Sepulang dari rumah sakit, papa hanya menyarankanku untuk istirahat. Papa tidak ingin jika hal ini terjadi lagi padaku. Aku hanya bisa menghela napas mendengar ucapan itu dari papa.
“Besok kamu berangkat sekolah sama Reza aja, ya. Papa gak mau kamu kenapa-napa di jalan!” ucap papa.
Berangkat sekolah dengan Reza? Aku tidak salah dengar. Apa mungkin ini memang jalannya aku harus dengan Reza bukan Erlangga. Sudahlah aku mau istirahat saja, aku harus siap hati dan mental untuk bertemu Reza.
Faya : Ra, bisa ke rumah, gak?
Aku mengirimkan pesan kepada Syafrani. Namun aku melihatnya masih centang satu. Itu berarti Syafrani sedang tidak online.
Membosankan sekali seharian hanya bisa beristirahat di kamar. Rasanya aku ingin melihat jalan yang ada di depan rumahku. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke balkon. Aku merasakan angin yang sangat sejuk saat pintu itu terbuka. Aku berdiri di balkon dan melihat-lihat jalan serta rumah Reza. Betapa terkejutnya aku saat mataku mengarah ke rumah Reza. Disana aku melihat Reza dan Shera sedang bercanda di halaman depan rumah Reza. Sepertinya mereka akrab sekali. Aku merasa cemburu melihat kedekatan Reza dengan Shera. Seharusnya aku tidak seperti ini. Reza sudah pernah cerita sebelumnya jika ia hatinya sudah terisi. Jadi aku tidak boleh terlalu fanatik terhadapnya. Aku hanya seorang tetangga Reza dan bukan siapa-siapa Reza. Aku harus tahu diri.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Entah mengapa tiba-tiba air mataku ini menetes dengan sendirinya. Aku menghapus air mata itu dan memilih meraih ponselku yang kuletakkan di ranjang. Aku melihat masih belum ada balasan dari Syafrani. Aku berdecak kesal. Apa aku harus menghubungi Erlangga agar aku tidak kesepian. Tidak. Aku tidak ingin merepotkan anak itu lagi. Sudah beberapa kali dia telah membantuku. Aku tidak ingin dia menjadi beban pikiranku yang baru setelah Reza. Melihat Reza dengan Shera saja aku merasa cemburu. Bagaimana jika Reza dan Shera memang punya hubungan. Akan hancur sekali hatiku jika akan begini jadinya. Mengapa pikiranku menjadi kearah sana. Aarrrrggghhh. Aku benci sekali hidup ini. Mengapa setelah aku bisa melupakan Alvin kini aku harus mencintai seseorang yang belum tentu tau akan perasaanku. Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang dengan segala kepasrahan. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan jika ini akan menjadi kenyataan. Di tengah pikiranku yang tidak jelas arahnya itu akhirnya aku terlelap.
Saat aku terbangun, jam yang ada di ponselku sudah menunjukkan pukul 17.30. aku segera mandi dan membereskan kamarku. Setelah itu aku pergi ke dapur berniat membantu mama memasak. Sesampainya aku di dapur, aku melihat dapur sudah dalam kondisi selesai memasak.
“Pasti Mama masak sendiri gak ajak aku,” ucapku dalam hati.