisa memperbaiki mood, atau mengurangi stress.”
“Yah, aku tahu, perkataanku yang membuatmu seperti ini,” lanjutku, “Makanya, aku memberikan cokelat ini, sebagai salah satu permohonan maafku.”
“Atau kamu lebih memilih makan french fries yang ada di kantung celanaku?”
Iriya langsung menatapku dengan pandangan seperti orang yang hendak melindasku dengan tank Panther KF51, atau menciumku dengan moncong MiG-21. Kemudian mengalihkan pandangan ke cokelat di tanganku, mengambil dan memakannya.
Yah, sepertinya, dia lebih memilih cokelat ini, dibandingkan french fries di celanaku. Padahal, french fries itu, lebih nikmat daripada cokelat dengan kemasan bergambar ayam cemani ini.
“Oke, aku ulangi lagi penjelasanku tadi,” kataku, “Jika di dunia kepenulisan atau sebut saja sebagai dunia nyata, writer's block memang akar masalahnya di … penulis itu sendiri.”
“Tapi dalam duniaku, tempat semua narator hidup,” lanjutku, “Penulis terkena writer's block itu, karena ada sesuatu yang terjadi pada narator di cerita mereka.”
“Bisa jadi karena narator mereka itu sakit.” Aku mencoba berkata dengan nada serius, agar terlihat keren di hadapan Iriya. “Mungkin karena memilih untuk pensiun sehingga harus menunggu narator pengganti. Bisa juga karena narator mereka … yah, kamu tahu, sedang cuti hamil, atau sedang kehilangan keluarganya.”
“Walaupun aku belum pernah lihat, sih, narator cuti hamil, atau sedang melayat ke rumah saudaranya yang meninggal. Karena memang tidak ada yang seperti itu.”
Aku kembali melihat ke arah Iriya, yang terlihat lebih tenang dibandingkan tadi. Yah, memang cokelat yang aku bawa itu, benar-benar efektif menghilangkan stress. Untungnya, aku selalu membawa itu di dalam kantung jaket.
Dan ….
Andai saja kamu berada di sini, aku akan memberikan satu cokelat untukmu.