Kamu pernah tidak, melihat anjing mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil yang terbuka, dan mobil tersebut sedang melaju?
Nah, wajah Aguni seperti itu sekarang, seperti anak anjing yang menikmati hembusan angin. Sesuatu yang menurutku aneh, dilakukan oleh seorang yang sudah berusia 90 tahunan. Walaupun itu wajar, karena dia ke mana-mana, harus menggunakan tabir surya tebal, agar kulitnya tak terbakar.
Oke ….
Kamu mau aku menarasikan apa dulu? Apakah narasi plot, atau karena tanggung di bab sebelumnya, aku akan menarasikan suasana di alun-alun Grha dulu?
Ah, lebih baik, aku menarasikannya secara berimbang saja. Karena aku akui, exposition dump itu, lebih melelahkan untuk dibaca, dibandingkan dengan info dump.
“Ikuti aku,” kataku sambil berjalan menuju arah monumen raksasa berbentuk patung Syrë, Dorro, dan Âhmet. “Ada yang ingin aku tunjukkan ke kalian.”
Mendengar aku berkata seperti itu, mereka segera mengikutiku dari belakang. Aku pun sedikit memperlambat langkahku, agar mereka bisa berjalan di sampingku. Iriya ada di sebelah kanan, dan Aguni ada di sebelah kiri.
“Kita mau ke mana?” kata Iriya, yang terlihat jelas, terkagum-kagum dengan monumen dan bangunan di Grha. Yah, seperti yang aku baca di backlog, kalau karena kekagumannya dengan benda bersejarahlah, membuat Iriya berakhir terjun ke dunia jurnalistik.
“Pusat informasi dan perpustakaan Ghra,” jawabku, saat kami berjalan melewati gedung pusat milik NWHA. “Ada yang harus aku tunjukkan ke kalian di sana. Karena di sana, ada alasan utama, kenapa aku meminta bantuan kalian berdua.”
“Alasan utama?” timpal Aguni, “Maksud Anda … pelaku pembunuhan Laurent?
“Yah, aku menganggapnya begitu,” jawabku, “Karena bagiku, hanya dia yang bisa membunuh Laurent.”
Kami pun terus berjalan, menuju tempat yang aku maksud. Kami melewati beberapa narator yang berlalu-lalang, beberapa agen NWHA berseragam … yah, sebut saja sebagai polisi keamanan di duniaku ini, juga terlihat sekumpulan narator yang dari pakaian mereka, jelas adalah para siswa-siswa akademi. Aku tahu apa mereka sedang melakukan apa. Di jam segini, mereka pasti sedang praktik untuk menggunakan fluxtarp.
Ah, praktik fluxtarp ….
Satu-satunya pelajaran di akademi, yang paling aku kuasai. Yah, kalau kamu mau tahu, aku adalah salah satu siswa akademi, dengan nilai tertinggi dalam penggunaan fluxtarp.
“Ah, ini dia … tempat yang kita tuju.” Aku berhenti berjalan, tepat di depan pintu masuk. Aku lihat, baik Iriya maupun Aguni, mereka memandangiku. Jelas, mereka bertanya-tanya apa selanjutnya.
“Oke, Iriya … Aguni,” kataku. “Seperti yang tadi aku katakan, identitas kalian berdua untuk sementara ini adalah, identitas di ID card yang aku berikan tadi.”