Who Killed the Omniscient Narrator?

RoomOfCreation
Chapter #17

DRAFT 16

Selamat datang di bab 16.

Di bab ini dan seterusnya, aku janji kepadamu, untuk tidak terlalu banyak mengomentari cerita. Karena aku mulai takut, semakin banyak komentarku, semakin lama … kita menemukan siapa pembunuh Laurent Yip Sum.

Jadi … inilah ceritanya.

“Aku akan menceritakan, kenapa Laurent sampai mau membisikkan ide cerita dunia kalian,” kataku sambil melangkah maju, serta memberikan gestur tangan, agar mereka mengikutiku.

Kami pun kini bergerak menuju arah timur bangunan. Sebuah ruangan besar dengan rak-rak buku raksasa menyambut kami di sini. Akan tetapi, bukan ruangan ini yang kami tuju. Ini hanya ruangan yang harus kami lewati, karena tujuan kami ada di sektor M-87.

Jangan tanyakan aku, apa buku-buku yang ada di rak tersebut. Itu sama tidak pentingnya, jika kamu berharap Bollero akan muncul kembali di cerita ini. Cukup dia hanya jadi tokoh ‘numpang lewat’, daripada menjadi villain di sini.

Yah, kalaupun dia kembali, aku harap dia jadi mangsa Kirv tipe monster saja.

“Tunggu dulu, Chad,” panggil Iriya yang berjalan di belakangku. “Anda belum selesai menjelaskan tentang notebook apa ini.”

“Bukannya sudah jelas, ya?” balasku sambil berputar, tetapi tetap berjalan … mundur. “Itu notebook Laurent, yang berisi konsep dunia kalian. Sudah, itu saja.”

“Lalu bagaimana dengan … apa yang dikatakan oleh Bollero, soal Anda,” timpal Aguni, saat aku berputar dan berjalan maju lagi.

Mendengar perkataan Aguni barusan … ah, maaf, aku harus melanggar sedikit janjiku di awal bab. Karena aku benar-benar tidak tahan, mendengarkan mereka berdua berbicara. Yah, walaupun sekarang Iriya dan Aguni bukan di dunia mereka, tetapi efek gaya kepenulisan cringe Bardudu, masih menempel lekat di mereka berdua.

“Oke, aku tahu, Aguni, kamu mau menanyakan soal bagaimana aku mencoba masuk secara paksa ke Antarokh Laurent, kan?” kataku sambil berhenti berjalan, lalu berputar menghadap mereka berdua. “Tapi janji dulu, kalau kalian berdua … jangan pakai ‘saya’ dan ‘Anda’. Geli aku, mendengar kalian berbicara seperti itu.”

Aku menghela napas panjang, sebelum melanjutkan apa yang ingin aku katakan.

“Seperti yang dikatakan oleh Bollero,” kataku sambil bersiap-siap menangkis, jika salah satu dari mereka hendak memukulku. “Aku hanyalah tukang reparasi Antarokh, dan tidak punya hak sama sekali untuk mengendalikannya.”

“Satu-satunya cara agar aku bisa masuk ke Antarokh adalah, dipersilakan oleh narator-narator yang Antarokh-nya ingin aku reparasi.” Aku segera mengambil fluxtarp di kantung, sambil melirik ke arahmu. Karena … yah, dari awal aku mengenalkan benda ini ke kamu, aku sudah berbohong sangat banyak. “Dan fluxtarp … bukanlah alat yang dimiliki oleh narator berlisensi untuk mengakses Antarokh.”

Aku berbalik badan sambil memberikan kode ke Iriya dan Aguni, agar berjalan mengikutiku lagi.

Lihat selengkapnya