Why It Is

Fataya
Chapter #13

Chapter 13

Aku dan Aldo sudah duduk di taman saat pulang sekolah. Aku menarik napas panjang sebelum menceritakan semuanya kepada Aldo. Sebelum itu, Aldo tiba-tiba pergi entah kemana dan saat kembali membawa dua buah es krim di tangannya.

“Nih, makan dulu es krimnya, biar lo bisa rileks pas cerita,” ucap Aldo sambil menyodorkan es krim.

Aldo memang selalu bisa membaca situasi hatiku dalam keadaan apapun. Es krim adalah salah satu favoritku sejak kecil. Hampir setiap hari aldo membelikanku es krim saat pulang sekolah dengannya. Aldo juga tidak pernah lupa dengan es krim yang biasanya kumakan.

“Apaan sih, do,” ucapku.

Aku terkejut saat Aldo membersihkan sisa es krim yang ada di sekitaran bibirku. Padahal dulunya Aldo udah biasa melakukan hal ini padaku. Aku saja sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri karena selalu melindungiku disaat apapun.

“Do, sebenarnya…”

“Lo itu suka sama Reza tapi lo gak berani bilang,” ucap Aldo spontan.

Wajahku berubah ketika Aldo mengatakan hal itu. Padahal aku barusaja ingin memulai ceritaku, namun Aldo sudah menebak dulu inti ceritaku. Tapi mengapa Aldo bisa mengatakan itu sedangkan aku belum menceritakannya sama sekali.

“Lo gak usah heran kalo gue sebenarnya tau apa yang mau lo ceritain. Gue ini bukan orang yang lo kenal kemarin sore, gue ini udah kenal sama lo dari kecil. Jadi, bagaimanapun ekspresi lo, gue bisa baca dan pahami,” lanjut Aldo.

Aku hanya terdiam setelah mendengar perkataan Aldo barusan. Sepertinya aku tidak perlu ceirta lagi sama Aldo karna dia juga sudah tau duduk permasalahannya. Semoga saja tentang Reza dia tidak akan bertanya lagi. Tapi apa mungkin Aldo akan menanyakan Erlangga? Bagaimana aku bisa mengenalnya dan atau yang lainnya. Pikiranku kembali tidak fokus saat Aldo sudah tau tentang Reza. Aku hanya bisa diam dan menunduk seperti yang biasa aku lakukan saat merasa tidak ada lagi harapan.

“Terus, kenapa waktu di rumah Erlangga, lo takut banget kalo yang disebut Erlangga waktu itu bukan lo?” Aldo kembali melemparkan pertanyaannya.

Aku kembali berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Aldo. Apa mungkin aku harus jujur lagi sama Aldo kalau Erlangga sebenarnya ingin dekat denganku. Apa Aldo akan percaya denganku. Aarrrggghhhhhhhhhh. Kenapa semuanya sekarang menjadi rumit.

“Do, Erlangga itu... Aku cuma anggap teman aja kok, gak lebih. Ya cuma waktu itu aku hampir telat aja ke sekolah terus Erlangga nawarin buat bareng sama dia. Ya aku terima aja daripada aku telat ke sekolahnya. Do, jangan marah, ya?” jelasku sedikit merasa bersalah.

Aku melihat Aldo yang sedang tersenyum. Sepertinya Aldo akan mengerti apa yang aku lakukan. Aku melihat hari sudah semakin sore, aku berusaha membujuk Aldo untuk pulang. Untung saja Aldo mau diajak pulang, kalau tidak pasti dia akan bertanya lagi dan lagi. Aku tidak bisa membohongi Aldo meskipun aku tau semuanya akan terasa sakit.

“Do, makasih ya udah nganterin sampe rumah,” ucapku.

Lalu aku melihat Aldo mengemudikan lagi mobilnya dan lenyap dari pandanganku. Aku masuk ke dalam rumah dan kudapati papa sedang membaca majalah di sofa.

“Pulang sama siapa, Fay?” tanya papa yang tau akan kepulanganku.

“Sama Aldo, Pa,” jawabku singkat.

Papa menutup majalahnya dan memperbaiki posisi duduknya.

“Reza kemana?”

“Hhmmm…. Reza…., tadi Faya lupa pulang sama Reza, Pa. soalnya Faya ada urusan sama Aldo,” ucapku lalu menggigit bibir bawah.

Ini bisa menjadi bencana besar kalau sampe papa marah. Aku gak bisa dengar papa marah kalau sudah begini. Ingin sekali aku pergi ke kamar, tapi tatapan papa membuatku beku tidak bisa bergerak.

Lihat selengkapnya