Oke ….
Kita kembali ke masa kini saja.
Sudah cukup mengenalkan siapa itu Bollero, dan abaikan kenapa aku di-bully dia. Aku tidak perlu belas kasihanmu, karena yang kubutuhkan adalah, kamu tetap membaca cerita ini.
Yah, dan semoga saja, penulis ‘Who Killed the Omniscient Narrator’ tidak sedang prokrastinasi.
Iya, kamu … penulis cerita ini, semoga kamu tidak berhenti di jalan, seperti kebanyakan tulisanmu selama ini yang semuanya berlabel hiatus.
Jika kamu tahu maksudku.
“Oh, hai, Bollero,” sapaku sambil berusaha ramah dengan dia. “Seperti biasanya, kan, ke sektor RM-619? Mencari referensi trope superhero? Bagaimana, apakah ini untuk naskah film shared universe yang kamu narasikan itu?”
Maaf ….
Aku ingin tertawa karena ironi ini. Karena di bab-bab awal, aku mengatakan, kalau Bardudu membuat dialog itu, sangat cringe, basa-basi yang sangat basi, dan kini … ah, aku melakukan hal itu sendiri.
Yah, karena hanya berkata seperti itu, agar Bollero tidak lama-lama menghalangi tujuanku datang ke sini.
“Inilah nikmatnya, menjadi seorang narator berlisensi.” Bollero dengan jemawanya, berjalan ke arahku, lalu menepuk-nepuk bahuku. “Sebuah anugerah, yang tidak bisa didapatkan oleh seseorang seperti dirimu, Anomali.”
“Dan … memang sudah sepantasnya, kamu tidak pernah mendapatkan kesempatan ini,” kata Bollero dengan sombongnya. “Ya, untungnya, akademi akhirnya mengeluarkanmu, karena banyak yang resah dengan statusmu itu.”
“Hanya saja ….” Dia melirik ke arah Iriya dan Aguni, dengan pandangan yang selalu Bollero keluarkan saat di akademi. Pandangan meremehkan orang lain, yang dia anggap tidak berguna. “Dorro malah melindungimu, karena rekomendasi Yip Sum. Bahkan Âhmet, memberikanmu pekerjaan sebagai .…
“Seorang tukang reparasi ruang simulasi Antarokh.”
Bollero lalu bergerak mendekati Iriya, sambil mengulurkan tangan.
“Siapa nama Anda, wahai Nona Cantik?” Bollero mengedipkan mata kirinya, yang dulu membuat para narator wanita di akademi seperti terbang ke angkasa. “Nama saya, Bollero von Guddę, narator spesialis kisah-kisah para superhero. Saya belum pernah melihat Anda di sini, atau pun di akademi. Apakah And—”
“Supervisor dari kantor pusat NWHA,” potongku buru-buru. “Namanya St. Badr Iyah, dan dia akan mengawasiku untuk memperbaiki mesin simulasi di sektor M-87.”
“Dan dia … Mark C. Putnam.” Aku menunjuk ke arah Aguni. “Adalah orang yang akan melakukan tes simulator, setelah aku selesai memperbaikinya.”
“Sepertinya,” kata Bollero sambil memicingkan mata ke Aguni dengan tatapa merendahkan. “Aku pernah melihat kamu, tapi entah, di mana.”
“Lort-Eh!” timpalku, “Pasti di situ, kamu bertemu dengan Putnam. Putnam, dulu adalah operator server Libro Faccia di Lort-Eh.”