Hari ini merupakan hari pertamaku duduk di kelas 11, aku sudah menyiapkan peralatan sekolahku sejak tadi malam. Jadi, pagi ini aku tidak akan diribetkan oleh perlengkapan sekolah yang kadang tak berada pada tempatnya.
Selesai mandi, aku bergegas menuju ke ruang makan. Kudapati sepiring nasi goreng dan sepucuk surat di samping piring tersebut.
Lagi-lagi mama tidak bisa menemaniku sarapan. Dia lebih memilih meeting dengan kliennya daripada aku. Aku hanya bisa menghabiskan nasi goreng itu sendirian tanpa ditemani mama.
Setelah itu aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Barusaja aku membuka gerbang rumahku, aku melihat sesosok lelaki yang usianya 1 tahun di bawahku mengenakan seragam putih birunya yang juga akan berangkat sekolah. Aku berpapasan dengannya saat aku melewati rumahnya.
“Kak, berangkat bareng, yuk!” tawarnya.
Aku hanya mengangguk dan dia berjalan mengikutiku di belakang. Sebenarnya aku ingin sendiri saja pergi ke sekolah, tapi kasihan juga kalo aku menolak ajakannya berangkat bareng.
“Kak, kita naik busway atau angkot?” tanyanya kemudian.
Sebenarnya aku tidak ingin menanggapinya, tapi aku juga tidak bisa diam saja seperti ini.
“Nanti kita ke halte nunggu angkot aja, ya. Lebih murah,” ucapku.
Dia hanya mengangguk dengan ucapanku. Setelah beberapa menit kami berjalan, kami pun sampai di halte. Hanya perlu menunggu beberapa menit untuk mendapati angkot yang lewat. Terkadang hal ini terasa membosankan bagiku, tapi dengan adanya Reza (tetangga sebelah yang menjadi murid baru di sekolahku) aku menjadi banyak pertanyaan buat dia.
Tak lama kemudian, berhenti sebuah angkot di depan halte tempat kami menunggu. Orang-orang yang sudah menunggu sedari tadi sudah menyerbu masuk kedalam angkot tersebut. Reza mengajakku masuk setelah orang-orang sudah masuk semua.
“Yah, kak. Cuma muat satu orang. Kakak aja deh yang duluan. Aku nunggu angkot berikutnya,” ucapnya memintaku untuk pergi dulu ke sekolah.
“Nggak papa, kamu aja duluan. Ini hari pertama kamu MPLS. Kamu gak boleh telat. Aku aja yang nunggu,” ujarku.
Tanpa pikir panjang reza langsung masuk ke dalam angkot tersebut. Aku harus menunggu angkot yang akan menepi di halte ini. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45, agkot baru saja tiba dihadapanku. Aku segera menaikinya dan meminta supir untuk mempercepat perjalanannya. Untung saja penumpang saat itu tidak begitu banyak dan kebetulan sekolahku adalah jarak terdekat jadi aku bisa turun terlebih dahulu.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 06.55, bel masuk sebentar lagi akan berbunyi dan upacara akan segera di mulai. Aku telah sampai di depan gerbang sekolah. Begitu banyak siswa-siswi yang baru datang dan antre masuk sekolah. Aku segera mencari kelasku dan meletakkan tas lalu pergi ke lapangan upacara.
“Fuh, untung gak telat. Kalo telat, bisa marah nih Bu Anggun,” ucapku.
Syafrani yang melihatku langsung menghampiriku.
“Kenapa, Fay? Tumben hampir telat. Biasanya on time,” tanya Syafrani.
Napasku masih terengah-engah, aku tidak langsung menjawab pertanyaan Syafrani barusan.
“Gak papa, Ra. Nanti gue cerita,” ucapku.