Keesokan harinya, aku kembali mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Hari ini mama tidak ada di rumah, jadi tidak ada sarapan yang bisa aku nikmati untuk pagi ini. Aku berjalan keluar rumah dan berjalan menyusuri trotoar hingga halte. Aku menunggu cukup lama. Seketika sebuah mobil berhenti di depan angkot yang menepi namun orang-orang sudah berdesakan untuk masuk. Lalu kaca mobil itu pun terbuka.
“Kak, bareng aja, yuk?” tawarnya.
Erlangga. Mungkin hari ini aku tidak bisa menolak untuk pergi bersamanya. Aku masuk kedalam mobilnya dan Erlangga mulai mengemudikan mobilnya dengan tenang. Karena masih pagi dan tidak akan terlambat. Beberapa menit kami menempuh jalan raya, kami sudah sampai di sekolah. Aku dan erlangga turun dari mobil lalu berjalan menuju kelas kami masing-masing.
Aku sudah berada di dalam kelas. Hari ini aku piket kelas. Jadi aku mengambil sapu yang ada di pojok kelas lalu menyapu kelas. Sekitar lima belas menit aku sudah selesai menyapu. Aku mengambil buku diariku dan berjalan menuju tempat biasanya. Aku duduk sendiri di tempat itu. Syafrani sudah tidak ada kabar sama sekali. Ini membuatku kesal. Aku hanya bisa duduk disini sendiri yang hanya ditemani angin dan tanaman yang ada. Aku mulai membuka bukuku. Sudah lama aku tidak menyentuhnya. Entah mengapa semalam aku memasukkannya ke dalam tas sekolahku. Aku membuka halaman paling depan. Masih tertempel foto keluarga kecilku yang mulai usang. Diari ini aku dapatkan dari kakek waktu ke bandung. Kubuka halaman selanjutnya, terdapat tulisan pertama kali kami libura di yogya. Berikutnya, adalah hal yang paling menyenangkan, yaitu liburan di luar negeri, jepang. Meskipun waktu itu usiaku masih berumur 10 tahun dan belum mengerti apa-apa, aku masih bisa mengingatnya dengan baik. Selanjutnya adalah tulisan paling berharga kala itu, di lembaran itu tertulis.
Dear Alvin
Hari ini aku bahagia banget. Aku gak nyangka kalo aku bener-bener jadian sama kamu. Alvin Bratvalino, bintangnya di sekolah ini.
20 mei 2018
Faya
Hari yang membuatku bahagia itu tak bisa bertahan lama, sekitar delapan bulan kami menjalin hubungan, Alvin sudah memutuskan untuk fokus ke sekolahnya. Aku bisa menerima hal itu. Aku mengerti posisi Alvin sebagai bintang sekolah yang banyak dikenal orang. Mungkin sekarang Alvin sudah punya kekasih baru sebagai penggantiku.
Air mata itu menetes tanpa sengaja membasahi halaman buku yang sedang kubuka. Aku tahu ini berat bagiku untuk melepaskan Alvin, tapi sekarang aku punya Reza yang bisa buat aku tertawa tak beralasan. Bel masuk telah berbunyi, aku berdiri dan masuk ke dalam kelas. Lagi-lagi meja syafrani masih kosong, “kemana lagi sih nih anak, bolos mulu tiap hari.” Gerutuku dalam hati. Pagi yang cerah ini diawali dengan mata pelajaran seni budaya pak Kevano. Seperti biasa, kami hanya duduk mendengarkan beliau bercerita ataupun mendongeng. Tidak salah jika diantara kami ada yang tertidur saat pak kevano mengajar.
Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan menuju kantin sendirian. Di tengah perjalanan aku tak sengaja melihat Reza bersama temannya, dia perempuan. Setahuku, Reza tidak pernah bercerita jika dia sedang dekat dengan perempuan. Mungkin dia adalah orang yang Reza maksud selama ini. Yang pernah Reza ceritakan padaku waktu itu. Aku mengurungkan niat untu menghampiri Reza, aku lebih memilih kembali ke kelas dan duduk di tempat favoritku.
“Andai ada yang mau nemanin gue disini, pasti gue gak akan sendirian,” ucapku pelan.
Belum lama dari itu, seseorang telah duduk disampingku. Aku terkejut dibuatnya. Namun aku hanya memperbaiki posisiku.
“Butuh temen, kan?” tanya Erlangga langsung.
Aku menelan ludah, aku pikir hanya khayalanku saja ternyata tidak.
“Udah, Kak. Tadi aku liat kok kak Faya mau ngehampiri Reza, tapi karna dia sama temennya kak Faya mengurungkan, iya kan?” lanjut Erlangga.
Lama-lama nyebelin juga ya nih anak.
“Kak!” Panggilnya.
Aku sedari tadi hanya melamun memikirkan kebetulan yang sedang terjadi.