Why It Is

Fataya
Chapter #9

Chapter 9

Pagi ini aku sudah mempersiapkan makan siang untuk kepulangan mama dan papa dari Bali. Aku sudah mengatakan sebelumnya dengan mereka jika aku akan memasak hari ini. Jadi, mereka tidak perlu singgah di restoran atau tempat makan lainnya. Sekitar pukul 13.00, sebuah mobil sudah masuk melewati gerbang. Aku bergegas ke depan rumah menghampiri mama dan papa yang telah pulang dari liburannya. Saat aku membuka pintu, apa yang aku lihat tidak seperti yang aku bayangkan sedari tadi. Aku melihat kondisi mama sedikit buruk dengan balutan perban di tangannya. Aku segera menghampiri dan membantu mama masuk ke dalam. Kami berhenti di ruang tamu dan mama menyandarkan tubuhnya di sofa. Aku membantu mama mencari posisi yang nyaman untuk mama duduk.

“Ma, kenapa mama bisa seperti ini?” tanyaku khawatir.

Mama mengelus kepalaku dengan lembut, “sudahlah, Sayang. Lagipula mama hanya luka sedikit,” ucap mama sambil tersenyum berusaha membuatku tidak khawatir lagi.

Namun baru kali ini aku melihat mama dengan keadaan seperti ini. Biasanya mama selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Ada sedikit yang mengganjal dengan mama.

Tiba-tiba aku teringat dengan papa yang tidak kunjung masuk rumah sedari tadi. Jika hanya membawa koper dan beberapa bingkisan oleh-oleh dari Bali tidak mungkin bisa selama ini. Heran.

“Ma, Papa dimana?” tanyaku.

Belum sempat mama menjawab, aku langsung pergi ke depan rumah. Disana aku tidak melihat papa sama sekali. Aku melihat pintu gerbang yang masih terbuka. Aku berniat untuk menutupnya namun saat aku mendongakkan kepalaku ke arah rumah Reza, aku melihat papa barusaja menutup pintu gerbang rumah Reza seperti habis bertamu di rumah Reza. Aku memilih untuk menunggu papa yang baru pulang dari rumah Reza. Sesampainya papa di depan gerbang, aku langsung memeluknya. Melepas rasa rindu selama seminggu ini terasa setahun. Padahal setiap papa pergi bekerja hanya punya kesempatan pulang seminggu sekali bahkan sebulan sekali.

Aku membantu papa membawa koper dan beberapa bingkisan oleh-oleh masuk ke dalam. Aku meletakkan bingkisan itu diatas meja makan. Lalu kembali ke tempat mama yang masih berada di sofa. Saat itu juga di dekat mama sudah ramai orang. Ternyata saat papa ke rumah Reza tadi untuk mengajak keluarganya datang kerumah. Aku tidak tau apa yang akan papa lakukan. Disini ada tante Fina, Keiza, Reza, mama, aku, dan juga papa. sepertinya akan ada hal penting yang ingin disampaikan oleh papa.

“Terimakasih kepada keluarga Reza yang sudah memenuhi undangan saya barusan. Maaf kalau terlalu mendadak memberitahukan hal ini. Sebenarnya, ada kabar gembira yang ingin saya sampaikan untuk mewakili mama Faya,” ucap papa memulai pembicaraan.

Lihat selengkapnya