Why It Is

Fataya
Chapter #11

Chapter 11

Aku sudah mempersiapkan diriku untuk pergi ke sekolah. Aku baru ingat jika hari ini aku harus pergi dengan Reza. Terpaksa aku harus menuju rumah Reza untuk berangkat sekolah bersamanya. Namun saat aku berada di depan pintu, papa yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran itu menghentikan langkahku.

“Fay, bukannya kamu pergi sama Reza?” tanya papa.

Aku menelan air ludahku. Dengan nada sedikit takut disertai ragu aku menjawab pertanyaan papa.

“Iya, Pa. ini Faya mau ke rumah Reza!” jawabku.

Papa meletakkan koran itu ke meja. dan berdiri mendekatiku di depan pintu.

“Kamu tunggu aja di rumah, nanti Reza juga kesini,” ucap papa.

Lalu papa pergi ke dalam tanpa menghiraukan lagi keberadaanku.

“Tapi, Pa...” ucapku.

Papa benar-benar tidak menghiraukan ucapanku lagi. Dengan perasaan yang sangat terpaksa aku harus menunggu Reza datang ke rumahku. Aku memutuskan untuk duduk di sofa sembari menunggu Reza datang.

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 06.35, aku yakin jika sebentar lagi Reza akan datang. Karena aku tau kalau Reza itu selalu tepat waktu orangnya.

Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu Reza sambil menggoyang-goyangkan kakiku. Namun Reza belum datang juga. Aku memutuskan untuk pergi sendiri ke sekolah selagi papa masih di dalam dan tidak tau jika aku pergi sendiri. Saat aku keluar rumah, Reza sudah ada di depan gerbang dengan motornya. Dia membunyikan klakson motornya seakan memberi tanda jika dia sudah datang.

Dengan langkah penuh tanda tanya aku berjalan mendekati Reza. Mulutku seakan-akan tak mampu bicara ketika berada tepat di depan Reza. Aku semakin gugup dan perasaanku campur aduk tidak karuan berhadapan dengan Reza. Aku hanya diam mematung berdiri di depan Reza. Sedangkan Reza berusaha berkomunikasi denganku.

“Kak, cepetan naik! Nanti terlambat,” ucap Reza.

Aku hanya berusaha bersikap tenang di depan Reza. Aku naik ke atas motornya dan menggunakan helm yang sudah Reza siapkan. Reza mulai mengemudikan motornya di sepanjang jalan menuju sekolah. Meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Reza. Tapi entah kenapa bibirku tidak sanggup untuk mengatakannya pada Reza. Sepanjang jalan menuju sekolah, aku hanya melamun diatas motor Reza. Tidak ada percakapan diatara kami berdua. Aku memaklumi jika hal itu terjadi. Karena Reza juga harus fokus dengan kemudinya.

Saat aku sadar dari lamunanku itu, ternyata aku dan Reza sudah berada di kawasan sekolah. Reza membawaku ke tempat parkir motor untuk meletakkan motornya itu. Setelah itu aku hanya bisa menunggu Reza di dekat gerbang sekolah setelah melepaskan helm. Aku berharap jika aku bisa bertemu dengan Syafrani. Namun sepertinya itu tidak bisa untuk sekarang karena Reza sudah mengajakku untuk pergi ke kelas. Kami berpisah di dekat lapangan upacara. Aku mempercepat langkahku menuju kelas dan berharap Syafrani sudah datang.

Aku masuk kedalam kelas dengan wajah yang tidak bersahabat. Hanya Syafrani yang bisa aku harapkan untuk saat ini. Aku hanya bisa duduk di bangkuku sambil membolak-balikkan buku. Terdengar seseorang duduk terengah-engah di bangku sebelahku. Saat aku menoleh, aku merasa suatu kejutan. Syafrani. Dia hari ini datang ke sekolah tapi napasnya terengah-engah seperti dikejar sesuatu. Aku memeluk Syafrani dengan erat. Melepaskan rasa rindu sekaligus dengan perasaan yang tidak pasti ini. Syafrani hampir kehabisan napas saat aku memeluknya.

“Fay, lo apaan sih. Erat banget sih pelukan lo. Iya gue tau gue salah. Tapi jangan kayak gini juga, gue susah napasnya,” ucap Syafrani dengan nada terjeda-jeda.

Lihat selengkapnya