Why It Is

Fataya
Chapter #8

Chapter 8

 

Hari ini terlihat seperti tidak biasanya. Entah mengapa trotoar terasa renggang saat aku jalan sendirian menuju halte. Reza yang biasanya menemaniku menyusuri trotoar ini sudah tidak lagi ada. Dia sudah punya motor untuk kendaraan ke sekolah. Andai saja Reza masih mau jalan kaki ke halte, pasti aku gak akan kesepian seperti ini. Brruukkk. Lagi-lagi batu itu menghalangiku melangkahkan kaki. Aku terjatuh lagi dan kali ini aku sendiri. Tidak ada Reza yang mau membantuku berdiri. Sudahlah, buat apa aku mengharapkan kehadiran seseorang yang sudah jelas tidak akan ada. Aku berusaha berdiri dari trotoar. Seketika aku melihat seseorang mengulurkan tangannya. Ku raih tangan yang ingin membantuku itu. Saat aku melihat ke arahnya, ”Reza!” Panggilku saat aku sudah berdiri.

“Kak Faya mau pulang bareng aku gak?” tanya Reza.

Aku yang tiba-tiba terdiam langsung menganggukkan kepala spontan. Langsung saja kami berjalan menuju halte. Trotoar ini masih terasa sepi tanpa obrolan dari Reza. Apa aku harus memulainya dulu?

“Za, kamu marah ya sama aku?” tanyaku sedikit takut.

Reza masih tetap berjalan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku hanya bisa menggerutu sedikit kesakitan setelah terjatuh tadi. Setibanya kami di halte hanya tetap terdiam. Tidak ada kata yang bisa memulai pembicaraan kami. Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil angkot menepi. Aku segera masuk ke dalam dan Reza menyusul. Sepertinya Reza memang sedang kecewa denganku, duduk saja dia menjaga jarak tidak seperti biasanya. Tingkah Reza hari ini membuatku termenung di dalam angkot hingga tidak sadar sudah berada di depan rumah. Aku dan Reza segera turun dan membayar ongkosnya. Setelah itu Reza langsung meninggalkanku tanpa ucapan apapun. Reza membuka pintu gerbang rumahnya lalu masuk tanpa menoleh ke arahku sedikit pun. Aku yang sedari tadi berdiri di depan rumah hanya mengamati gerak-gerik Reza. Setelah Reza masuk ke dalam rumahnya, aku pun masuk ke dalam.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 Wib. Aku belum masak hari ini. Terpaksa cacing-cacing yang ada di perutku ini berbuat gaduh. Aku lapar. Aku tidak mungkin makan mie instan lagi. Semalam aku sudah makan itu. Jika setiap hari, kesehatanku akan semakin memburuk. Di tengah lamunanku itu, telepon rumahku bordering. Aku berjalan menuju ruang keluarga, disana telepon rumah di letakkan. Aku mengangkatnya dan ternyata itu tante Fina. Tante Fina mengajakku makan malam di rumahnya, mungkin dia tau jika hari ini aku tidak masak. Tanpa ragu lagi aku bergegas menuju rumah tante Fina sekalian bertemu dengan Reza memperbaiki kesalahanku.

Saat tiba di depan rumah Reza, ternyata Keiza sedang duduk di depan menungguku. Aku langsung menghampirinya.

“Keiza, kamu ngapain di depan rumah?” tanyaku sedikit khawatir.

Lihat selengkapnya