Why It Is

Fataya
Chapter #5

Chapter 5

Pagi ini, Reza sudah berada di rumahku. Dia akan mengajariku membuat kue untuk mama. Karena hari ini ulang tahun mama yang ke-39. Aku sudah membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue. Dari telur, gula sampai hiasan untuk kue tersebut. Reza mulai mencampurkan telur dengan gula lalu memintaku mengaduknya dengan mixer. Aku menurutinya. Sedangkan dia menyiapkan bahan-bahan yang akan dicampurkan untuk adonan itu. Satu jam hampir berlalu. Kue sudah berhasil dibuat, kini tinggal menghiasnya dengan beberapa olesan dan menambahkan beberapa hisan kecil diatasnya serta lilin.

Tepat pukul 14.00, mama biasanya sudah pulang dari kantor. Mama mengambil shift pagi agar sorenya mama bisa bersamaku dirumah karena papa yang bekerja dikantornya tidak menentu kapan pulangnya. Bisa seminggu sekali, dua minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Papa terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Maka dari itu mama memilih tidak bekerja seharian dikantornya.

Aku sudah mempersiapkan tempat khusus untuk merayakan ulang tahun mama. Atas bantuan Reza , aku mendekorasi ruang makan dengan sederhana. Reza juga menemaniku untuk merayakan ulang tahun mama. Mama sudah turun dari mobilnya menuju pintu rumah lalu masuk. Aku dan Reza sudah bersiap-siap untuk memberinya kejutan. Mama pun tidak menduga akan mendapat kejutan seperti ini.

“KEJUTAAAANNNNNN!” ucapku bersamaan dengan Reza. Lalu mendekati mama dan membawa kue ulang tahun yang kami buat tadi pagi.

“Selamat ulang tahun, Ma,” ucapku lalu mencium pipi mama. Reza mencium tangan mama sambil mengucapkan selamat ulanag tahun juga. Lalu kami duduk di di meja makan dan meletakkan kue di tengahnya.

“Make a wish, Ma,” pintaku.

Mama mengangguk dan menundukkan kepalanya sebelum meniup lilin. Lalu mama meniup lilin itu dan sebuah kejaiban datang. Papa pulang. Papa berdiri di belakang mama tanpa mama sadari. Aku sengaja menanyakan sesuatu pada mama.

“Ma, apa wish mama barusan?” tanyaku sengaja.

Mama tersenyum ke arahku, ”mama berharap agar papa bisa pulang di hari spesial mama ini. Sudah hampir sebulan papa gak pulang karna sibuk dengan pekerjaannya,” ucap mama.

Tak lama dari itu, terdengar suara langkah kaki berjalan kearah mama. Saat berada tepat dibelakang mama, orang itu memeluk mama dari belakang.

”Selamat ulang tahun, Ma.” ucap papa membuat mama meneteskan air mata dalam sekejap.

Mama membalikkan badannya dan memeluk papa kembali. Mereka berpelukan. Aku jadi terharu melihat keduanya. Reza yang melihatku hampir meneteskan air mata hanya tersenyum saat aku melihat ke arahnya.

“Tante, foto dulu, ya,” tawar reza.

Lalu mama dan papa mencari posisi yang nyaman untuk berfoto dengan Reza yang menjadi fotografer saat ini. Ternyata mereka juga mengajakku untuk berfoto. Cekrek. Satu foto keluarga yang sempurna.

Setelah semuanya selesai, Reza pulang kerumahnya . Kami bertiga duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Papa membelikan mama sesuatu saat perjalanan pulang. Saat berkumpul itulah mama membuka bingkisan dari papa. Isinya cukup mengejutkan, 2 tiket liburan di bali selama seminggu. Tapi bukan itu hadiah yang papa belikan untuk mama. Mama membuka salah satu bingkisan lagi. Seperti yang diharapkan mama. Hari ini papa telah memenuhi permintaan mama beberapa minggu yang lalu. Sepatu. Mama sangat menginginkan sepatu itu sejak lama. Namun karna kesibukannya dalam bekerja mama tidak punya waktu untuk membelinya. Aku bahagia hari ini.

Keesokan harinya, papa tidak pergi bekerja karena mengambil cuti seminggu untuk liburan bersama mama di bali. Mama dan papa mulai menyiapkan koper yang akan mereka bawa. Siang ini mereka akan berangkat ke bali untuk liburan. Aku akan sendirian di rumah. Tapi masih ada Reza yang bisa ku ajak main kerumah jika aku bosan sendirian. Di tengah lamunanku, hp-ku bergetar.

Lihat selengkapnya