Aku sudah siap untuk pergi ke pesta ulang tahun Erlangga. Aku akan pergi bertiga malam ini dengan Reza dan Aldo. Sebelumnya aku sudah minta izin dengan Erlangga untuk membawa mereka dan Erlangga pun mengizinkan. Aku menunggu di sofa sembari membaca majalah. Tak lama kemudian papa pun menghampiriku di sofa.
“Mau kemana malem-malem gini, Fay?” tanya papa lalu duduk di sofa.
“Mau ke acara Erlangga, Pa,” jawabku singkat.
“Sama siapa?” ucap papa mulai mengintrogasiku.
“Sama Reza kok, Pa. papa tenang aja. Eh iya, Aldo udah balik lho Pa, dari Bandung,” ucapku memberitahu papa.
“Aldo anak om Marwan sahabat papa?” tanya papa.
Aku mengangguk. Lalu terdengar seseorang mengetuk pintu rumah sembari mengucapkan salam dan aku pun membukanya.
“Aldo, masuk dulu!” ucapku.
Saat aldo masuk, ia melihat papa yang sedang duduk di sofa dan dia pun mencium tangan papa. sikap sopannya memang seperti itu dari dulu. Papa mengajak Aldo mengobrol sedangkan aku hanya bisa membaca majalah kembali.
“Gimana kabarnya mama sama papa di Bandung?” tanya papa.
“Alhamdulillah, Om. Mama sama papa masih sibuk sama pekerjaannya. Oh iya, ini ada oleh-oleh khusus untuk Om. Kata Papa, Om suka sekali sama ini,” ucap Aldo lalu menyerahkan bingkisan itu.
“Wahh, makasih ya, Do. Papamu itu selalu inget sama kesukaan Om. Padahal udah lama gak ketemu,” ucap papa.
aku melihat Aldo dan papa sedang bercanda. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 19.30. Namun Reza tidak kunjung datang. Aku memutuskan untuk menyusul ke rumah Reza dengan Aldo.
Saat di depan rumah Reza, aku melihatnya barusaja keluar dari rumah. Tanpa basa-basi lagi kami bertiga langsung melaju ke rumah Erlangga. Kali ini Aldo yang mengemudikan mobilnya. Dengn Reza yang duduk di sebelah Aldo dan aku duduk di bangku belakang. Di dalam mobil rasanya sangat sepi jika tidak ada candaan dari Aldo.
“Fay, kok lo diem aja, sih. Kenalin napa sama cowok di samping gue nih,” ucap Aldo yang kembali fokus pada kemudinya.
Aku baru sadar kalau Aldo dan Reza belum saling mengenal. Aku pikir keduanya sudah saling mengenal tanpa sepengetahuanku.
“Oh iya, Do. Kenalin ini Reza, dia itu selalu ada buat aku dan dia juga yang gantiin kamu kalau pengen ketawa,” ucapku seakan membanggakan Reza.