Why It Is

Fataya
Chapter #3

Chapter 3

Hari ini Syafrani sudah berjanji akan menjemputku untuk berangkat sekolah bareng. Tapi sejak limabelas menit yang lalu aku berdiri di depan gerbang pintu rumahku tidak melihat syafrani berhenti sama sekali.

“Limabelas menit lagi masuk, nih. Syafrani mana, sih?” ngedumelku di dekat gerbang. Lima menit kemudian Syafrani tak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan menuju halte meskipun waktunya tidak memungkinkan. Dengan langkah geram menunggu Syafrani tidak kunjung datang akhirnya aku sampai di halte. Halte hari ini sudah sangat ramai dan kemungkinan besarnya lagi aku pasti akan terlambat ke sekolah jika kalah cepat naik angkot.

“Bisa telat nih hari ini,” ucapku.

Namun tak lama dari itu seseorang menggunakan jaket berwarna hitam yang didominasi dengan merah dan biru dibagian lengannya serta mengenakan celana sekolah abu-abu berhenti di depanku dengan motornya. Ia menawariku untuk pergi bersamanya ke sekolah.

“Kak, bareng aku aja ke sekolahnya. Daripada kakak telat, kan jadi panjang nanti urusannya,” tawarnya.

Awalnya aku ragu untuk menerima tawarannya itu. Tapi waktu juga tidak memungkinkan jika aku harus naik angkot. Tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawarannya dan naik ke motornya. Seketika motor itu melesat dengan cepat menyela di jalan yang penuh dengan kendaraan. Aku yang hanya berpikir siapa orang yang mengajakku pergi ini. Apakah dia orang baik?

Pikiranku masih sama. Tak terasa bel sekolah sudah berbunyi satu menit yang lalu. Untung saja aku dan dia sudah memasuki kawasan sekolah. Kami menuju parkir kendaraan siswa dan dia meletakkan motornya disana. Setelah itu dia menghampiriku dengan membawa tas yang ia letakkan ditangannya tidak di punggungnya.

“Makasih, ya. Mungkin kalo gak ada kamu, aku udah telat tadi,” ucapku. Dia hanya tersenyum dan mengajakku masuk ke dalam. Lapangan upacara menjadi pemisah jalan kami. Aku menuju kelasku yang berbeda arah dengannya. Sesampainya di kelas, aku tidak melihat Syafrani datang. Bangkunya masih kosong.

“Kok Syafrani belum datang, sih. Ini kan udah masuk jam pelajaran!” ucapku kesal. Pelajaran berlangsung, namun Syafrani tak kunjung datang juga,”kayaknya ni anak gak masuk sekolah, deh. Tapi kok gak ngabarin gue ,sih. Kebiasaan nih anak,” ucapku berdecak kesal dalam hati.

Jam pelajaran Pak Wisnu sudah selesai. Hari ini Syafrani benar-benar tidak masuk sekolah. Jadi aku akan sendiri lagi untuk hari ini. Aku duduk di tempat favorit kami sambil membawa buku coretan dan pena. Beberapa waktu berlalu, pena itu masih berdiri di atas buku menuliskan kata-kata. Otakku beristirahat sejenak, ku angkat kepalaku dan menghadap ke depan. Sungguh mengejutkan, mataku mendapati Alvin duduk di bangku panjang yang berada di depan perpustakaan. Aku langsung menunduk kembali melihat buku dan seolah-olah menulis saat Alvin melihatku.

“Tuhan, kenapa sih harus ada Alvin disitu,” decakku kesal.

Waktu melesat begitu cepat. Aku melihat Alvin sudah tidak lagi berada di depan perpustakaan. Hatiku lega karena tak akan merasa sesak lagi. Tanpa ku sadari, seseorang telah duduk di sebelahku.

“Sejak kapan kamu disini?” tanyaku saat melihatnya berada disebelahku dengan tiba-tiba.

“Sejak mata kakak mencari keberadaan kak Alvin yang sudah tidak lagi di depan perpustakaan,” jawabnya sedikit sombong.

Aku tersenyum palsu. Sepintas otakku berpikir kalau dia tau sesuatu tentang Alvin. Semoga saja tidak, itu hanya pikiranku semata.

Lihat selengkapnya