Hari ini aku sudah terlanjur ada janji dengan Erlangga. Dia mengajakku untuk keluar bersamanya. Aku tidak bisa menduga jika dia memang berani datang ke rumah meminta izin pada mama.
“Assalamualaikum,” ucapnya saat sudah berada di depan rumahku.
Aku masih tidak keluar kamar melainkan hanya melihat Reza dari balkon kamarku. Dia menunggu cukup lama di depan pintu. Lalu dia mengucapkan salam lagi dan tidak lama kemudian mama membukakan pintu.
“Waalaikumussalam, maaf mau cari siapa, ya?” tanya mama.
Dia ternyata cukup sopan, dia mencium punggung tangan mama. Aku tidak tau bagaimana cara dia meminta izin pada mama. Semoga saja dia berhasil. Karena tidak mudah untuk keluar dari rumah ini dengan orang-orang yang baru mama kenal. Aku tidak bisa mendengar yang mereka bicarakan. Suara Erlangga tidak begitu kuat untuk di dengar. Sesekali aku mendengar mereka tertawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya asyik. Tak lama dari itu, mama memanggilku dan memintaku turun ke bawah. Aku turu dengan penampilanku seperti biasa. Mengenakan baju harian ketika di rumah.
“Iya, Ma. Ada apa?” tanyaku. Padahal aku sudah tahu jika mama sedang bersama orang yang kukenal.
“Kata Erlangga, kalian ada urusan penting. Ya udah sana selesaiin dulu!” ucap mama lalu tersenyum kearah Erlangga.
Loh, mama kok mudah banget sih ngomong kayak gitu. Pake pelet apaan sih nih anak. Sampe-sampe mama aja bisa dibujuk. Aku terpaksa berganti pakaian ku dengan lebih sopan. Erlangga menugguku di ruang tamu. Aku tidak peduli dia bosan atau tidak karena harus menungguku cukup lama. Saat aku turun ke bawah, aku hanya mengenakan dress yang panjangnya sebetis dengan lengan sesiku. Aku menuruni anak tangga dengan sepatu pantofelku. Setelah itu aku dan Erlangga pergi ke suatu restoran yang terbilang cukup sederhana namun dekorasinya sangat indah sehingga pengunjung tidak akan bosan untuk datang kembali. Kami mengambil meja yang berada di luar ruangan agar dapat menikmati suasana yang ada. Erlangga memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan.
“Kak Faya mau makan apa?” tanyanya.
“Samain aja, Ga,” jawabku malas berpikir makanan apa yang akan ku pesan.
Aku tidak tau apa yang dipesan erlangga. Aku hanya duduk diam sambil memainkan hp-ku.
Faya : Za, gue pergi sama Erlangga. Lo gak marah kan?
Pesan itu terkiriim ke Reza dengan seketika. Lalu tak lama kemudian aku melihat Reza sedang mengetik.
Reza : Gak papa kok, kak. Ngapain juga aku marah.
Faya : Makasih ya, Za.
Reza : Makasih kenapa?