Sebelumnya, aku ucapkan selamat kepadamu.
Yah, karena kamu masih bisa bertahan sampai di bab ini. Atau … entahlah, mungkin aku hanya berbicara sendiri sekarang, karena kamu sebenarnya sudah kabur semenjak aku mengomel soal show don’t tell di bab 8. Kalau kamu memang masih bertahan, aku harap, kamu bukan pembaca yang sedang membaca ini lewat ponselmu di dalam toilet.
Ah, iya ….
Aku minta maaf dulu, karena jika kamu memang masih terus bersamaku, aku sudah … yah, untuk kesekian kalinya, membohongi dirimu.
Oke, saatnya melanjutkan cerita ini, daripada aku habiskan untuk membuat narasi meminta maaf kepadamu. Sekaligus, aku akan mengatakan kalau … yah, mungkin mulai bab ini, misteri siapa pembunuh Laurent Yip Sum, akan terungkap.
Walaupun aku sendiri tidak yakin, karena terlalu banyak mengomentari adegan di bab ini, daripada melanjutkan menarasikan plot.
“Bagaimana ….” Aguni mencengkeram leher, dan membuatku susah untuk bernapas. “Cara Anda bisa lepas dari kemampuan saya, untuk mendeteksi kebohongan!”
Aku melihat mata ungu Aguni seperti menyala, mengiringi kemarahannya. Cukup seram sebenarnya, mengingat dia adalah salah satu Vampire terkuat dari wangsa Azi. Yah, untung saja, ini ada di Gëssun Deiß, bukan dunia mereka.
Kalau ada di dunia mereka, aku pasti sudah mati saat ini.
“B-biarkan … aku … ceritakan … y-yang … sebenarnya.” Aku mencoba melepaskan cengkraman Aguni, sambil melirik ke arah Iriya yang sepertinya, juga kesal denganku. “L-lepaskan aku … d-dulu ….”
Ya … ya … ya ….
Memang salahku, sudah tidak mengatakan dari awal, siapa aku sebenarnya. Akan tetapi, kalau aku mengatakan ini dari awal, pasti mereka tidak akan bisa aku bawa ke mari. Begitu juga, kamu tidak akan sampai di bab ini.
Aguni makin mengencangkan cengkraman, dan … yah, matanya makin seperti berapi-api. Itu membuatku pasrah, ya, sudahlah, ya, kalau aku mati di sini, berarti cerita ini akan tamat dengan cara yang tidak lucu. Aku benar-benar kesusahan bernapas sekarang, saat tiba-tiba saja, Iriya melangkah sedikit ke depan, kemudian menyentuh tangan kiri Aguni yang mencengkeramku.
“Lepaskan dia, Aguni.” Iriya menggelengkan kepala, saat meminta seperti itu ke Aguni. “Biarkan Tuan Pembohong ini, untuk bicara.”
Aguni menoleh ke arah Iriya, dan Iriya pun mengangguk ke dia. Hal itu diikuti dengan sedikit melonggarnya cengkeraman Aguni di leherku. Lalu aku lihat, Iriya mengangguk. Aguni yang melihat anggukan Iriya itu pun, lalu melepaskan aku.
Ya ….
Iriya benar-benar jadi penyelamatku saat ini. Walaupun aku masih berharap, dia yang mencengkeram leherku, bukan Aguni. Aku pun terbatuk-batuk, karena rasa sesak di dadaku masih terasa. Lalu aku segera mengambil napas dalam-dalam, agar bisa berdiri dengan tegak.